Lingon Togutil eps 43

Posted on 24 September 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 43

            “Jangu menghadang aku di pantai, mencegah aku kembali ke rumah. Dia membujuk dan memaksa aku ikut dengan dia ke Tobelo menjadi isterinya. Kuingatkan dia bahwa aku isteri Kalai. Tetapi dia memaksa. Pantai sunyi, aku tak berdaya. Sebelum dia menyentuh aku, Tetetua muncul bagai malaikat penolong. Saat itu aku belum kenal Tetetua. Lalu Tetetua memukul Jangu dengan tongkatnya, berkali-kali, membuat laki-laki itu merayap di tanah dan menangis. Tete benarkah ceritaku?” Karin menoleh ke Amtak Calanco.

            Amtak Calanco tertawa, masih dengan tabung saguer di tangan. “Benar, dia hendak melawan, tetapi tenaganya telah kukunci. Mana  mungkin dia melawan Calanco.  Kupukul dengan tongkat, berulang-ulang sampai dia merayap minta ampun dan menangis. Lalu kuusir dengan menyepak pantatnya. Dia lari terbirit-birit.... hi... hi...tet

            Jangu diam, badannya gemetar, parasnya pucat. Ingin dia lari menyembunyikan diri saking malunya. Tak pernah dia sangka orangtua itu masih hidup.

            Semua orang terdiam. Sebagian tidak percaya karena tahu Jangu seorang petarung ulung, tetapi melihat Jangu diam tidak membantah, mereka mulai percaya. Dan mereka yang permah mendengar kehebatan Amtak Calanco percaya kejadian itu.

            Orang-orang menatap Karin dengan berbagai ragam pikiran. Lalu wanita Lingon yang cantik itu melanjutkan penuturan.

            “Banyak petarung Lingon melamar, tetapi aku tidak tertarik. Takdir pertemukan aku dengan Kalai pada saat aku dikejar petarung Lingon yang hendak memerkosa dan membunuhku. Sejak itu aku mencintai Kalai, cintaku makin hari makin besar, ibarat anak panah yang lepas dari busur tak mungkin ditarik kembali, aku mencinta hanya satu kali dan untuk selamanya. Cintaku membelenggu suamiku, aku tidak percaya sedikitpun Kalai meniduri Ramebete. Lima hari lebih, aku dan Kalai hanya berdua dalam hutan, tidur bersama di gubuk darurat, aku ketakutan dan minta dipeluk. Kalai bisa menahan diri, tak pernah merayu, tak pernah  meniduri aku, padahal dia selalu terangsang jika berada di dekatku. Itu sebab aku tidak percaya dia berzina dengan Ramebete.” Tutur Karin suaranya sarat emosi.

            Karin tersipu malu. “Suamiku laki-laki sejati, aku menikahi Kalai dalam keadaan perawan. Kami menikah di Watam, dinikahkan imam masjid Haji Mansur, kepala kampung Burhan dan kepala adat Haji Kamis. Suamiku jantan tulen, dan laki-laki sejati, dia tidak akan berpaling kepada wanita lain, aku tahu dia hanya cinta kepadaku.

            Mabungkas manggut-manggut, kagum akan wanita Lingon itu.

 “Karin tidak saja cantik dan setia kepada suaminya, dia memiliki pribadi menarik. Tidak heran Amtak Calanco sayang padanya. Kalai beruntung memilikinya sebagai isteri.”  Mabungkas menyukai Karin karenanya membiarkan wanita bermata biru itu mencurahkan isi hati di depan umum. Dia merasa Jangu pantas dipermalukan.

Karin belum selesai. Dia menuding Tofor.

“Tofor, maju dan bersumpah, bahwa kamu bicara semata-mata ingin mencari keadilan dan kebenaran, bukan sebab membenci Kalai dan Ramebete. Maju bersumpah, ingin kulihat kamu lelaki sejati atau pengecut bermulut besar.”

Tofor terpaku di tempat, wajahnya pucat, saking malu. Dia tak punya keberanian maju bersumpah. Dia memilih diam.

Karin berkata dengan suara lantang. “Kepada Jangu, Tofor juga Dubudeng atau siapa saja, jika kalian dendam dan sakit hati kepadaku, silahkan pilih lawan dari empat lelaki pelindungku. Suamiku Kalai, Ayah Kipatoma, paman Korako dan  paman Gamcako. Atau berani melawan teteku Amtak Calanco..... ha... ha... ha...”

Semua diam. Tak ada yang menerima tantangan Karin.

Kipatoma, Korako dan Gamcako tersenyum. “Menantu kita sungguh cerdas dan pemberani.” Bisik Korako.

“Aku sendiri heran dan takjub, pertama mengenalnya dia penakut dan manja. Selalu berlindung kepada suaminya.” Tukas Kipatoma tersenyum.

