Cinta 100 Juta Dolar

Posted on 04 Desember 2017 ( 0 comments )


“Cinta 100 Juta Dolar”

Novel fiktif original by John Halmahera (rewrite 2017)

Pernah dipublish sebagai cerbung di harian Republika

dengan judul “Lelaki Diatas Ring” (1993) by John Halmahera

Nama orang dan tempat tak ada hubungan dengan siapapun

 

Episode 1

Bangkok Jakarta

Sebelum masuk ruang tunggu Salina Puspakencana memperoleh informasi penerbangan Bangkok Jakarta penuh. Tidak ada seat kosong. Pasti akan terjadi antrean panjang dalam kabin. Ini membosankan. Gumamnya.

            Dia berlaku cerdik. Berakting sakit dia minta kemudahan boarding kesempatan pertama. Lelaki petugas merasa simpati, memberinya tanda first boarding.

            Beberapa saat kemudian Salina melenggang masuk kabin tanpa harus mengantri. Dengan mudah dia menemukan seat-nya di bagian tengah pesawat dekat jendela. Setelah menaruh koper dan tas laptop di bagasi-kabin, dia duduk nyaman di kursinya.

            Dua kursi di sebelahnya masih kosong. Dia berharap tetangganya bukan laki-laki usil. Syukur-syukur kalau wanita. “Bosan basa-basi berlaku sopan menjawab pertanyaan para lelaki yang buntutnya mengajak kenal dan minta nomor hape.” Katanya dalam hati.

            Tidak lama setelah dia duduk para penumpang mulai berdesakan. Antri menemukan seat masing-masing. Sekelompok penumpang memasuki kabin sambil ngobrol dengan suara keras. Sesaat kabin seperti pasar, ramai dan bising. Bahasa Indonesia dengan logat campuran Melayu Maluku. Semuanya lelaki berkulit agak gelap, ciri orang kawasan Indonesia Timur. Tiga wanita nyelip dalam kelompok yang jumlahnya belasan orang. 

            Tanpa sadar Salina mengeluh. Satu per satu rombongan mengambil seat di sekitarnya. “Celaka, pemilik dua kursi ini tampaknya laki-laki, semoga bukan yang usil.”

Salina memerhatikan antrean penumpang. Lalu matanya terpaku pada sosok lelaki  yang mengenakan hoodie, sebagian wajahnya tersembunyi. Hoodie warna abu-abu dan tampak longgar itu tak bisa menyembunyikan tubuhnya yang tebal dan kekar. Lelaki itu mengangkat tas jinjing menempatkan ke kabin tempat Salina menyimpan tas. Dia mendorong dengan bertenaga. Gerakannya agak kasar.

“Hei Bung, pelan-pelan, itu tas laptop.” Suara Salina agak tinggi.

Laki-laki itu menatap.

Salina terkesiap, sepasang mata itu bening dan tajam. Sekilas tampak bulu mata dan alisnya yang tebal. Tanpa sadar darah mengalir di wajah Salina seiring dadanya berdebar. Tatapan lelaki itu bagaikan mata harimau, tajam buas dan liar seakan siap memangsa.

“Yang mana, yang kecil?” Suaranya agak parau.

Kini Salina bergidik, agak takut. “Iya yang kecil.”

“Oh nona, aku minta maaf. Tas laptop nona sebaiknya dipangku, lebih aman dan terhindar dari guncangan.” Suara lelaki itu serak dan berat.

Sebelum Salina menyahut, lelaki itu menyodorkan tas laptopnya. Tampak tas itu ringan di tangan kekar si lelaki.

“Terimakasih nona.” Ujar lelaki itu.

Bagaikan kena sihir Salina hanya mengangguk dan berkata lirih.

“Sama-sama.” Dia menerima tasnya lalu meletakkan di pangkuan.

Laki-laki itu kemudian duduk di barisan  yang sama namun dipisahkan oleh lorong.

Salina menoleh, tanpa sadar menatapnya. Saat yang sama lelaki itu memandangnya. Dua pasang mata bertatapan. Jantung Salina kembali berdebar, bergumam dalam hati.  “Dia bengis dan kejam, kalau di film agaknya dia cocok memerankan pembunuh. Huuuuhhh....”

Lelaki itu tersenyum sambil menunjuk  tempat bagasi diatasnya. “Di sini masih ada ruang kosong tetapi lebih praktis di situ. Mudah mengambilnya.” Katanya.

