Cinta 100 Juta Dollar eps 23

Posted on 08 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 23

      Ada aksioma tua dalam tinju, khusus bagi petinju yang memutus program latihan. Sebagai contoh, jika ia absen lima hari, untuk mencapai kondisi fisik ke posisi sebelum absen maka ia perlu berlatih ekstra keras selama sepuluh hari.

Jose Pacheco sungguh terpukul. “Habis semua jerih payahku, aku kalah, kasihan Kid.” Mata pelatih tua itu berkaca-kaca. Dia menyesal mengapa harus terjadi justru di tengah persiapan fisik.

            Pacheco ingin mencari udara segar, melangkah keluar kamar. Dia berjalan sambil berpikir. “Masih ada peluang meskipun sangat tipis. Yang pasti perlu kerja keras.” Sebelum pergi dia memanggil Ibrahim. “Jaga pintu kamar Kid, tidak boleh orang masuk jika tidak bersama aku atau isteriku. Ini serius, sangat serius.”

            Marbella membuntuti suaminya. Mereka melihat pintu gedung sparring terbuka. Mereka masuk, duduk di tribun. Hanya ada lelaki bernama Mamat sedang membersihkan lantai, mengumpulkan kertas, bungkus dan puntung rokok.  

            “Aku yakin ada orang yang menaruh obat bius dalam makanan atau minuman Kid. Kamu melihat ada orang yang mencurigakan?” Kata Pacheco.

            Marbella menggeleng. “Aku tidak tahu. Semua normal tak ada yang aneh.”

            “Kita harus temukan cara mengembalikan kondisi fisik Kid secepat mungkin. Satu hari tidak latihan kerugian besar bagi kita. Apalagi jika 5 atau 7 hari.”

            “Ada cara lain selain harapan pada dokter.” Tegas Marbella serius.

            “Apa?”

“Kid pernah bercerita tentang kelebihan Durachim. Orangtua itu tinggal di Blora, punya semacam klinik atau pesantren. Tempat belajar agama dan rehabilitasi anak-anak yang kecanduan narkoba. Mungkin kita bisa minta bantuan tenaga Durachim, apalagi dia ayah angkat Kid, jadi bisa dipercaya.”

            “Benarkah dia bisa menyembuhkan?”

            “Apa salahnya dicoba.” Marbella menambahkan. “ Orangtua itu bisa membantu pemulihan mental dan batin Kid.”

            Pacheco termenung.

            Tadinya dia hampir putus asa, kini semangatnya bangkit. “Yah apa salahnya dicoba, dari dua sisi ilmiah dan konvensional. Siapa yang bisa hubungi pak Kiyai? Coba kamu telepon dia.” Wajah dan sosok Durachim terbayang di benak Pacheco.

            Marbella menggeleng. “Setahuku orangtua itu tidak punya telepon rumah apalagi handphone. Pasiennya juga dilarang membawa handphone, Lagipula di desa itu tidak ada jaringan telpon. Satu-satunya jalan harus ke Blora dan membawanya kesini.”

            “Siapa orangnya yang bisa dipercaya. Kamu dan aku tidak mungkin, kita harus tetap menjaga Kid. Ibrahim bisa dipercaya tetapi temperamen dan kurang disiplin, dia juga harus menjaga keamanan. Maryam juga tak mungkin. Siapa lagi?”

            “Salina!” Cetus Marbella.

            “Dia? Apakah bisa dipercaya?”

            “Kita mengenalnya secara kebetulan di pesawat. Dia punya ambisi bukunya laris. Tak mungkin dia berkhianat. Aku juga melihat dia jatuh cinta pada anak asuhmu.”

            Pacheco diam.

            “Kalau kamu setuju, biar aku dan Kid yang bicara dengan gadis itu.” Marbella memegang lengan suaminya. “Aku jamin Salina pilihan yang tepat!”

            “Apakah kita punya pilihan lain?”

            Marbella menggeleng. “Hanya Salina jalan keluarnya.”

            Saat yang sama, Mamat dari tim intel yang menyamar petugas kebersihan menemukan benda mencurigakan yang tertanam dalam tanah. Memang sebagian lantai gedung terutama di pinggiran dekat ring masih berbentuk tanah dan semen yang tidak keras. Dia memegang kerah baju dan berkata. “Laporan dari Mamat kepada letnan Faisal, ada benda mencurigakan di lantai gedung sparring. Silahkan kemari, aku tunggu.”

            Berkata demikian Mamat memotret menggunakan kamera. Lampu blitz kamera terlihat Marbella yang masih duduk di tribun.         

Marbella menggamit lengan suaminya. “Lihat Mamat menemukan sesuatu, ayo kita kesana.”

            Suami isteri mendekati Mamat, pada saat sama Faisal setengah berlari masuk gedung. Bersamaan waktu mereka tiba dekat Mamat.

            “Apa Mat?”

            “Aku belum sentuh, lihat!” Mamat menunjuk ke bawah dekat kakinya.

            Pacheco dan Marbella hanya melihat, tidak bereaksi.

            Faisal jongkok dan meneliti. “Seperti alat suntik.” Bisiknya. “Sudah kamu foto?”

            Mamat mengangguk. “Sudah. Mas, aku pamit mau periksa yang lain.” Dia berjalan keliling gedung sambil matanya mencari-cari hal yang aneh.

Faisal mengeluarkan sarung tangan plastik bening dan kantong plastik kecil dari

saku, lalu merunduk dan menarik benda tersebut dari dalam tanah. “Ini alat suntik,” sambil memasukkan benda itu ke kantong plastik bening.

