Cinta 100 Juta Dollar Eps 37

Posted on 30 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 37

Kleng! Ronde dua

Penonton teriak, “Kid…me..nang..Kid..me…nang!”

Kid merasa semangatnya bangkit, ada rasa hangat menjalar di seluruh tubuhnya. Christopher menghambur setengah berlari dari pojoknya. Dan Kid dari sudut merah menyambutnya di tengah ring.

Terdengar teriakan Pacheco,”Kid, menghindar ke pinggir, lari ke pinggir!”

Ketika istirahat tadi Kid memutuskan ia tak boleh terlalu banyak menari. Keistimewaan itu akan jadi boomerang. Big Charlie telah mempersiapkan Christopher dengan langkah potong yang hebat. Untuk menghindar Kid menggunakan tujuh langkah. Tetapi Truck hanya butuh empat langkah potong, sudah bisa langsung mencegat Kid.

Satu hal lagi, Kid bergerak di lingkaran luar, sedang Christopher di lingkaran dalam. Jelas bahwa Kid lebih banyak bergerak dibanding lawannya. Dua cara yang diterapkan Big Charlie itu dimainkan the Truck dengan jitu. Kid tahu bahwa kalau ia terus mengapung bagai kupu-kupu dan menyengat seperti tawon maka tak sampai ronde kelima, tenaganya akan terkuras sedang lawan masih dalam keadaan bugar.

Kid tak meladeni teriakan Pacheco. Ia ambil inisiatif sekarang. Christopher seperti bersorak menyambut tukar pukulan di tengah ring.

Kid melontarkan jab-jabnya.

Dengan jangkauan tangan yang lebih panjang, Kid lebih efektif menyerang dengan jab lalu kombinasi dengan straight keras. Beberapa pukulan Kid melanda wajah Truck. Tapi orang Amerika itu  tidak bergeming. Pukulan itu tak ada arti apa-apa.

 Petinju Amerika itu berteriak, ”More, more, give me more and harder, you son of a bitch![1]

Wasit menghampiri, berteriak pada Christopher. ”Stop talking!”

Christopher merangsek maju, Kid meladeni di tengah ring. Keduanya bertarung rapat, saling mencari lubang, saling memukul, Chris melancarkan trik curang. Setiap mengayun pukulan setengah hook yang melingkar, tangannya mengayun terus yang membuat sikunya mengancam kening Kid. Tetapi Kid bukan anak kemarin, dia tahu dan paham trik kuno itu.

Penonton bersorak membahana ketika Kid melepaskan diri dan mulai lagi dengan dansa float like a butterfly and sting like a bee. Bagi Kid gerakan  itu hanya  kamuflase, dia pura-pura tak tahu strategi potong Chris. Dansa menghindar itu sekaligus berguna untuk membuat rasa peningnya lenyap, kena dua pukulan keras Chris yang menerobos di antara blokingnya.

Seperti yang diduga Kid, Chris hanya memerlukan empat langkah potong, dan Kid sudah terjangkau. Di sudut netral, Kid terkurung. Sepersekian detik Kid memerhatikan langkah Chris, ia pasti akan perhitungannya. Membalas dengan beberapa pukulan kombinasi. Kid lalu keluar dari kurungan.

Chris memburu merangsak maju, kepalanya merunduk menghindar dari sergapan jab. Kid tak menduga adanya senjata lain milik Chris, pukulan swing setengah hook yang dilepaskan dengan kepala merunduk dan hanya memperkirakan jarak dengan melihat langkah lawan.

Kid tak menduga. Karena tak sempat berkelit Kid hanya bisa menyembunyikan rahangnya dengan mengangkat pundak. Dia tak punya kesempatan untuk menghindar ke belakang atau mengangkat tangan memblok hook lawan itu.

“Buuuuukkk” pukulan itu melanda sisi kepala Kid.

Kid melihat bintang berpijar. Cahaya lampu terbias ke mana-mana, kelap-kelip lampu neon dan gebyar sinar blitz. Silau.

Secara reflek Kid mengikuti ayunan tubuhnya. Bila kena pukul, lebih cepat jatuh ke kanvas lebih aman. Jika tertahan atau belum jatuh, maka lawan punya peluang melepas pukulan berikut. Dan itu bisa fatal!

