Cinta 100 Juta Dollar Eps 25

Posted on 13 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 25

Kid Salasa dan Pacheco rampung menyusun ulang detail latihan. Satu hari setelah dokter menyatakan Kid sembuh total, latihan fisik dimulai. Mulai dari latihan ringan.

Hari itu, lima hari pasca kejadian bius Kid Salasa mulai latihan ringan. Pacheco bersama dokter takjub dengan hasil pengobatan spiritual yang dilakukan Kiyai Durachim. “Ini kerja kita semua, pengobatan dokter dan suntikan semangat pelatih mempercepat kesembuhan Yalas,” tutur Durachim merendah.

Malam harinya diadakan doa bersama yang dipimpin sang Kiyai. “Doa ini bagian dari pertarungan Yalas. Kita mengawali tarung dengan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa,” kata Kiyai.

Pacheco bersama anggota sasana yang beragama Nasrani ikut berdoa dengan kepercayaan masing-masing. Dalam acara itu Salina dengan busana muslim dan kerudung ikut berdoa. Dia duduk bersanding dengan ibu Maisaroh dan bibi Salero.

Usai acara mereka menikmati santapan malam. Hidangan sangat istimewa, semua orang berebut dan makan sambil bercanda. Tidak ada lagi ketegangan. Optimisme kembali mewarnai kubu Daruba.

Dalam sambutan di akhir acara Pacheco berkata singkat. “Aku senang karena malam ini sasana Daruba kembali hidup bahkan lebih bersemangat, besok sore Kid akan mengawali latihan keras dan rahasia. Pers tak boleh tahu kejadian di dalam sasana. Perlu aku tekankan bahwa aku tetap optimis Kid akan menang dan merebut gelar juara sejati.” Kata Pacheco dan menutup sambutan dengan teriakan. “Kid menang, Kid menang, Kid menang!”

Teriakan disambut anggota sasana, begitu keras dan lantangnya seakan hendak merontok atap ruangan. Mereka bersalam-salaman sambil berpeluk.

Maisaroh menarik Salina ke kamar.

“Aku dengar kamu melafal doa sangat fasih. Belajar dimana?” Kata Maisaroh.

Salina tersipu malu. Tadinya dia enggan atau malu-malu melafal doa mengikuti Kiyai namun tanpa sadar dia terbawa perasaan. Dia sungguh-sungguh ingin Kid menang. Dan dia tahu bukan lantaran ingin bukunya laris, namun lebih dari itu karena cintanya. Meskipun dia tahu dia hanya bertepuk sebelah tangan.

“Sudah berapa lama belajar?” Desak Maisaroh.

“Sejak kecil aku belajar ngaji di teka Al Quran.”

“Doa-doa, salawat, tahlil itu kamu belajar dimana?” Maisaroh masih penasaran.

“Sudah dua tahun aku ikut pengajian bunda Zainab di Kebayoran. Acaranya Minggu malam Senin dan Kamis malam Jumat. Tapi aku hanya sempat satu kali. Khusus malam Senin aku tak pernah absen,” Tutur Salina malu-malu.

“Ada ceramahnya?”

“Malam Senin selalu ada ceramah, selain bunda Zainab juga beberapa ustaza lain ikut berceramah. Bergantian. Makan malam bersama dari iuran anggota namun tidak wajib bagi yang kurang mampu. Acara selesai sekitar jam sepuluh.” Tutur Salina.  

Ruangan itu bising dengan bunyi komputer printer atau fax. Suara-suara tinggi dalam perdebatan seru dan dering telepon. Letnan Faisal tekun meneliti beberapa file yang disusun anak buahnya. File orang-orang dekat Kid Salasa, sebagian lain yang pernah berkunjung ke Sasana.

Magda punya catatan menarik. Berganti-ganti pacar. Lulus sarjana hukum dia ke Paris ikut ayahnya sekolah mode. Dua tahun kemudian pulang  ke Indonesia, di Jakarta hanya tiga bulan, kembali dan menetap di Paris selama dua tahun.

Magda masih muda dan single, suka pesta, pergaulan kalangan atas, ayahnya orang kepercayaan Pramudya, konglomerat Berlian grup. Magda berusia dua belas tahun ketika orangtuanya bercerai.

