Cinta 100 Juta Dollar Eps 27

Posted on 13 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 27

Utari terpaksa mencari kerja di Cirebon. Jalan hidupnya mempertemukan dia dengan Titin Aprilia. Waktu itu ia senang bagai menemukan bidadari penolong, kini ia merasa itu adalah hari paling sial dalam hidupnya. Titin memberi posisi sekretaris di perusahaanya.

Ia membantu Titin dalam pengiriman tenaga kerja. Ternyata itu hanya kamuflase. Tiga bulan kerja dia sadar wanita-wanita itu dikirim ke Kuala Lumpur, Bangkok, dan Manila dipekerjakan sebagai penghibur laki-laki.

Begitu mengetahui rahasia busuk itu. Utari merasa jijik pada Aprilia. Dia juga tahu dia terlibat langsung atau tidak langsung. Ia punya andil menjerumuskan banyak gadis ke lembah pelacuran di luar negeri. Ini menekan perasaannya. Ia tak bisa berbuat apapun sebab Titin mengancamnya.

Utari, kamu sudah terlibat, membuka rahasia ini sama dengan kamu masuk bui,  hukuman seumur hidup dan kau tahu betul bagaimana sambutan penghuni terhadap wanita cantik dan muda seperti kamu. Mereka menikmati tubuhmu dan kamu akan membusuk di penjara.” Ancam Titin.

Bukan cuma itu, Titin juga mengancam keluarganya. Aku kenal adik-adikmu, aku kenal ibumu, tapi Utari kamu tak usah khawatir, aku akan memperhatikan keluargamu baik-baik. Tetapi sekali kau mengkhianati aku, tidak hanya menjebloskanmu ke penjara, keluargamu pun ikut sengsara. Camkan itu Utari!

Setiap mengingat ancaman itu Utari bergidik. Suatu waktu Titin menawarkan seorang pria tua kaya. “Seratus juta rupiah jika kamu mau jadi simpanannya selama satu bulan.”

Keberanian Utari mendadak muncul. “Kalau kau melakukan itu, aku akan lapor  polisi. Aku tak perduli apa yang terjadi. Kamu akan membunuh aku, atau masuk bui atau kamu menghancurkan keluargaku, aku tidak perduli.”

Ibrahim mendengar seksama, terharu akan pengalaman Utari. Ia juga melihat ibu Utari bergelut dengan penyakit bengeknya. Lima hari sehat, tiga hari sakit. Ibrahim pernah merasakan hidup susah bersama ibunya di Morotai. Itu sebab dia tersentuh mendengar pengalaman hidup yang begitu sengsara.”

Apa yang bisa kulakukan untukmu Sundari?”

Utari senang setiap Ibrahim memanggilnya dengan nama Sundari, ayahnya biasa memanggilnya demikian. Satu-satunya keinginan adalah kembali ke masa-masa sebelum mengenal Titin. Meskipun untuk itu ia harus mengorbankan apa saja.

Kau orang terkenal, kakakmu bahkan diundang ke istana menemui pak Presiden, aku tahu kau pasti bisa menolongku, tolong keluarkan aku dari sarang ular itu. Tolong aku kak, berapa pun harganya akan kubayar, aku punya sedikit simpanan.” Desak Utari.

Malam semakin larut. Rembulan merangkak diantara gumpalan mendung hitam, Ibrahim menghela napas.

Kau akan membayarku?”

“Iya kak, kalau uangku tidak cukup, aku bersedia jadi isteri kedua atau selirmu, aku bersedia dengan tulus, Kak. Yang kuingin hanya keluar dari cengkraman Titin.

“Aku belum beristri …”

Utari memotong. “Aku bersedia menjadi isteri simpananmu,  kau boleh mencari wanita lagi yang kau cintai dan yang ingin kau jadikan isteri. Aku bersedia kau jadikan apa saja kak,  tapi tolong keluarkan aku dari sarang ular itu.

Ibrahim tertawa. “Ha... ha... ha... kau lucu Sundari. Seperti cerita wayang saja. Arjuna menolong gadis cantik dan sebagai imbalan gadis itu menjadi selirnya tetapi aku bukan Arjuna dan ini bukan cerita wayang.....”

Utari merasa lemas. Sia-sia kalau Ibrahim tidak bersedia menolong kepada siapa lagi ia meminta tolong. Utari merasa tangan kokoh Ibrahim melingkar di bahunya, ia merasa pelukan yang erat. Ibrahim menatap ke depan, malam yang gelap itu sesekali terang benderang, oleh lampu sorot mobil yang menderu menuju Jakarta.

Aku akan menolongmu.

Utari bagaikan mendengar musik indah, dia sangat gembira. Tak sadar ia mencium pipi lelaki itu.

Ciuman membuat Ibrahim menggeliat, merasa geli.

Utari sadar. ”Maafkan aku, kak. Aku terlalu gembira kamu mau menolongku.”

Kubilang aku bukan Arjuna, kau tak perlu menyerahkan dirimu kepadaku, menjadi istri muda atau selir atau gundik. Aku menolongmu karena memang kau patut ditolong dan aku tak mengharap imbalan apapun.” Kata Ibrahim.

Icun Sundari alias Utari berkata serius. ”Tetapi aku benar-benar bersedia jadi isteri simpananmu. Aku rela memberi perawanku padamu.”

Ibrahim diam. Ia menyulut sebatang rokok. Menyedotnya dalam-dalam, asap rokok itu buyar diterpa angin malam yang semakin dingin.

Kau kira enak menjadi isteri muda, selir atau apa saja seperti kaumaksud tadi? Berjanji itu mudah, tetapi menepatinya sangat sulit… sangat sulit.”