Kid tak mampu berpikir. Tapi sadar dia rubuh di kanvas.

Pikirannya seperti terlepas dari tubuh. Dia tak merasa apa-apa lagi.

Penonton terdiam. Suasana gedung berubah sunyi. Tiba-tiba meledak suara membahana dari sekelompok orang Amerika di ring-side.

Salina merasa jantungnya terlepas. Pikirannya terlempar entah ke mana. Ia tak bisa berpikir. Mulut terkunci. Badan terasa kaku.

Di sasana Daruba, Ibrahim duduk di pembaringan. Dia nonton bersama ibu dan bibinya serta Utari. Mereka menahan nafas, Utari menjerit histeris. Di sasana  disediakan beberapa televisi. Satu di kamar Ibrahim, satu di ruang tamu. Satu di serambi luar. Anak-anak muda, hansip dan polisi yang bertugas menjaga keamanan Ibrahim dan sasana, semua terdiam.

Wasit cepat menyela dan memotong langkah Chris yang memburu hendak menghajar Kid yang tergeletak di kanvas. Wasit mendorong Chris ke sudutnya, lalu balik menghadap Kid dan menghitung, “Two…..”

Kid merasa terlempar ke suatu tempat asing. Ia terbawa ke sebuah lorong, penuh lampu neon aneka warna. Ada tenaga yang mendorong tubuhnya masuk ke kamar yang pintunya terkuak lebar. Di dalam kamar itu Kid melihat pemandangan indah.

Kursi empuk, tempat tidur empuk. Lampu aneka warna. Di situ ada band sedang memainkan lagu. Seorang laki-laki menggapai ke arahnya.  Ia kenal ayahnya. ”Bukankah ayah sudah mati ?”

Ayahnya memanggil namanya, “Yalas! Masuk sini, lihat tuturuga main drum!”

Di Maluku kura-kura disebut tuturuga. Kid memang melihat tuturuga main drum. Ada lagi pemandangan lain. Jerapah menyanyi di depan mike yang terayun kesana kemari.  Kamar itu mengasyikkan, sejuk dan mengundang selera. Tetapi Kid tahu ada yang tak beres. Jika masuk, habis segalanya. Samar-samar dia mendengar teriakan Pacheco,”Kid bangun Kid!” Pada saat yang sama ia mendengar hitungan “Four….”

Kid memutuskan tak jadi masuk kamar. Dia harus kembali. Dia memutar tubuh. Di ujung lorong ia melihat perempuan jangkung yang melambai-lambai memanggilnya, Yalas! Yalas! Tolong aku!”

Di ring side Salina berdiri mendekati ring, anjing Doberman menyambutnya dengan menggerung. Salina berhenti. Ia berteriak keras. ”Yalas! Yalas! Bangun!”

Kid mengenali perempuan di lorong itu. ”Dia Salina, dia butuh pertolongan, dia dalam bahaya. Bahaya apa?”

Mata Kid melihat Salina. Gadis itu berteriak.”Bangun Yalas! Cepat bangun!”

Kid sadar dia sedang merangkak. Pada saat yang sama dia mendengar hitungan wasit, “Five…”

Kid tahu dia harus berdiri cepat sebelum hitungan wasit selesai.

“Kenapa mendadak dia menghitung dengan Five. Kemana itu one, two, three, four? kemana angka-angka itu?”

Kid sudah berdiri, bersandar di tambang. Matanya masih nanar, ia melihat ke Salina. Mata gadis itu basah. ”Kenapa Salina menangis?”

Kid terkejut mendengar teriakan wasit, Six....”

“Kenapa dia menghitung begitu cepat? Biasanya ada selang sekitar sepuluh  detik. Kenapa sekarang tidak? Peraturan baru?”

Mata Kid tiba-tiba bentrok dengan mata Christopher. Mata Gringo itu sangat merah dan berpijar. “Kenapa dia membenciku, kenapa dia ingin membunuhku ?”

Kid tersentak lagi. “Seven….”

