Cinta 100 Juta Dolar eps 3

Posted on 05 Desember 2017 ( 0 comments )


Episode 3

Arifin tertawa. “Bagus, kamu sangat antusias. Sekarang pulanglah, mama menunggu, ...... eh kamu bawa oleh-oleh buat mbakyumu?”

            “Iya suvenir untuk mama, mbakyu dan ponakanku. Mas, foto-foto sedang dikerjakan Pak Arya.” Setelah salaman mencium tangan kakaknya, Salina melangkah keluar ruangan.

            Kesibukannya dimulai lagi. Salina tak pernah diam, lebih suka sibuk dengan tulisan dan idea-ideanya. Gambaran format dan isi proposal seketika terbentang dalam benaknya.

            “Jika Kid menang dan juara, biografinya pasti laris…” Gumamnya lirih.

Sasana Daruba

Janji pertemuan dengan Kid Salasa dan Marbella jam sebelas siang, tetapi Salina ingin tiba di sasana Daruba sebelum jam sepuluh. Niatnya melihat-lihat dan merekam suasana kamp latihan juara dunia asal Morotai itu. Keluar dari jalan tol Jagorawi dia mengarah Gunung Gede, Bogor. Sepanjang jalan dia mengikuti tanda panah bertuliskan Sasana Daruba yang berada di dalam perumahan eksklusif.

Sepanjang kiri kanan jalan berderet rumah mungil model cluster, pertokoan dan restoran. Jalanan padat, banyak mobil parkir sehingga perjalanan Salina tersendat. Masuk sekitar dua kilometer dia tiba di area yang tanahnya tinggi. Tampak papan nama bertuliskan sasana Daruba. Dia memarkir mobil di tepi jalan di bawah pohon rindang. Bersandar di sisi mobil dia melayangkan pandangan.

            Daerah itu teduh, udara sejuk pegunungan, banyak pepohonan. Sasana dikelilingi pagar kawat duri setinggi dua meter. Salina memperkirakan luasnya lebih kurang delapan ratus meter persegi. Di kiri kanan sasana berderet rumah pemukiman ekskluif. Rumah-rumah  mewah dengan ukuran tanah lumayan luas. Sasana Daruba menyita dua kapling dijadikan satu. Ada dua bangunan. Sebuah rumah dua lantai. Sampingnya bangunan mirip gudang, pintunya tertutup. 

“Bangunan itu mungkin tempat latihan. Satunya lagi rumah kediaman.” Salina melirik arloji di pergelangan kanan. Jam sepuluh kurang sepuluh menit.

Dia menelpon Marbella. Percakapan singkat.

Wanita Venezuela itu senang. “Kamu datang lebih cepat.”

“Aku ingin mengenal suasana dan lingkungan.”

“Bagus. Akan kuantar kamu berkeliling.”

            Salina masuk dalam mobil. Saat berikut mobil BMW tahun lama hadiah dari  ayahnya  meluncur mendekati pagar teralis. Berhenti di pos yang dijaga dua satpam.

            Seorang satpam, bertubuh besar, berewokan kulit gelap menghampiri. Sebelum Satpam itu bertanya, Salina mendahului. “Bung, aku sudah janjian dengan Kid Salasa dan ibu Marbella.”

            “Oh nona wartawati? Senora Bella sudah memberitahu kedatangan nona.”

            Salina mengangguk. “Iya.”

            Satpam membuka pagar teralis. “Silahkan masuk, parkirnya di depan rumah.”

            “Terimakasih.” Salina menginjak pedal gas.

            Salina memarkir mobilnya di samping lima mobil lainnya. Keluar dari mobil, Salina memandang keliling. Sasana luas. Parkiran bisa memuat duapuluh mobil.

             Marbella membuka pintu rumah. “Sali wellcome, kamu tidak tersesat?”

            “Tidak sulit mencarinya.” Salina menyerahkan amplop coklat kepada Marbella.

