Cinta 100 Juta Dollar Eps 38

Posted on 30 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 38

Kleng! Ronde dua selesai.

Victor menerobos ring. Tangannya bergerak gesit ke seluruh tubuh Kid. Memijat kepala, leher, bahu dengan kecepatan fantastis. Lalu pindah ke bagian bawah tubuh Kid, betis dan paha. Sementara itu Morgan the cutman memeriksa kepala Kid. Memar sedikit.Tak ada yang serius. Ia memoles kening, alis dan memar di kepala.

Kiai Durachim memberi minum, “Yalas, tenang nak. Takutmu kini sudah hilang. Kini giliranmu balas menghajar.”

Ketika perawatan sudah selesai, waktu tinggal sepuluh detik. Pacheco memegang kepala Kid, menatap matanya. ”Pukulannya memang keras, tetapi kau bisa menerimanya. Tak jadi soal, tetap jauhi dia, jangan beri dia kesempatan memukul. Mainkan jab dan tetap jaga jarak.”

Kleng! Ronde tiga

Christopher merangsek maju. Kid menyambut dengan jab dan beberapa kombinasi “one-two”. Chris memburu. Kid menghindar. Tiga kali pukulan keras Kid mendarat di wajah Chris, tetapi Chris masih unggul, beberapa pukulannya mendarat di pinggang Kid pada saat clinch. Ia sempat melontar dua hook keras yang melanda kepala Kid namun tidak telak sebab bloking rapat dua tangan Kid.

Kleng! Ronde tiga berakhir.

Felix membisik hasil hitungan ke Pacheco. Chris unggul mutlak tiga ronde.

Pacheco agak panik. Ia merangsang Kid agar tetap pada strategi menghindar. Dan jangan sekali-kali mau adu tukar pukulan di tengah ring. Belum saatnya.

Dari jauh Salina menatap Kid. Ia melihat lelaki yang dicintainya seperti dilanda frustrasi. Salina melihat betapa perkasa dan kuatnya Christopher, juga buas dan kejam. Dia tahu Kid terancam bahaya.Tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Kid.

 

Kleng! Ronde empat

Kid sudah pulih kembali. Dia memberikan perlawanan keras. Rasa takutnya sudah lenyap. Ia sudah dua kali mencium kanvas dan sekali diantaranya sempat berkunjung ke kamar badut. Ia telah merasakan hal yang paling pahit. Dan dia masih selamat.

Apa yang pernah dilatih Pacheco “neraka di atas ring”. program ketat yang sangat mengerikan. Ia telah melalui itu. Sekarang ini, belum apa-apa, Christopher tak lebih mengerikan dari program Pacheco. Setiap pagi, dia dihantui latihan fisik yang mengerikan. Setiap malam dia bermimpi tentang latihan esok pagi. Dia dihantui oleh neraka diatas ring. Ternyata dia berhasil melewatinya dengan sukses.

Sebenarnya dia hanya merasa gentar terhadap Christopher. Itu yang membuat semua latihan yang diberikan Pacheco lenyap. Kid bagai seorang petinju yang tak pernah ditangani pelatih. Kid bertinju tanpa konsep dan tanpa strategi menyerang. Kid hanya memikirkan bagaimana selamat dari dentuman meriam tinju yang menggelegar dari sepasang tangan Christopher.

Kid baru tahu kekeliruannya ketika Kiai Durachim membentaknya tadi. Kiyai menempeleng pelan pipinya, seperti yang dilakukan Kiyai diwaktu ia masih kecil.

Kid ingat, ketika ia berkelahi dengan seorang pemuda yang lebih besar dan lebih kekar. Ia bimbang. Kiyai itu menempeleng pipinya pelan. Lalu berkata,kalau takut, tak usah maju, lari pulang, sembunyi di kolong tempat tidur. Kalau berani, maju dan hajar dia. Kau harus pilih salah satu!”

Tadi di pojok ring, Kiai juga menempeleng pipinya, pelan, lalu berkata,”Laki-laki itu boleh saja kalah, tetapi tak boleh memalukan. Malam ini kau membuatku malu!”

Amarah Kid membakar dadanya. Kid bertarung ketat. Kini ia menyerang. Kata Kiyai waktu mengajar silat dulu, kalau cuma bertahan saja, lebih baik tak usah tarung. Bertahan cuma untuk menyelamatkan diri. Kalau mau menang harus menyerang, sebab menyerang itu menghancurkan lawan.”

Kid kini menyerang. Ia diprogram oleh Pacheco untuk bisa memukul sekitar seratus limapuluh sampai duaratus pukulan dalam tiap ronde. Tadi waktu istirahat, Pacheco mengatakan kepadanya sesuai catatan Felix. ”Kau hanya memukul tujuhpuluh pukulan rata-rata setiap ronde, Kid!”

Chris tak menduga, Kid yang tadi sudah hampir habis mendadak salin rupa. Kid kini menyerang sama ganasnya. Jab-jab dan hook serta kombinasi satu-dua mulai menemukan sasaran di wajah dan kepala Chris. Dia mengincar mata kanan. Beberapa kali mata Chris kena tusukan jab tajam.

Kid kini jarang menghindar. Dia menanti dan meladeni Chris di mana saja, tak peduli di tengah atau di pojok ring. Ia melancarkan pukulan keras, menahan masuknya Chris. Sebaliknya Chris cenderung merunduk untuk masuk ke dalam pertarungan rapat.

