Cinta 100 Juta Dollar Eps 24

Posted on 13 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 24

Sore itu juga Salina terbang ke Semarang, dari situ ia mencarter sedan, langsung ke Blora. Tepat tengah malam ia tiba. Tidak sulit menemukan pesantren Durachim tak seorang yang tak mengenalnya.

Pesantren itu berdiri di atas tanah tujuhratus meter persegi. Terpencil diperbukitan alas randu yang belum terjangkau kabel telepon.

Salina nyaris tak beristirahat, dia menceritakan hal menyangkut Kid kena obat bius. Usai shalat subuh, mereka berdua menuju Semarang, dan terbang ke Jakarta.

Sebelum sore, mereka tiba di sasana Daruba. Salina turun di tengah jalan, menjaga kecurigaan orang jika melihat ia datang bersama kiyai Durachim. Ia langsung pulang ke rumah. Letih dan kantuk membuat ia tertidur lelap. Bangun-bangun hari sudah malam. Ia mandi, berpakaian, makan dan segera ke sasana. Tak boleh sepenggal kejadian luput dari mataku. Itu kalau aku mau buku ini lengkap dan sempurna.” Gumamnya.

            Salina sudah mengenal Kiyai. Namun tidak banyak memperoleh bahan cerita. Kali ini dalam perjalanan dia memperoleh banyak bahan cerita, bahkan juga falsafah yang diajarkan kepada Kid.

“Belakangan ini konsentrasi Yalas terganggu. Banyak gangguan dari luar.”

            “Termasuk gadis-gadis sekitar dia?” Salina memotong.

            “Yah itu juga tergolong gangguan.”

            “Apakah aku termasuk dalam kelompok gangguan itu?”

            “Apakah kamu mengodanya? Mengganggunya?”

            Salina tertawa. “Tidak Kiyai. Aku tidak menggodanya. Tetapi kalau aku diam dan memang aku diam alias tidak menggoda, membuat Yalas tergoda atau terganggu, apa yang harus kuperbuat? Wawancara ini telah disetujui dan terikat dalam kontrak kerja, apakah harus dihentikan? Jika menurut Kiyai wawancara harus dibatalkan, akan kubatalkan. Jika untuk menolong Yalas aku harus menjauh, dengan sukarela aku akan menjauh. Aku mau lakukan apa saja asalkan membantu Yalas memenangkan tarungnya lawan si bule kurangajar itu.”

            Orangtua itu memotong. “Kamu mencintai Yalas?”

            Pertanyaan itu begitu mendadak, mengejutkan Salina. Nurani gadis itu tergugah, perasaannya tertikam, selama ini dia tak bisa mencurah isi hatinya. Matanya memanas, tampak berkaca-kaca. Salina menangis. “Iya Kiyai, aku cinta padanya, tapi apa artinya aku, banyak gadis cantik dan kaya sekitar Yalas, aku bukan pilihannya. Apa yang harus kulakukan, katakan Kiyai.”

            Orangtua itu menghela nafas panjang lalu menghembus perlahan-lahan. “Aku tidak punya pengalaman soal cinta anak-anak muda jaman sekarang. Dulu kami lakukan lebih sederhana, jika si lelaki suka langsung melamar ke orangtua si wanita dan si wanita akan setuju jika orangtuanya setuju. Sederhana.”

            Salina menghapus airmatanya. “Yalas bukan lelaki yang Kiyai maksud itu. Aku tidak tahu apakah Yalas membalas cintaku, tetapi aku tidak perduli, apakah dia cinta padaku atau tidak, penting bagiku aku tahu perasaanku kepadanya, cintaku kepadanya, itu sudah cukup. Selesai wawancara, selesai proyek buku ini, aku akan pergi, mungkin kembali ke London, pergi membawa cintaku yang tidak berbalas.”

            “Kamu menyerah begitu saja?”

            “Cinta tidak bisa dipaksa. Bagiku yang penting sekarang, selesaikan proyek buku ini, Yalas harus menang. Itu saja. Soal cinta dan jodoh, kukembalikan urusannya kepada Allah, Dia yang menguasai aktifitas manusia, hati dan pikiran manusia.”