            “Apa ini?”

            “Buat kamu. Foto-foto ketika di pesawat.”

            Marbella mengeluarkan tujuh lembar foto ukuran besar. Meneliti satu per satu.

“Foto-fotomu bagus, tajam. Tidak salah aku memilihmu.” Tukas Marbella sambil menyimpan foto ke dalam amplop. “Ayo masuk.”

            Ruang tamu tidak luas hanya dua stel kursi dan sofa. Beberapa pigura nempel di dinding. Salina heran tidak menemukan foto Kid Salasa, baik foto sendirian maupun foto pertandingan atau foto memegang sabuk juara.

“Tidak ada foto Kid, aneh juga.” Tukas Salina.

“Kid melarang.”

“Mengapa?”

“Mencegah penyakit sombong, kata Kid.”

Salina mengangguk. “Jadi tak ada foto dokumentasi selama dia berkarir?”

“Tak usah khawatir. Dokumentasi lengkap, terkumpul di beberapa album. Tetapi tidak untuk dipajang di ruang tamu.”

Mereka masuk ruang dalam. Salina mengira-kira enam kali sepuluh meter. Tidak banyak furniture. Satu stel meja kursi dan sofa. Di pojok ruangan meja tulis dan kursi. Tumpukan kertas, buku, komputer, scanner dan printer diatas meja. Sebuah lemari nempel di dinding. Didalamnya terdapat beberapa perangkat elektronik dan buku-buku.

            “Ini ruang serbaguna, merangkap ruang kerja, ruang rapat, presentasi dan lain-lain. Di dalam ada tiga kamar tidur, lantai dua empat kamar. Bangunan besar di sebelah, tempat latihan, ada ringnya. Kamu mau melihat-lihat?”

            Salina mengangguk. “Kalau tidak mengganggu.”

            “Ayo.” Marbella menuntun tangan Salina, melangkah ke pintu. Keluar dari pintu depan, keduanya melangkah ke bangunan besar. Seorang satpam membuka pintu.

            Salina memandang ruangan mirip aula, cukup luas. Plafonnya tinggi untuk mengatur sirkulasi udara. Di tengah-tengahnya ring tinju. Tribun dari kayu di bagian Utara dan Timur serta puluhan kursi lipat. Dua sofa dan enam kursi besar tertutup plastik bening di depan tribun Timur. Tidak ada lainnya.

            Itu ring standar internasional. Dua tribun masing-masing menampung sekitar tigaratus penonton, untuk tamu biasa. Sofa dan kursi yang ditutup plastik untuk tamu kehormatan ring-side. Sasana  bisa menampung lima sampai enamratus penonton untuk menyaksikan sparring[1]. Biasanya kami jual tiket, harganya tidak mahal sekadar ongkos pemeliharaan dan kebersihan.” Tutur Marbella.

            “Jadi akan ada sparring? Berapa kali selama persiapan ini?”

            “Kamu akan tahu semua rencana persiapan, Pacheco akan presentasi semua program.”

            “Kapan? Boleh aku ikut mendengar? Mencatat? Merekam?

            “Seharusnya demikian, bagus sebagai bahan tulisan. Presentasi jam setengah duabelas dilanjutkan makan siang. Aku undang kamu ikut makan siang bersama Kid dan semua anggota keluarga sekaligus perkenalanmu dengan rombongan kami.”

            “Sekarang tepat jam sebelas.” Kata Salina melirik arlojinya.

            Marbella menunjuk dinding di belakang tribun Timur. “Ayo kita melihat-lihat ruang latihan, fitness, pintu masuknya dari dalam rumah. Masih ada waktu tigapuluh menit. Kita ke sana sekarang, melihat peralatan fitness, semuanya serba moderen.”

            Keduanya kembali ke rumah tinggal. Di ruang depan tampak kesibukan beberapa orang mengatur kursi dan alat presentasi.