            “Itu benar-benar alat suntik, bagaimana bisa tertanam di lantai?” Kata Pacheco

            “Pak Faisal, alat suntik itu masih baru?” Tanya Marbella.

            “Yah masih baru, hanya kotor karena tertanam dalam tanah. Mungkin sekitar satu atau dua hari tertanam. Mungkin milik dokter?” Faisal menyelidik.

            “Tidak mungkin. Selama ini dokter Franky dan Murad tak pernah meggunakan alat suntik, apalagi sampai dibawa ke gedung sparring.” Tukas Marbella.

            “Waktu hari sparring, aku ingat, aku meletakkan meja kecil disini untuk air minum Kid.” Tukas Marbella.

            Tiba-tiba wanita latin itu menutup mulutnya, matanya membelalak. “Oh ..oh.. my God... Magda..? Mungkinkah...?”

            Dua lelaki memandang heran, mimik Marbella seperti melihat hantu. Tegang, pucat dan ketakutan.

“Ada apa? Kenapa dengan Magda?” Tanya Pacheco.

            “Aku berdiri di sini dekat meja. Magda berdiri disampingku. Ada tiga botol besar kemasan air mineral untuk Kid minum. Aku tak pernah berpisah dengan meja. Ronde dua partai pertama Hose memanggil aku sambil memperlihatkan botol minumnya. Aku menghampiri membawa satu botol, kuserahkan kepada Hose dan kembali lagi......” Dia berhenti sesaat.

            “Aku hanya pergi sekitar limabelas detik, aku kembali dan kulihat Magda bergeser. Aku tahu sekarang, aku yakin saat aku tidak ada Magda merapat ke meja, dia menyuntik botol ... ta ... tapi mengapa dia berlaku bodoh membuang alat suntik ke tanah?”

            “Mudah saja. Dia mendekat meja, lalu menyuntik. Tapi tak menyangka kamu kembali secepat itu, dia gugup dan mungkin alat suntiknya jatuh atau sengaja dia jatuhkan, lalu dia injak supaya tertanam. Sekarang coba ingat-ingat mimiknya apakah dia gugup dan pucat? Sebab itu tanda ketakutan rahasianya terbongkar.” Faisal menatap tajam.

            “Benar. Aku ingat wajahnya pucat dan gugup. Aku ingat dia berkata Bella apakah satu botol cukup? Suaranya tidak normal, dia pasti merasa takut. Ohhh bodohnya aku.”

Marbella menutup wajahnya dengan dua tangan.

            “Semua bisa terjadi. Benar bisa salah, salah bisa benar. Tidak perlu kamu merasa bersalah.” Kata Faisal menghibur.

            “Pak Fasial kamu intel, kamu percaya aku dan Hose?” Marbella bertanya.

            Faisal tersenyum. “Tentu saja. Reputasi Hose sebagai coach sangat terkenal di dunia, tak mungkin mau berbuat khianat. Bayaran kalian mahal. Lagipula kalau mau Kid kalah tidak perlu pakai obat bius, jadwal dan menu latihan bisa direkayasa untuk kalah. Aku ahli di bidangku, terbiasa menghadapi orang yang berbohong. Aku percaya kalian berdua. Alat suntik akan diperiksa di lab. Juga akan interogasi Magda. Sekarang ini apa rencanamu Coach?”

            “Dokter sedang memeriksa darah Kid, segera akan tahu kadar biusnya. Mereka akan memberi obat yang sesuai standar doping. Aku juga rencana mengubah jadwal dan menu latihan, Kid akan kerja dan berlatih lebih keras.” Tutur Pacheco tetapi tidak menutur  rencana memanggil Kiyai Durachim untuk mengobati jiwa dan mental Kid.

            Tidak demikian Marbella, menurutnya Faisal harus tahu rencana memanggil Kiyai itu. “Kami rencana mendatangkan kiyai Durachim secepatnya.”

            “Itu bagus. Kita butuh kiyai untuk menyuntik spiritual Kid.” Kata Faisal.

            “Aku perlu menambah porsi latihan fisik sebagai pengganti waktu latihan yang hilang. Nanti aku berunding dengan Kid untuk merancang kembali detail latihan, latihan yang ekstra keras untuk mengejar ketinggalan.” Kata Pacheco.

Salina terkejut mendengar cerita Pacheco. Tak kusangka musibah justru datang saat semangat dan optimisme menggumpal keras di kubu Daruba. Gumamnya.

Ia pun terkejut manakala tahu dirinya masuk daftar orang yang dicurigai Faisal. Tapi Pacheco, Marbella dan Kid percaya padanya. Ada alasan mengapa Pacheco melibatkan Salina.

 

 

Saat kritis ia butuh tenaga Salina, hanya gadis itu satu-satunya yang dapat dimintai tolong, menjemput kiyai Durachim dari Blora, orang lain tak mungkin. Makin sedikit yang tahu rahasia ini makin kecil kemungkinan diketahui kubu lawan.

Pacheco sudah mengambil langkah tegas. Dia mengumumkan dalam rapat internal bahwa sementara waktu Kid berlatih kecepatan-gerak dalam kamar, tidak boleh diganggu.  “Kid berlatih di ruangan tertutup, tak boleh dilihat orang.” Kata Pacheco.

Dan musibah obat bius tetap menjadi rahasia, hanya Pacheco, Marbella, Kid, Faisal, Salina dan dokter yang mengetahui hal itu. Lain orang tidak.

( Bersambung eps 24 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com