Cinta 100 Juta Dolar

Posted on 04 Desember 2017 ( 0 comments )


Episode 2

Marbella tersenyum, memegang tangan Salina. “Beberapa jurnalis atau penulis yang kusebut namanya, Kid menolak. Katanya, ingin penulisnya seorang wanita. Aku tanya why, katanya dia keberatan bertatap dan dialog dengan laki-laki, boring[1]. Tapi kalau wanita, akan lebih santai. How about you? You want this job?[2]

Sesaat berpikir, Salina tersenyum. Ini peluang. Tidak perlu malu-malu katanya dalam hati. “Jujur saja Bella, aku tertarik tetapi tergantung honor dan fasilitas yang kudapatkan.”

“Kami sedang menuju gelar dunia lainnya. Kid juara dabel-yu-bi-si dan dabel-yu-bi-ou[3]. Sekarang sedang proses  big fight[4] Kid Salasa melawan juara dabel-yu-bi-ei[5]…….”

Christopher The Truck.”

“Oh kamu sudah tahu?” Marbella kagum.

Salina mengangguk. “Kemarin aku baca beberapa artikel tentang Kid. Aku juga membaca tantangan Christopher the truck kepada Kid, tantangan keras dan menghina.”

“Petinju bule itu mencari sensasi. Tetapi tantangannya memancing amarah Kid.”

“Pertarungan Kid lawan Christopher disebut sebagai big fight.”

“Yah itu pertarungan yang ditunggu-tunggu publik tinju. Jika kamu menulis biografi Kid dan dia mengalahkan Christopher, pasti bukumu akan laris. Tetapi apakah mungkin bisa cepat terbit dan beredar?”

“Tehnisnya pasti bisa. Satu minggu setelah pertarungan bukunya akan beredar. Semua ditulis jauh hari sebelumnya, bagian terakhir selesai satu atau dua hari setelah pertarungan. Jadi selesai cetak sekitar lima hari setelah pertarungan.”

Salina termenung. Sekilas muncul ideanya. “Wawancara dengan orang-orang terdekat, menyaksikan latihan, memancing komentarnya yang eksklusif, banyak sisi menarik dari seorang juara dunia, klimaks bukunya tentu saja pertarungan lawan the truck, suasana hiruk pikuk supporter…..”

Lamunannya terputus, Bella menyenggol lengannya. “Kamu melamun apa?”

“Ah tidak, sekilas tadi kupikir buku itu bakal menarik pembaca, karena yang kutulis adalah seorang juara dunia.”

“Aku ingin kamu ceritakan juga orang-orang sekitar Kid, terutama Pacheco sebagai pelatih dan aku sebagai manajernya, itu harus masuk dalam penulisanmu.”

Salina tertawa. “Tidak sulit Bella. Kamu punya sisi yang menarik, terutama tango dan salsa. Jarang ada wanita berkecimpung atau menjadi manager seorang petinju.”

“Oh nona manis, aku serius.”

“Aku juga serius. Aku akan menulis tentang hobimu tango, untuk kebugaran juga keintiman, apakah Kid bisa tango?”

“No. Dia tidak mahir tango. Tetapi salsa dia suka. Bagus buat petinju.”

Apa hubungan dan manfaat salsa dengan tinju?”

“Gerakan pinggul dan pangkal paha, dan kekuatan kaki. Pukulan bisa lebih keras karena kepegasan gerak pinggul apabila memutar sambil memukul. Gerak kaki lebih lincah.”

Dance like a butterfly[6] kata Ali.” Ujar Salina tertawa.

“Yah, untuk kelincahan memukul jab. Stink like a bee.[7]Marbella diam sesaat kemudian melanjutkan. “Ayo kukenalkan dengan Kid Salasa.”

Dia bisik-bisik dengan suaminya. Saat berikut Pacheco berdiri menghampiri Kid, berbisik. “Kamu pindah ke kursiku, kenalan dengan jurnalis cantik itu.”

      Kid berdiri, menghampiri kursi kosong Pacheco. Duduk disamping Marbella. Dia menyodorkan tangan sambil menyebut namanya. “Yalas….”

      Salina merasa tapak tangan yang kasar, kekar dan hangat.