Keduanya langsung ke ruang tengah. Tampak pintu yang bertuliskan fitness centre, no smoking[2]. Marbella mendorong pintu.

Beberapa peralatan fitness tertata rapi. Sebuah cermin besar menyita satu dinding di bagian Utara. “Cermin itu untuk shadow-boxing, jump-ropes dan apa saja. Semua equipment kami beli dari Cina, lebih murah dibanding Amerika atau Eropa, kualitas dan spec-nya tidak beda jauh.”

            “Sepi, tidak ada orang.” Ujar Salina melangkah menuju punching-bag ukuran besar. Sesaat mengatur kuda-kuda kemudian dia melancarkan tiga pukulan beruntun.

“Buk.. buk… buk.. “ Punching-bag bergoyang dan berayun. Ternyata tenaga wartawati itu cukup besar.

Marbella terkejut, tanpa sadar berseru. “Wooowww Sali, kamu latihan karate?”

            Salina tertawa. “Yah. Kebetulan tidak ada orang, jadinya aku iseng.”

            “Tidak sangka, gadis cantik kelihatan luwes, bisa galak. Sudah lama berlatih?”

            “Dulu sewaktu masih kuliah, empat tahun latihan. Tinggal di Jakarta yang rawan kejahatan, wanita perlu ilmu bela-diri. Hampir setiap hari terjadi pelecehan seksual, perkosaan atau rampok. Kakak karateka nasional, jadi aku diajak. Lama-lama ketagihan.”

            “Sekarang masih latihan?”

            Salina menggeleng. “Sekarang tidak rutin, hanya sekali-sekali berlatih dengan kakak. Terkadang latihan sendiri supaya badan tidak kaku. Di rumah juga ada punching-bag dua macam heavy and light.[3]

            Marbella mengajak Salina keluar menuju ruang tamu. “Saat presentasi.”

            Dalam ruang beberapa orang duduk santai.

Kursi tidak banyak, tetapi diatur dalam tiga deretan. Di deret depan, lima kursi. Deret dua dan tiga masing-masing tujuh kursi. Marbella mengajak Salina berkenalan dengan beberapa orang.

“Semua sudah hadir, tinggal menunggu Pacheco dan Kid.” Tutur Marbella.

            Salina salaman satu per satu dengan yang hadir. 

“Ini asisten pelatih Pratomo, mantan petinju nasional yang sudah retire.” Salina salaman dengan lelaki tubuh kekar berusia empatpuluhan.

“Ini chief security Ibrahim, dia adik kandung Kid. Ini wakilnya, Alex dan Agus. Ketiganya membawahi duabelas anggota termasuk empat satpam.”

Salina tersenyum melihat wajah Ibrahim yang mirip Kid Salasa. Tetapi tubuhnya lebih besar dan lebih tinggi dibanding Kid. Salina yang tingginya satu meter enampuluh lima senti hanya sampai batas dagu Ibrahim.

“Bung juga petinju?” Salina penasaran memandang si raksasa.

Ibrahim yang biasa dipanggil Baim tertawa. “Tidak. Aku tidak bisa tinju.”

Alex, berdiri disamping Ibrahim tertawa. “Bukan petinju tetapi dia tukang bakelai[4]. Pengawal khusus Kid.” Alex agak hitam, kumis dan berewoknya tipis, usia tigapuluhan, ukuran tubuh sama besar sama tinggi dengan Ibrahim.

Salina tersenyum. “Bakelai itu berkelahi? Bahasa Ambon?”

Alex mengangguk. “Bukan hanya Ambon, tepatnya bahasa Melayu Maluku.”

“Ini dokter Murad ahli nutrisi dan dokter Franky, beliau berdua selalu mengawasi kesehatan Kid, meskipun tidak tinggal di sini, mereka datang sesuai jadwal dan skedul.” Tutur Marbella.

“Ini massuer Didin,


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com