Bagaikan dihipnotis Salina menyahut spontan. “Iya tetapi tasmu menggusur tasku.”

Lelaki itu tersenyum. “Kamu tidak marah? Maafkan saya, sekali lagi maaf.”

Tanpa sadar Salina mengangguk lalu membuang muka menatap keluar jendela. Tampak kesibukan di apron, namun pikirannya masih membayang wajah keras lelaki tadi. “Lelaki itu kasar, pasti lebih kejam dibanding Baskoro. Ah persetan dengan lelaki. Mereka semua penindas dan penipu, suka mempermainkan wanita.” Detik berikutnya dia meralat pikirannya. ”Tetapi dia tampak macho. Dia kasar tetapi bicaranya sopan.”

Seorang lelaki dari rombongan mengangkat tas, menjejalkan ke dalam kabin bagasi di atas kepala si lelaki yang mengenakan hoodie.

“Celaka, tetanggaku laki-laki.” Gumam Salina agak kesal.

Terdengar suara wanita. “Terimakasih Parman.”

“Yes senora.” Lelaki bernama Parman melangkah ke kursi bagian belakang Salina.

Seorang wanita, tampaknya peranakan Amerika Latin mungkin juga Spanyol, duduk di kursi tengah dekat Salina. Dia menghenyak pantatnya dan melepas nafas lega.

“Sorry, mengganggu Anda.” Kata wanita Latin sambil memandang ramah.

Salina menoleh. Dia merasa lega. “Tidak mengapa, aku tidak terganggu.” Sekilas memandang wanita itu Salina menebak usianya empatpuluhan.

Seorang lelaki separuh baya, kekar dan tinggi menempati kursi kosong dekat wanita latin tadi. Tampangnya juga peranakan latin. Dia membawa tas laptop, membungkuk dan menyimpan di kolong kursi depan.

Salina meniru, menyimpan tas laptopnya di kolong kursi depan. Dia kemudian memejam mata, berusaha tidur. Dia selalu menikmati awal keberangkatan  saat take-off sampai keadaan burung besi itu stabil di angkasa.

Matanya terpejam namun pikirannya sadar mengikuti proses pesawat mengudara. Dia memeta kembali paras lelaki itu. Tidak tampan tetapi enak dipandang.

Parasnya oval agak bulat, hidung agak lebar, tulang pipi agak menonjol, mulut lebar dengan sepasang bibir tebal. Matanya merupakan bagian paling menarik. Alis dan bulu mata tebal. Matanya bening tajam. Dia berusaha membuang pikirannya tentang lelaki itu, menikmati proses pesawat menembus awan.

Tidak lama kemudian saat pesawat stabil di ketinggian, dia tertidur. Pulas.

Belasan menit pulas Salina terjaga oleh suara aktifitas sekitarnya. Dia membuka mata dan melihat kotak kecil di atas mejanya.

“Anda tidur pulas, jadi saya pilihkan buat anda, lauknya ayam, suka ayam? Kalau tidak suka boleh tukar dengan pilihan saya, ikan.”

“Terimakasih, saya suka ayam.” Sahut Salina.

“Nona berbahasa Indonesia, asli Indonesia?” Wanita itu menyapa.

Salina tertawa dalam hati. Seringkali dia dikira bukan orang Indonesia, mungkin karena kulitnya yang putih singkong. “Yah aku asli Indonesia.”

“Indo, peranakan?” Wanita itu penasaran.

Salina tersenyum. “Iya. Bapak orang Jawa, ibu asal Turki.”

Si[1]. Tidak salah taksiranku. Kamu cantik.” Wanita itu memperkenalkan diri. “Aku Marbella, biasa dipanggil Bella, asli Venezuela. Ini suamiku Jose Pacheco[2].”

Salina menyambut uluran tangan Marbella dan suaminya. “Salina. Panggil saja Sali.”

“Kamu liburan di Thailand, berapa hari?”

“Nginap di Bangkok tiga malam.”

“Oh ….” Bisik Marbella.

Saat berikut mereka ngobrol sambil menikmati makanan.

“Kamu nginap di hotel Stars?” Salina bertanya namun suaranya lebih memasti.

“Iya, bagaimana kamu bisa tahu?”

“Tadi malam aku lewat di musik-lounge hotel. Kamu dansa tango dengan suamimu, kalian sangat mahir. Barangkali guru dansa?”