      “Namaku Salina, panggil Sali…”

      “Sali…, nama yang bagus. Kamu wartawati bidang apa? Politik?”

      “Bidang apa saja sesuai perintah atasan.”

      “Juga menulis olahraga?”

      “Bisa juga. Semua berita tentang peristiwa atau manusia punya daya tarik tersendiri, tergantung penulisnya mau bercerita dari aspek yang mana. Olahraga juga menarik, aku sering nonton sepakbola, volleyball, basket, terutama senam dan olimpiade dansa.”

      “Kamu tidak menyebut tinju, kamu suka tinju?”

      Salina tertawa. “Kalau jadi petinju jelas aku tidak berbakat, tetapi kalau nonton atau menulis tentang tinju bisa saja.”

      Marbella yang duduk di antara dua orang muda itu menengahi. Dia memegang tangan Kid. “Tadi aku berbincang dengan Sali, menjajagi kemungkinan dia menulis biografimu.”

      Kid menatap mata Salina. Dia tersenyum, “ide biografi itu adalah idenya Bella, aku menurut saja. Benarkah kamu mau jadi penulisnya?”

      Salina mengangguk, tersenyum. “Laki-laki ini menarik. Melihat caranya komunikasi akan mempermudah wawancara.”

      Salina menyahut, tegas. “Yah aku mau.”

      “Maaf Sali, aku senang berkenalan dengan kamu. Tetapi aku minta maaf, kepalaku pening, sebaiknya aku kembali ke kursiku, mau tiduran… Sekali lagi aku mohon maaf…” Kid Salasa berdiri. Pada saat yang sama Pacheco berdiri. Keduanya bertukar tempat.

      Sesaat tersinggung, tetapi mendengar pernyataan maaf yang terakhir, Salina bisa mengerti. “Oh tidak apa-apa, silahkan tiduran…”

      Marbella menoleh dan berbisik. “Dia takut terbang, selalu mau tidur..”

      Salina tersenyum. “Aneh, petinju yang tidak takut dipukul bisa takut ketinggian..?”

      “Kamu bawa kamera?” Pertanyaan Marbella mendadak.

      “Bawa.”

      Come kamu foto kita semua.” Tegas Marbella. Lalu dia menyapa suaminya dan Kid Salasa. “Kid, jangan tidur dulu, kita foto-foto untuk dokumentasi.”

      Sementara Marbella mengumumkan kepada rombongan, Salina persiapkan kameranya.

      Salina mengabadikan Kid Salasa bersama beberapa crew. Lalu Marbella mendorong Salina duduk di tangan kursi berdampingan dengan Kid yang berdiri disampingnya.

      “Aku foto kamu berdua, wartawati dan sang juara.” Marbella tertawa.       

      Episode pemotretan selesai. Semua kembali ke kursi.

      Salina menoleh, melihat Kid Salasa yang memejam mata.

      “Kid masih capek dua hari lalu bertarung keras…” Ujar Marbella.

      “Menang knock-out iya?”

      “Ronde delapan.” Tukas Marbella. “Kembali ke biografi Kid, kamu mau?”

      “Mau. Tetapi aku butuh banyak referensi. Aku tidak pernah nonton dia bertarung, akan sulit menulisnya.”

      “Aku punya kaset rekamannya.” Bella menambahkan. “Selain pertarungan di atas ring, banyak yang menarik dari kehidupan sehari-hari seputar tinju, asal-usulnya, filosofinya, orang-orang sekitar termasuk aku dan suamiku. Guru spiritualnya, ibunya, adiknya, keluarganya serta orang-orang yang mendukungnya.”

      Salina termenung, memikirkan idea cemerlang itu.

“Aku tidak menguasai tinju.”

“Ada internet, ada aku, kamu akan mendapatkan informasi yang kamu butuhkan.” Dia berhenti sesaat.  “Putriku persis kamu, usia, gaya serta tampangnya.”

“Apakah aku mirip gadis Venezuela?”

“Kau mirip putriku, lihat fotonya. Cuma kulitmu lebih putih.” Marbella membuka dompetnya, memperlihatkan foto.

Salina terkesiap, senang, seperti melihat foto diri sendiri.

“Dimana dia sekarang?”

“Los Angeles, dia bekerja di paramount pictures.”