“Kau mungkin menggangapku wanita murahan.” Kata Utari lirih.

Ibrahim menggeleng kepala. “Tidak. Dimataku kau tetap perempuan istimewa. Kau berjuang untuk keluargamu, ibumu, adik-adikmu. Kau polos dan lugu. Aku akan menolongmu tapi sekali lagi aku tak mengharap balas jasamu. Aku menolongmu karena kau patut ditolong. Sebab aku memang mau menolongmu.”

Ibrahim merasa geli, tadinya ia berpikir bisa bergaul erat dan bercinta dengan gadis Cirebon itu. Ia mengira Sundari atau Utari tipe wanita sekarang. Lebih bebas bergaul dan  tak mau terikat norma susila maupun ajaran agama.

Ibrahim tertawa agak keras.

Utari agak tersinggung. “Mengapa kakak tertawa ?”

”Kau bersikap jujur dan terbuka padaku, akupun akan demikian, tetapi kau harus janji tak boleh tersinggung.” kata Ibrahim sambil menatap mata Utari.

Gadis itu mengangguk.

Tadinya aku membayang ajakanmu ke Cirebon hanya pembuka jalan, nantinya kita bisa senang-senang di kamar hotel. Tetapi kenyataanya lain, yang kutemukan adalah ibu yang sakit dan adikmu yang butuh pertolongan. Semua pikiran jelek  membawamu ke tempat tidur, semua buyar. Hebatnya lagi kau masih perawan.

“Kamu boleh meniduri aku, sekarang, malam ini, aku rela, aku percaya kamu akan menolong aku.”

“Kamu gila, ibuku bisa membunuhku.” Ibrahim tertawa geli.

“Apakah aku kurang cantik, apakah aku bukan wanita tipemu?”

“Kamu cantik, aku merasa terhormat bisa meniduri kamu. Tetapi aku tak boleh, itu dilarang agama.”

“Tidak ada yang tahu.”

“Allah Maha Melihat.”

“Maafkan aku Kak, tak kusangka kamu punya prinsip kuat. Aku jadi menawarkan diri bagaikan pelacur.”

“Lupakan saja, Cun.”

Utari menggigit bibir, sambil menunduk malu, ia berkata. “Kakak, kau boleh mengawini aku, kita bersenang-senang nanti kalau kau sudah puas kau boleh ceraikan aku. Janji, aku janji tidak akan hamil, tidak akan menuntut kamu dan aku ikhlas kak. Di kampungku gadis berusia duapuluh tahun sudah tergolong perawan tua. Gadis seusia aku, umumnya sudah kawin lima kali. Kawin cerai di kampungku hal yang biasa”

“Apakah itu tawaran balas jasa? Aku kan belum menolong, baru berjanji.

Utari mendadak merasa malu, tapi sudah kepalang basah, tak bisa mundur lagi. Ia harus berterusterang. “Tidak Kak. Bukan balas jasa, sebab aku mencintaimu.”

“Kamu baru mengenalku, berapa lama, dua bulan?”

Utari merunduk. “Aku mencintaimu sejak awal jumpa. Aku dua kali jumpa ibunda Maisaroh, aku menyukainya juga Maryam. Tapi tentang kak Yalas hanya sepintas saja. Keluargamu orang baik semua. Tadi aku mengajak ke kampungku hanya alasan, sebenarnya aku ingin bercinta denganmu.”

“Mengapa begitu?”

“Aku tahu suatu waktu aku tak bisa lolos dari perangkap Titin dan bossnya, pasti akan ada lelaki yang meniduri aku. Apa salahnya dengan lelaki yang kucintai. Kak, kita kenalan sudah dua bulan katamu, tetapi aku seperti mengenalmu bertahun-tahun, keluargamu orang baik.” Utari menutur dengan suara gemetar lantaran malu.

“Siapa bossnya Titin?”

“Orang kaya, namanya Markiano.”

Ibrahim diam.

“Mengapa kakak diam?”

Ibrahim menghela nafas. “Soal cinta kita bicarakan lain waktu. Sekarang kita pulang, aku antar kamu ke rumah kosmu.”

“Kamu tetap akan menolong aku, iya kan?”

“Aku sudah berjanji. Nanti, aku langsung bicara dengan atasan Titin, aku kenal Markiano. Jika jalan buntu, kamu lari saja dan sembunyi di rumahku, Markiano dan gengnya akan pikir dua kali mau menyerbu rumahku. Kamu lihat saja.”

Tiba-tiba Sundari memeluk Ibrahim. “Terimakasih Kak....”

 

Hari 70 pasar tarohan internasional masih unggulkan Kid Salasa. Di bursa internasional dan  jalur utama Asia Conection Bangkok, Kuala Lumpur, Jakarta semua unggulkan Kid.

Dikantornya Kimberley pusing  menghadapi Magda yang tampak tidak karuan. Magda menangis dan terbenam dalam kesedihan yang sangat, perempuan itu tak mau pulang begitu saja. Malah ia setengah merengek mengajak Kim pergi ke dukun Parto. Ia mau berangkat hari itu juga.

Kita harus kembali Kim ada kesalahan dengan mantra dukun Parto. Kita harus minta mantra baru yang manjur dan tok-cer, yang bisa bikin Kid tak bisa lagi menghindar dari pelukanku. Ayo Kim, desak Magda dengan suara serak.

Kimberley sudah muak, mendengar cerita Magda. Ia kini tak lagi memerlukan tenaga Magda. Apa yang ia inginkan sudah ia peroleh dari tangan Magda. Sekarang go to hell. Kau boleh pergi dari hadapanku, aku muak melihatmu.” Kim mengumpat dalam hati.

( Bersambung Eps 28 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com