No. Aku bukan guru. Hampir semua orang Latin suka dansa, tango, salsa, samba. Dansa itu sehat, membuat tubuh tetap bugar, jiwa dan pikiran hidup. Itu juga salah satu konsep hidup positif, kamu suka dansa, Sali?”

Salina tersenyum. “Aku suka tari tradisional. Asli Indonesia. Kalau tango, salsa, aku suka nonton, aku bisa dansanya tetapi tidak semahir kamu.”

“Tari Bali?”

“Iya tari Bali, tetapi favoritku tari daerah Jawa.”

“Sekarang masih menari?”

“Hampir tiga tahun tidak pernah menari, tetapi sekali-sekali latihan di rumah.”

“Kamu tinggal di Jakarta?”

Salina mengangguk. “Rumahku di Jakarta. Di Tebet.”

“Seharusnya kamu ikut meramaikan dansa, meskipun hanya nonton.”

Salina diam sesaat. “Memang timbul keinginanku, tetapi sayang ada yang harus kukerjakan.” Teringat tadi malam dia berkemas, menulis artikel dan mengirim email. Dia sibuk di kamarnya, hampir tengah malam baru selesai.

Hening beberapa saat.

Marbella memecah keheningan. “Kamu masih single?”

“Yah .. masih single…”

“Kamu pasti telah menolak banyak lelaki.”

Salina menatap tajam wanita Venezuela itu. Tatapan penuh tandatanya.

Pujian tulus meluncur dari mulut Marbella. “Kamu sangat cantik, juga menarik, kupikir banyak laki-laki menyukaimu. Tetapi kamu belum memilih.” Tuturnya. Matanya menyelidik mimik Salina macam detektif yang mencurigai mangsanya.

Beberapa saat Salina diam. Pikirannya melayang ke masa lalu.

Dua tahun lamanya pacaran dengan Baskoro. Lantas mendadak tanpa alasan atau basa-basi lelaki itu memutus hubungan. Baskoro terpikat artis cantik. Salina memandang gumpalan awan putih di luar jendela. Dia mendesah, melepas nafas dari mulutnya.

“Apakah aku salah bicara? Kamu tersinggung?”

“Tidak. Kupikir, aku kurang beruntung dalam perjodohan.”

Tangan kiri Marbella memegang tangan kanan Salina. “Kamu pasti akan temukan jodohmu, laki-laki yang pantas menjadi suamimu. Memang seharusnya demikian, teliti, tidak sembarangan memilih lelaki.”

“Bagaimana kamu memilih lelaki yang menjadi suamimu?”

“Pertama, feeling. Dia menghargai kamu sebagai wanita, dia membuat kamu merasa berharga, kamu merasa dia mencintaimu, cinta yang sungguh-sungguh lalu kamu yakin kamu juga mencintainya. Kedua, gunakan akal sehat, dia harus punya pekerjaan dan masa depan yang sanggup membiayai keluarga. Tidak perlu kaya. Jaman sekarang, cinta saja tidak cukup karena manusia butuh sandang dan pangan.”

“Kamu punya anak?” Salina mengalih pembicaraan.

“Lima. Tertua seorang gadis usianya duapuluh tujuh, kemudian tiga lelaki dan paling kecil gadis remaja usia limabelas. Tiga cowok, dua cewek.” Bahasa Indonesianya cukup lancar meskipun aksen latin masih kentara.

“Kamu tampak muda.”

“Aku kawin usia duapuluh. Sekarang empatpuluh sembilan, hampir separuh abad.”

“But you look younger, say about thirty-something or forty…”[3]

“Coz I’m happy, that is living with tango and salsa…”[4] Marbella tertawa.

Salina tertawa.

“And boxing,” Jose Pacheco nyeletuk.

Marbella masih tertawa renyah. “Yeah and boxing…”[5]

“Ohh.. Anda suka tinju.”

“Aku manajer dari petinju Kid Salasa, juara dunia kelas welter. Suamiku, Hose[6], pelatihnya. Kami rombongan limabelas orang. Sabtu kemarin Kid Salasa mempertahankan gelarnya.

“Aku ikuti berita itu. Aku membeli beberapa koran karena tertarik berita itu.”

“Kamu nonton pertarungannya?”

Salina menggeleng perlahan. “Tidak. Tapi berita seperti itu tak boleh luput, seorang petinju Indonesia menjadi juara dunia. Itu hebat.”

“Kamu Jurnalis?”

“Yah.”&l


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com