“Artis? Oh aku bisa jadi artis juga iya?”

“No, dia salah seorang staff unit costume designer.

Salina tersenyum.

“Kalau kamu sudah bulat mau nulis biografi Kid, hubungi aku.”

“Kita perlu bicarakan detailnya. Nantinya dalam bentuk kontrak.”

“Bagus. Nanti kita bicarakan.”

Mereka saling tukar kartu nama.

Marbella memaksa Salina mengikuti rombongan ke hotel transit di bandara. Menteri Olahraga dan Menteri Pariwisata menyelenggarakan penyambutan. Meriah. Pemerintah memberi hadiah uang.

            Banyak wartawan hadir, media cetak dan elektronik. Salina  mengabadikan beberapa adegan. Tanya-jawab wartawan dengan Kid Salasa diselingi bahasa Inggeris untuk wartawan asing. Dan Salina takjub mendengar fasihnya Kid berbahasa Inggeris dan lancar menjawab pertanyaan wartawan.

            “Ternyata dia terpelajar, intelek….” Gumam Salina.

            Kid menjawab pertanyaan wartawan perihal tantangan Christopher the truck yang diucap sesaat mengalahkan lawannya Sabtu kemarin.

“Tell him to come Jakarta, come to papa and I give you hell. Nobody can beat me here in my home, this is showdown between you and me, do not talk! Let the punches do the talk.”[8] Tegas Kid dengan bahasa Inggeris fasih.

            “Apakah kamu tersinggung dia ucapkan bangsa Indonesia lemah dan manja, tak ada petinju Indonesia yang mampu kalahkan dia.” Tanya seorang wartawan.

            Kid Salasa tertawa keras. “Aku tidak tersinggung. Aku marah, sangat marah. Pelatih dan keluargaku, mereka semua marah. Akan kubuktikan kepalan anak Morotai sekeras batu gunung, aku akan memukulnya dengan keras, mengirimnya pulang ke negerinya, dia akan menyesal mengucap tantangan seperti itu.”

            Salina tidak lama-lama berkumpul dengan rombongan Kid Salasa. Dia segera pamit.

Marbella memegang tangan Salina. “Nanti malam sekitar jam sepuluh aku hubungi kamu, kita atur draf kontrak sebagai penulis biografi Kid. Setelah draf beres, please kamu  datang ke sasana di Gunung Gede Bogor, kita tandatangan kontrak. Sebab, kontrakmu harus beres sebelum acara tandatangan kontrak promotor dengan Kid dan Christopher.”

            “Kamu sibuk sekali. Kerjamu cepat.” Tukas Salina.

            “Yah, kamu juga bakal sibuk.”

            Satu jam kemudian Salina berada di kantor majalah dan mingguan “Gengsi” milik keluarganya. Setelah mampir di ruang dokumentasi, menyerahkan kameranya untuk diproses cetak, dia masuk ruangan pemimpin redaksi yang adalah kakak kandungnya.

            Arifin menyambut dan memeluk adiknya. “Kamu ndak capek? Mestinya pulang dulu ke rumah, mama menunggu. Besok lusa mama kembali ke London.

            “Ada yang ingin kubicarakan.”

            Arifin menuntun adiknya ke kursi sofa. “Pasti penting, apa itu?”

            Salina menceritakan panjang lebar perihal pertemuannya dengan Marbella dan Kid Salasa. “Tawaran Bella sangat menantang, karena Kid akan tarung lawan petinju yang tak kalah hebat reputasinya.”

            “Yah bahkan the truck mungkin lebih tangguh dari Kid.”

            Salina menatap dengan tanda-tanya.

            “Aku mengikuti sepak-terjang anak Morotai itu. Kesempatan sebagus itu tidak akan datang dua kali. Ambil peluang itu, Sal.”

            “Jadi kangmas setuju?”

            “Sudah tentu, bikin proposal nanti kita rundingkan. Lebih cepat lebih baik.”

            “Malam nanti Bella nelpon aku, bicarakan detil kontrak. Mungkin sehari atau dua hari proposal kuserahkan.”

Arifin tertawa. “Bagus, kamu sangat antusias. Sekarang pulanglah, mama menunggu, ...... eh kamu bawa oleh-oleh buat mbakyumu?”


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com