Ibunya kawin lagi dengan pelukis bule dan menetap di Denpasar. Ayahnya tetap membujang dan mulai kaya lima tahun terakhir. Tahun lalu ia dituduh korupsi dan merugikan perusahaan empat puluh milyar rupiah.

Perkara korupsi itu tak sampai ke meja hijau, tetap tersembunyi dari masyarakat umum. Tetapi di kalangan atas kasus itu sudah menjadi gunjingan. Korupsinya dihitung sebagai hutang yang harus dilunasi. Semua asetnya dijual untuk menutupi hutang, sisanya  dicicil. Sampai kini ia masih survive, diduga ia punya simpanan uang di bank Swiss.

Faisal merenung, kini ia tahu alasan Magda mendekati Kid. Uang. Faisal menghitung secara acak, kira-kira kekayaan Kid sekarang sekitar tigapuluh milyar belum termasuk bayaran terakhir berbilang puluhan milyar dari pertarungan lawan the Truck.

Ada catatan pinggir yang ditulis tangan, kabar baru dari informan di Paris, Magda punya kekasih mahasiswa Indonesia yang studi di Paris, hasilnya seorang anak laki-laki. Tak jelas hubungan itu resmi atau sekedar free-sex.

Dalam interogasi alat suntik, Magda tidak mengakui sebagai miliknya. Pengacara yang mendampinginya minta bukti. Faisal tak punya bukti, sidik jari sudah terhapus oleh tanah liat. Marbella juga hanya menduga, tidak melihat langsung dan tidak berani menjadi saksi dibawah sumpah. Magda bebas.

Tetapi ada hikmah dibalik sakitnya Kid. Sejak saat itu kamar Kid harus steril, selalu dikunci. Hanya ada dua kunci, dipegang Pacheco dan Maisaroh. Kid makan dan minum di kamarnya. Dia tidak mau menerima tamu. Salina jika wawancara selalu didampingi Marbella. Peraturan dibuat Faisal dan Pacheco.

Faisal membaca file berikut. Titin Aprilia, aktris cantik, membintangi beberapa film bukan sebagai peran utama. Ia tenar bukan sebab aktingnya, tetapi keterlibatan dalam skandal dan gosip.  

Polisi masih mencari bukti keterlibatan aktris ini dalam perdagangan wanita dan perannya sebagai muncikari. Dia sangat dekat dengan Markiano, preman intelek. Belum ada bukti Markiano sebagai bos dari Titin Aprilia.

Titin masuk daftar yang diteliti Faisal karena anak buahnya yang bernama Utari sangat dekat dengan Ibrahim adik Kid. “Kebetulan atau memang bagian dari rencana?” Tulisan tangan yang menandai file Titin.

Utari, kelihatan sangat intim dengan Ibrahim. Itu nama samaran, aslinya Sundari asal desa Kebon Kelapa wilayah Cirebon. Usia duapuluh tiga tahun. Profesi, artis musik tapi tak pernah melahirkan album, hanya show dan manggung di nite-club milik Markiano. Bekerja sehari-hari sebagai sekretaris Titin Aprilia. Utari cantik dengan kulit putih lazimnya gadis Sunda.

“Ibrahim jadi pintu masuk ke kubu Daruba. Harus diawasi!” Faisal  menghembus asap rokok. Dia ingat kata-kata Supangat. “Musuh kita lihai, licin dan sembunyi dalam gelap. Kemarin kita kecolongan yang menyebabkan Kid sakit. Tak boleh kecolongan lagi. Susun strategi menyerang balik.”

Faisal menoleh mendengar suara derit pintu. Letnan Sarmanto muncul. Setelah bertegur sapa, dia  melanjutkan penelitian. Sarmanto mengambil berkas lain. Keduanya tenggelam dalam kebisuan. Sekali-sekali keduanya berdebat dan diskusi.

Salina Puspakencana, novelis dan wartawati. Putri duta besar RI di London. Orangtuanya masih di London. Salina kembali ke Jakarta tinggal di rumah kakaknya yang sudah beristeri. Kakak beradik itu menjalankan bisnis media, salah satu majalah terkemuka ibu kota. Ia dekat dengan Kid sebab sedang menulis riwayat Kid.

Ibrahim, adik kandung Kid Salasa, insinyur tehnik namun belum mau bekerja. Ia tak suka tinju lebih tertarik pada sepakbola dan basket. Anggota klub amatir Indonesia Muda, status masih single, suka pesta, diskotik, dan berganti-ganti pacar.