Kid menggeleng-gelengkan kepala, mengusir rasa pusing. Ia masih melihat pijar lampu neon. Tetapi kini jauh berkurang. Kid berdiri tegar sekarang, lututnya masih goyang. Tapi sedetik kemudian ia tegar lagi. Dia mengangkat dua  kepalannya ke depan wajah. Ia menatap mata wasit. Ia melotot ke arah wasit. Ia tahu masih pusing, tapi ia harus meyakinkan wasit bahwa ia sudah siap dan segar kembali.

Terdengar teriakan keras, “Eight!”

Wasit melihat Kid sudah siap. Wasit memegang sarung Kid dan menggosok-gosok ke tubuhnya. Kemudian ia memberi aba-aba dan berseru, “Fight..”

Belum juga aba-aba wasit tuntas gemanya, Christopher menggebu, merangsak dan memburu Kid yang berusaha menghindar sambil melontarkan jab-jab tajam. Kid dalam situasi terdesak hebat dan terancam bahaya. Ronde itu masih tersisa hampir dua menit. Memang berbahaya bagi seorang petinju yang knock down sebelum paruh ronde.

Kid tahu bahwa bertahan sepanjang satu setengah menit dengan berlari menghindar adalah sesuatu yang mustahil. Apalagi dalam keadaan yang baru pulih dari pengaruh knock down. Bagi Kid taktik float like a butterfly and sting like a bee sekarang hanya bertujuan mencuri waktu untuk memulihkan pikiran.

Kid boleh berencana tetapi Chris juga punya gagasan. Chris tahu ini  peluang terbesar baginya untuk menghabisi Kid. Dan ia harus berburu dengan waktu. Kid tak boleh diberi nafas. Chris memburu mangsanya dengan bernafsu.

Big Charlie berteriak keras, “Chris, catch him, don’t let him go![2]

Pacheco berteriak, “Kid menghindar terus. Lari, lari!”

Kid tahu tak mungkin menghindar terus. Staminanya belum pulih. Lagipula Chris punya langkah potong. Selang sesaat Chris telah mengurungnya. Kid mengerahkan segenap tenaga memblok kepala dengan double cover ketat sambil bersandar di tali.

Dia meminjam lenturan tali untuk menetralisir tenaga pukulan Chris yang bagai dentuman meriam tank leopard menggema di telinga. Tubuh Kid terayun-ayun seperti debar jantung para penggemarnya.

Penonton berteriak histeris, ketika Kid Salasa terjatuh. Chris memburu lawannya yang sedang jatuh itu. Chris mengayun tinjunya tetapi Kid masih sadar untuk memblok kepalanya.

Kid tergeletak di kanvas. Wasit mendorong Chris agar menjauh. Ia menghitung,…”One......”

Kid tak apa-apa. Pukulan Chris hanya melanda bagian luar kepalanya. Kid memang oleng dan ia mengikuti gerakan tubuhnya dengan jatuh. Itu cuma siasat melepaskan diri dari desakan Chris. Ia perlu waktu untuk menjernihkan pikiran. Ia tak peduli dengan perhitungan angka, yang penting bagaimana bisa selamat dari ronde dua.

Pada hitungan lima. Kid berdiri dan berpegangan di tali. Ia menatap wasit dengan mantap. Wasit menghitung sampai delapan. Dia melihat Kid siap melanjutkan tarung.

Begitu aba-aba fight Kid keluar dari tali dan menghambur ke Chris. Keduanya bertemu di tengah ring. Kid melancarkan empat serangan jab beruntun disusul tiga straight yang keras dan penuh perhitungan. Chris tertahan karena harus memblok kepala.

Ketika Chris maju, Kid sudah berputar ke sisi lain. Chris merangsek tetapi kini disambut jab dan kombinasi straight dan hook yang menimpa kepalanya. Penonton bersorak. Kid sudah pulih dan dibakar amarah. Kini ia tak membiarkan Chris mendekat. Ia harus terus memukul untuk menahan laju Truck Amerika.

Kleng! Ronde dua selesai.

( Bersambung eps 38 )



[1][1] Pukul lagi, pukul lebih keras,anak jahanam.

[2] Tangkap dia. Jangan biarkan dia lolos!

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com