Kid selalu waspada melihat gerakan Chris. Ia tak mau termakan pukulan mendadak seperti tadi.

Di tengah ronde empat itu, Chris merunduk menghindar sengatan jab Kid yang panas seperti lidah api. Mendadak Chris melayangkan pukulan misteriusnya, Kid mendoyongkan kepalanya ke belakang sambil melepas jab yang menerpa wajah lawan. Tetapi Chris melangkah terus sekalipun kepalanya tersentak ke belakang.

Ia merunduk dan menyergap Kid dengan hook kiri kanan. Kid mundur dan sandar di tali. Chris maju terus sambil melayangkan hook. Kid merunduk dan merangkul untuk clinch. Tak terhindarkan bentrokan kepala kedua petinju. Tidak keras tetapi lumayan.

Wasit memisah kedua petinju. Keduanya saling menggebrak dengan kombinasi satu dua. Darah mengucur dari kepala Kid  membasahi wajahnya. Kid membalas dengan kombinasi keras yang sempat menghentak kepala Chris.

Penonton histeris melihat darah mengucur di wajah Kid. Chris menyerang terus. Kid melawan tak kalah hebatnya. Sarung tinju, dada dan celana Chris kena cipratan darah Kid. Sementara wajah Kid penuh darah. Wasit menghentikan pertarungan, mendorong Chris ke pojok netral lalu membawa Kid ke pojok netral. Dokter naik memeriksa.

Jantung Kid berdebar. ”Jangan hentikan pertarungan aku tak apa-apa, itu tadi tabrakan biasa, setengah menit lagi luka ini bisa dirawat orangku.”

Luka itu berada di batas rambut, sedikit di atas kening. Terkuak sekitar dua senti. Dokter menekan luka itu dengan cairan obat yang fungsinya khusus merapatkan luka. Dia memberi tanda kepada wasit bahwa Kid boleh melanjutkan tarung.

Kid kini jadi ganas. Tak ada yang bisa menghentikan tekadnya menghancurkan truk Amerika ini. Kid kini terangsang naluri primitif. Naluri yang pernah dimilikinya ketika ia masih kecil dan berkeliaran di hutan-hutan Hatetabako bersama ayahnya. Naluri membunuh atau dibunuh!

Kid tegak di tengah ring dan bertukar pukul dengan Chris. Tak ada yang mau mundur. Penonton histeris. Ini partai berdarah dan brutal. Kid melancarkan serangkaian pukulan keras dan cepat yang menakjubkan. Chris tersuruk dan terpental. Kid memburu tetapi lonceng mendahului berdentang.

Victor dan Morgan bekerja ekstra cepat. Morgan professional sejati, merawat luka Kid. Memboreh cairan perekat, menekan dan merapatkan luka. Ia menahan jari-jari tangannya di atas luka selama mungkin sampai bel ronde lima berbunyi.

Pacheco bicara singkat, ”Kau hebat, Kid  kini giliranmu keluar dan hajar gringo keparat itu, aku sudah muak melihatnya! Saatnya kamu menggunakan uppercut kiri ke rusuk kanan. Mata kirinya luka dan dia akan lebih menjaga sisi kirinya, rusuk kanannya terbuka. Hantam sekerasnya seperti dalam latihan.

Kleng! Ronde Lima

Kid kini unggul. Jab dan straight kanannya menyengat mata dan pelipis kiri lawan. Kini Chris sibuk memblok pukulan Kid. Luka di mata kiri semakin berdarah. Dan peluang itu muncul ketika Chris hendak melakukan clinch, saat itulah uppercut-silang kiri Kid bekerja, tenaga pukulan dari bawah ke atas didorong gerak pinggul menerpa rusuk lawan. Christopher meliuk. Lalu terjadi clinch. Kid mendengar nafas berat lawannya dan Kid tahu lawannya terluka. Uppercut itu pukulan yang dilatih Pacheco dan dilancarkan pada saat yang tepat.

Lepas dari clinch Kid merangsek keras dengan jab dan variasi pukulan hook dan straight mengincar mata kiri lawan. Chris yang masih merasakan sakit di rusuknya berusaha menyerang namun kekuatan sudah berkurang. Kid tahu kesempatannya terbuka untuk menjatuhkan lawan. Detik itu pun tiba, hook setengah swing Kid membuat Chris tersudut di tali dan straight keras Kid melempar Chris ke kanvas. Knock down.

Penonton teriak histeris.

Wasit menghitung sampai delapan, Chris siap untuk tarung Pada saat itu bel berbunyi. Christopher tertolong bel, saved by the bell.

Christopher bangkit dan mendapat pertolongan di sudut ringnya.

Pacheco bicara keras mengatasi hirup pikuk penonton yang menyemangati Kid. “Kid, dia sudah habis. Dia milikmu sekarang. Hajar dia! Jatuhkan dia!”

Kleng! Ronde Enam

Kid masih agresif, menyerang dan menyerang. Jab-jab black mamba menyasar pelipis, alis dan mata musuh. Alis Chris sobek dan berdarah. Pukulan upercut silang menghajar rusuk Chris, dua kali dan telak. Kid bisa mendengar nafas lawannya. Pada satu menit terakhir tiga pukulan keras menjatuhkan Chris. Knock down, wasit menghitung sampai delapan. Chris bangkit, Kid tak mau sia-siakan peluang menyerang dan memukul. Chris pantang menyerah, bertahan ketat.   

( Bersambung eps 39 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com