            Kiyai Durachim termenung. “Itu falsafah ketuhanan yang sederhana dan paling hakiki. Selama ini aku mengenal Salina dari jauh. Sosoknya yang lincah dan terkesan bebas, gadis moderen, gadis jaman sekarang, yang bergerak semaunya. Kini aku mengenal Salina lebih dekat, lebih lengkap.” Dalam hati dia memuji si gadis.

            “Usiamu berapa?”

            “Duapuluh sembilan lewat tiga bulan.”

            “Pernah mencintai seseorang?”

            Salina terperangah. Ingat Baskoro. “Aku mengenal seorang lelaki, Baskoro, dia merayu menyerang dengan lagu cinta. Aku terbuai. Lalu dia melamar aku. Kukira aku cinta. Jadi aku setuju. Keluargaku setuju. Persiapan nikah, undangan, buking hotel dan katering. Sudah beres. Mendadak dia membatalkan, dia kepincut artis cantik, lebih cantik dan lebih kaya dari aku. Tetapi aku tidak sedih, pikirku lebih baik terjadi sekarang daripada setelah kawin. Keluargaku marah, aku juga marah. Tetapi aku tidak sedih, aku menangis karena merasa terhina. Aku tahu perasaanku itu bukan cinta, aku tidak pernah cinta padanya.”

            Durachim tersenyum. “Sekarang, kalau kamu pulang ke London tanpa mendapat cinta Yalas, apakah kamu sedih dan menangis?”

            “Kalau itu kodrat, akan kuterima dengan ikhlas, tetapi pasti aku sedih, sedih karena kehilangan mimpi.”

            “Menangis?” Potong Durachim.

            “Iya Ki, aku pasti menangis, tangis yang panjang .......” Salina tertawa.

            “Apa yang membuat kamu cinta Yalas? Karena dia kaya?”

            “Sejak remaja aku mengidamkan calon suami yang menjadi pelindung. Beberapa lelaki kukenal tapi tidak memenuhi gambaran itu. Termasuk Baskoro. Lalu Yalas muncul, badannya kekar, dia petinju, secara fisik dia akan jadi pelindungku. Dia kaya, dia akan melindungi aku, menjauhkan aku dari kemiskinan.”

            “Kamu cinta karena dia kaya?”

            “Benar, tapi aku tidak mata-duitan. Aku biasa hidup sederhana. Tidak kekurangan, semua ada. Ayahku duta besar yang pasti gajinya besar, tunjangan juga besar. Tetapi kami sekeluarga hidup sederhana, biasa-biasa saja. Sepatuku biasa, bajuku biasa. Semua harga kelas menengah. Kalau ada bajuku yang merk terkenal, itu kubeli dari sales, harganya murah.”

            “Sales, apa itu? Obral?”

            “Yah obral. Diskon.”

            “Lanjutkan tentang kekayaan tadi.”

            “Uangnya banyak, artinya anak-anak kami akan hidup berkecukupan, sekolah, pakaian, kesehatan. Kekayaan suami bukan untuk aku, aku tidak perlu gelang emas, kalung berlian. Tetapi kekayaan itu untuk anak-anak.”

            “Kamu Sarjana Es dua, Yalas hanya lulusan es-em-a, apakah cocok?”

            “Loh mengapa tidak cocok? Ayah dan ibuku contohnya. Ayah Jawa ibu Turki. Suami isteri dari dua bangsa dan kebudayaan berbeda bisa hidup langgeng. Biasakan berjalan dalam persamaan, bukan dalam perbedaan. Penyesuaian dan toleransi intinya Ki. Tetapi sudahlah Ki, jangan bertanya perihal itu. Ganti aku yang bertanya, tolong kamu cerita perihal Yalas, dari masa kecil sampai kini, falsafah hidupnya, agamanya, tinjunya dan apa saja. Kurekam. Komentarmu tentang Yalas Salasa akan membuat buku riwayat Kid Salasa makin menarik.” Salina menyiapkan tape-recorder.

Kedatangan, Kiai Durachim telah menyelesaikan masalah. Memperbaiki kerusakan. Tidak  cuma  menyembuhkan penyakit akibat bius. Juga menanam kembali kepercayaan diri Kid yang tadinya sempat rontok.

Datangnya musibah itu merupakan peringatan Yang Maha Kuasa. Dibalik itu pasti ada hikmahnya. Manusia merupakan sasaran empuk bagi setan dan iblis. Kekuasaan dan harta seperti obat bius. Makin kita menguasai makin kita ketagihan. Nafsu dan sifat sombong seperti api yang kalau dibiarkan menyala besar maka kita akan dibakarnya sampai hangus.