“Ternyata Tofor seorang pengecut bermulut besar.” Karin kembali duduk di sisi suaminya. “Aku puas mempermalukan mereka!” Bisiknya kepada Kalai.

Mabungkas berunding dengan para tetua. Tak lama kemudian dia melangkah menuju kelompok Kalai dan Ramebete. Agak lama dia bercakap-cakap dengan Seruni dan Maisani. Dua wanita ini kemudian mengangguk dan memaksa Kalai dan Ramebete mengikuti aturan Borfakalak.

“Tuntutan Jangu dan Tofor akan diselesaikan oleh Kalai dan Ramebete dengan bersumpah mereka tidak melakukan zina.” Kata Mabungkas.

Ramebete maju mendekat meja tempat Al-Quran. Suaranya tegas saat mengucap sumpah sambil memegang kitab suci. Kemudian dia menoleh memandang Dubudeng, Jangu dan Tofor. Air mata membasahi pipinya. “Kalian bertiga mempermalukan aku, padahal aku tidak melakukan kesalahan kepada kalian, kepada ibu kalian maupun kerabat kalian. Kamu tega menginjak-injak martabatku. Aku bersumpah atas nama Allah dan kitab suci bahwa aku tidak berzina dengan Kalai, aku akan menjalankan iddah, jika kelak aku hamil dan melahirkan, ketahuilah anak ini adalah anak Ragota, Allah sebagai saksi, Dia Maha Tahu dan Maha Melihat.”

Kalai maju dan mengucap sumpah. “Allah saksiku, aku bersumpah dengan  nama Allah dan kitab suci bahwa aku tidak berzina dengan Ramebete. Hati dan cintaku ini milik Karin, tidak ada ruang bagi wanita lain. Lagipula ketika di lembah Mitmutum luka di perutku sangat parah, aku bersyukur bisa menahan racun dengan ramuan darurat selama satu bulan, sungguh keajaiban. Luka itu membuat aku tak mungkin meniduri Ramebete. Sousoulol, ayah dan dua pamanku, Ramebete dan juga isteriku menyaksikan lukaku. Dalam perjalanan pulang, Karin dan Sousoulol telah menyembuhkan lukaku, kini aku sembuh tapi belum pulih sediakala. Adapun persoalan Jangu mengganggu isteriku, kali ini kumaafkan karena Karin memaafkan musuhnya.” Kalai menuding Jangu. “Sekali lagi kamu menggoda isteriku, aku bersumpah akan membunuh kamu.”

Mabungkas berunding dengan para tetua. Semua sepakat borfakalak telah selesai dengan memuaskan. “Silahkan kapitan adat menutup borfakalak.” Tegas Tutumole.

            “Perkara ini telah selesai, hasilnya terang benderang. Pembunuh Ragota dan Tude adalah Tabale. Penculik Ramebete adalah Tabale. Kalai dan Ramebete tidak bersalah dan tidak berzina. Ada yang mau menyangkal keputusan ini?”

            Tidak ada tanggapan.

Seperti pembukaan, borfakalak ditutup dengan bacaan ayat-ayat Al-Quran oleh Mina dan doa ustad Harun.

            Sebelum warga pulang, kepala kampung Karapu mengangkat tangan.         

            “Perkara ini sangat sulit, tadinya aku khawatir timbul keributan atau pertumpahan darah, syukurlah tidak terjadi. Aku puas, borfakalak selesai dengan hasil memuaskan. Aku bangga pada kapitan adat dan Sousoulol. Aku berterimakasih kepada Kalai dan Karin yang telah menyelamatkan Ramebete, juga kepada sahabatku Kipatoma dan isterinya serta dua teman baruku Korako dan Gamcako. Perlu aku umumkan rumahku yang sementara ini ditempati keluarga Kalai, pada hari ini kuberikan kepada Kalai dan Karin.” Karapu menoleh memandang Kalai. “Rumah itu menjadi hak milikmu.”

            Kalai menyuruh Karin bicara. “Pak Karapu, aku dan suamiku berterimakasih atas pemberian itu, tetapi kami telah sepakat akan menetap di kampung ibu Mai.”

            “Tidak apa. Rumah itu milik kalian suami isteri.” Tutur Karapu. “Suatu hari kalian atau keluarga kalian pesiar ke Waijoi, rumah itu tempat tinggalmu, milikmu.”

            Karin menyandar di lengan suaminya. “Lai, aku tak mau tinggal di Waijoi, aku mau menetap di Tutua, rumah sendiri, aku mau melahirkan di rumah sendiri, dekat ibu dan keluarga ibu.”

            “Tampaknya kau betah tinggal di Tutua.”

            “Aku bahagia jika berada di sisimu, lebih lengkap bahagiaku jika menetap di Tutua, dekat ibu.” Bisik Karin. “Lai satu hal penting permintaanku.”

            “Apa itu?”

“Kamu tak boleh ronda malam lagi! Kalau terpaksa ronda, akan kutemani.”

Tamat


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com