Pratomo asisten Pacheco sebelumnya pernah jadi asisten pelatih tim nasional, lulus SMA kuliah di akademi bahasa Asing, jurusan Inggris, namun hanya satu tahun tak punya usaha lain, uangnya sebagian habis di meja judi.

Status Pratomo, beristeri dengan anak tiga. Isterinya, Sriati, wanita karir bekerja di perusahaan swasta dengan gaji lumayan. Boleh dikata sang isteri yang menjadi tulang punggung keluarga. Pratomo punya wanita simpanan, Mariana  mahasiswi sastra Jerman. Catatan pinggir : Sekarang kesulitan ekonomi, mobilnya dijual dan isterinya dipecat dari perusahaan swasta dengan tuduhan korupsi.

            “Pratomo rentan menerima suap. Harus diwapadai. Apalagi dia gemar judi. Titin Aprilia, Utari, Ibrahim, dan Magda. Mereka daftar prioritas diwaspadai. Tokek tetap harus dibuntuti. Laporan terakhir Tokek terlihat sedang mendekati Pratomo. Penjagaan di kubu Daruba harus diperketat tetapi tidak mencolok.” Kata Faisal kepada beberapa anak buahnya. “Kecolongan lagi, habis kita dijewer Pak Pangat.” Tambahnya.

            Asisten pelatih lain, Iwan Marwan khusus membantu persiapan alat latihan dan terkadang menjadi sparring boxing bagi Kid. Iwan baru dua tahun mengundurkan diri dari tinju, tadinya tinju pro kelas menengah. Punya isteri dan dua anak yang masih kecil namun masih suka pacaran dan mungkin juga selingkuh.

            “Iwan bisa jadi pintu masuk. Harus diawasi!” Tegas Faisal.

            “Kecolongan kemarin apa akibatnya pada persiapan Kid?” Tanya salah seorang agen muda.

            “Bisa diatasi, latihan ditingkatkan kualitas maupun kuantitas untuk mengejar ketinggalan. Musibah itu justru melecut semangat juang Kid Salasa.” Jawab Faisal.

Bayang-bayang senja sudah lama beralih malam, udara mulai dingin. Ibrahim dan Utari duduk merapat dibawah payung besar di rest-area tol Cipali. Mereka  dalam perjalanan pulang ke Jakarta setelah menjenguk ibu Utari yang sakit keras di Cirebon.

Kehidupan berlalu bagai siang dan malam, gelap dan terang. Ada kala seseorang berada di sisi paling cerah, berkecukupan dan bahagia. Pada saat lain dia bisa terbenam dalam kelam, serba kekurangan. Utari kini merasakan gelapnya kehidupan.

Gadis Cirebon ini cantik menarik. Ia bicara dengan cara paling indah meski terkadang agak gagap mencari kosakata atau ungkapan yang tepat. Dia cuma lulusan SMA tetapi telah melengkapi diri dengan kursus-kursus keterampilan, komputer, sekretaris dan bahasa Inggris.

Lahir dan besar di desa Kebon Kelapa yang terpisah tujuh belas kilometer dari Cirebon, Utari bermimpi menemukan American Dream dalam hidupnya. Pacar tampan, kaya dan kasmaran kepadanya. Untuk dirinya sendiri dia membayang menjadi aktris kondang dengan jutaan penggemar dan uang bertumpuk.

Tetapi ia salah langkah. Ia memburu mimpi muluk, tetapi yang ditemukan justru neraka dunia. Mengenal Titin Aprilia suatu kesialan. Mempercayai Titin adalah kesalahan. Membiarkan Titin mengatur hidupnya adalah kebodohan dan kelemahan.

Sebagai putri kedua Utari merupakan tumpuan harapan dan kasih sayang orangtua. Kakak perempuannya telah menikah. Ayahnya berdagang kios kecil di Cirebon, cukup untuk hidup sederhana. Awan mendung mulai menaungi keluarganya. Sang ayah meninggal. Warisan ayahnya kios kecil beserta isinya direbut kakak iparnya.

Karena sakit hati kehilangan kios membuat ibunya sakit-sakitan. Ibunya butuh   biaya pengobatan. Adik-adiknya yang empat orang butuh biaya sekolah, jajan dan makan sehari-hari.

( Bersambung eps 26 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com