Yalas Salasa merupakan contoh hidup seorang anak manusia dari kalangan sederhana yang berjuang keras meraih puncak popularitas dan kekayaan. Sampai disitu dia tergoda. Uang milyaran rupiah, gelar juara dunia, sanjungan dan pujian orang, semua itu ternyata racun yang menggerogoti mental spiritual Yalas Salasa. 

Pada saat itu ia mulai merasa diri seorang super. Ia bisa membeli apa saja dengan uangnya. Ia membeli tanah di Cibitung, melengkapi sasananya dengan peralatan paling canggih. Ia membangun rumah untuk ibunya. Memberangkatkan ibu dan bibinya, juga ayah angkat dan istri ke haji. Ia melakukan semua yang harus dilakukan anak berbakti. Bahkan tunjangan setiap bulan untuk ayah angkatnya. Ketika ia menyumbang lima ratus juta rupiah untuk pesantren ayah angkatnya. Ia merasa puas dan bangga.

Tahun-tahun lampau waktu ia dilanda duka kematian isteri dan anak kandungnya, ia terbenam dalam perenungan yang dalam. Salat dan puasa, salat malam dan mendalami  agama. Tetapi ketika sisi dunia mulai menerangi hidupnya, semua itu ia tinggalkan. Salat tak lagi ia laksanakan. Kalaupun salat hanya menyentuh permukaan, sebab ia tak mampu lagi menyelam ke dasar.

Malam itu setelah kedatangan ayah angkatnya, Kid menerima wejangan paling keras dalam hidupnya. “Kau mengecewakan kami, aku, ibumu dan orang-orang yang menaruh harapan padamu. Kau sudah berubah, sepertinya kau bukan lagi Yalas Salasa, pemuda yang dulu kubesarkan. Aku melihatmu kini sebagai Kid Salasa juara dunia yang dikagumi banyak orang. Sadarkah kau, Yalas, mengapa aku tak pernah memanggilmu Kid? Karena aku tak mau menambah jumlah orang yang mengagumimu.”

Hampir setengah jam  Kiai Durachim memberi nasehat yang keras, tajam dan membuat telinga Kid panas. Tak pernah ada orang yang bicara dengannya sekeras itu.

  “Yalas kau lupa ajaran islam yang paling hakiki yakni Kekuasaan Allah. Apapun di muka bumi ini, di alam semesta ini, tunduk pada kekuasaanNya. Tak terkecuali urusan tinju. Jika Allah menghendaki kau menang, dalam hal ini tentu kau harus berlatih dalam persiapan yang maksimal, maka tak ada kekuatan di muka bumi yang bisa menghalangi kemenanganmu.” Tegas kiai Durachim.

Kata-kata kiai ibarat cemeti yang melecut semangat Kid. Ia bagai bangkit dari kubur. Berlatih seperti orang gila, Pacheco heran resep apa yang diberikan Durachim sehingga Kid menjadi macan lapar. Ia berlatih pagi, siang dan sore. Malam istirahat, jam tiga dikala semua orang tidur ia bangun salat tengah malam.

Praktis ia hanya tidur enam jam sehari. Ini bertentangan dengan teori Pacheco. Dan kalau saja Pacheco tahu bahwa Kid selalu bangun tengah malam, pelatih itu pasti akan mencak-mencak protes keras. Disamping itu Pacheco memang merasa aneh, menurut dokter Franky pengaruh obat bius akan hilang seluruhnya dari tubuh Kid dalam lima hari namun setelah pemeriksaan nyatanya Kid pulih lebih cepat dua hari.

            “Peristiwa obat bius jangan ditulis di buku.” Kata Kid.

            “Mengapa? Kamu menutupi kesalahan Magda?” Potong Salina tajam.

            “Tidak. Tapi mencegah penyelidikan dewan tinju, mereka akan menginterogasi.”

            “Okay, akan kutulis kamu sakit lima hari karena terserang virus flu.”

            “Kemarin aku sepakat dengan Pacheco, akan berlatih keras, sangat keras mengejar ketinggalan lima hari absen.”

( Bersambung eps 25 )

 


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com