Cinta 100 Juta Dollar Eps 39

Posted on 30 Januari 2018 ( 0 comments )


Episode 39

Kleng! Ronde Tujuh

Kid kini memegang inisiatip. Felix berbisik pada Pacheco.”Sampai ronde enam tadi Kid masih kalah. Enam puluh lima buat Kid. Enam puluh delapan buat lawan.”

Kid terngiang kata-kata Pacheco beberapa hari lalu waktu berlatih memukul speed bag.  “Ada dua jalan untuk menang. Memukul dengan satu pukulan telak dan sempurna. Sambil menanti terciptanya peluang ini, kau harus mencoba jalan kedua yakni memukul sedikit demi sedikit di salah satu bagian saja. Seperti air yang menetes ke atas batu.”

Kid bukannya tidak tahu ilmu ini. Semua petinju tahu. Tetapi prakteknya yang tidak mudah. Luka di kepala Kid sudah rapat kembali. Kid kini mengincar kepala Chris yang seperti pegas itu, mengingatkan ia pada latihan memukul speed bag. Kid tak mau mengincar satu atau dua sasaran tapi mengincar semua bagian di wajah lawan, terutama kedua matanya. Hasilnya bagus, kening dan sepasang mata Christopher membengkak. Darah mengucur dari kening Chris dan Kid tetap mengincar dengan jab-jab tajam.

Kleng! Ronde delapan

Chris jatuh dua kali. Wajahnya lebam, mata kirinya tertutup. Darah meleleh dari sudut mata Christopher. Dan Kid tetap mengincar pelipis, mata dan juga rusuk.

Kleng! Ronde Sembilan

Perhitungan Felix menyatakan nilai sama. Kid lebih unggul dalam pengumpulan ronde tetapi dua kali knock down. Chris  juga dua kali knockdown. Hal ini membuat Pacheco gelisah. Bisa saja meski unggul nilai, tetapi kemenangan angka bisa diberikan kepada Chris.

Pacheco berbisik kepada Kid. “Kau hajar terus dia, perbanyak jab ke wajahnya. Kau lihat kedua matanya mulai menyempit. Tetapi tetap waspada, dia mungkin hanya pura-pura dan setiap saat bisa memukul dengan senjata barunya.”

Gedung sasana makin riuh. Diterpa cahaya lampu keringat dan panas tubuh penonton makin histeris mendukung Kid Salasa. “In..... do .... ne .... sia......in..... do .... ne... sia...” Dalam beberapa ronde terakhir Kid Salasa berubah beringas, kejam dan tak kenal takut. “Aku mati di atas ring, tapi mati dalam keadaan memukul kepala musuh jahanam ini. Aku atau dia yang mati !” Gumamnya dalam hati dan pikiran.

Kleng! Ronde sepuluh

Kid harus memukul terus. Tak boleh berhenti. Jika ia berhenti maka truk Amerika itu akan menggilasnya. Cuma satu hal yang bisa dilakukan Kid Salasa, memukul dan memukul! Dan dia tetap mengincar mata musuhnya.

Chris maju terus, merangsek mencari ruang, melancarkan hook dan swing mautnya. Kid kini tak gentar, ia merasa daya pegas pukulan Chris menurun. Pukulan Chris kini lebih lamban, sehingga Kid mudah mengelak. Bobot pukulan juga  berkurang. Di awal pertarungan pukulan itu membuat lutut Kid goyah, kini tidak lagi. Bobotnya hilang sekitar tiga puluh persen.

Tetapi dua hal yang masih utuh dalam diri Chris, semangat tarung dan keinginan menang. Di pihak Kid, naluri primitif yang ingin menghabisi lawan semakin berkobar. Kekuatan fisiknya tak berkurang, jab masih saja tajam dan menyengat. Jab-jab itu telah membuat wajah Christopher sulit dikenal lagi.

Kedua mata Chris makin tertutup oleh bengkak. Geraknya mulai lamban. Tampaknya Chris tak siap untuk bertarung jangka panjang. Dalam beberapa pertarungan terakhir dia tak pernah tarung sampai selesai, selalu lawannya KO di bawah ronde tujuh. Keperkasaannya ini ternyata jadi boomerang baginya.

Ketika pertarungan harus melalui ronde demi ronde, kepercayaan dirinya makin berkurang. Tetapi ia tak mau jatuh. Kid telah membuat dia sempoyongan di ronde sepuluh, tetapi ia kembali selamat oleh bell. Wasit melihat ia tidak jatuh, sehingga tak perlu melakukan hitungan.

Chris sudah habis. Tak ada lagi yang tersisa dari keperkasaannya. Tetapi ia terus maju dan maju. Ia bertekad keras menemukan jarak tepat. Aku cuma perlu satu pukulan saja! Dan Kid akan kukirim ke neraka!” Tekadnya dalam hati.

Tetapi Kid dalam kondisi lebih segar. Kid tak mau Chris masuk. Dia melepas jab dan straight yang bagaikan rudal meledak di wajah Christopher. Jab Kid ibarat misail udara ke udara berkecepatan tinggi. Sementara pukulan hook Chris ibarat meriam kapal perang yang makin tahun makin lamban.

Sebenarnya Kid tak kalah menderita dibanding Chris. Pertarungan telah menguras seluruh tenaga simpanannya. Setiap memukul ia seperti mendengar tulang dan otot tangan dan lengannya berteriak. Seakan ia mendengar gemeretak engsel bahunya setiap jabnya mendarat di wajah lawan. Jari-jari tangan seperti tak ada rasa lagi, baal.

            Seluruh bagian tubuhnya berteriak keras, minta istirahat. Tetapi sejak ronde ke sepuluh, ia tak boleh berhenti memukul. Jika berhenti memukul, ia binasa. Truk Amerika itu akan menggilasnya. Karenanya ia tak pernah berhenti memukul.

            Istirahat menjelang ronde terakhir Kid merasa jari-jari tangan Victor seperti elusan bidadari di atas tubuhnya. Nikmat. Pada saat yang sama ia merasa tangan itu seperti menghancurkan tulang-tulangnya. Kid tak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan.

Jose Pacheco berbisik. Kid kau hebat, aku bangga kepadamu! Masih ada satu ronde lagi, selesaikan sampai tuntas, Kid.”

            Pacheco melihat ke pojok seberang. Ia melihat kesibukan di sana. Seperti kacau. Ia berbisik pada Kid. ”Kupikir kau akan sendirian di atas ring. Rasanya dia tak mampu melanjutkan, matanya tertutup, Kid.”

Kleng! Ronde dua belas

Kid berdiri. Tulang-tulangnya berteriak. Kaki, paha dan betisnya nyeri. Tangan seperti lumpuh. Dengan susah payah dia bisa melangkah dan mengangkat tangannya. Siap tarung dan siap memukul.Tetapi dia tidak melihat Christopher.

Mana si gringo? Mana manusia baja yang pantang menyerah itu? Mana dia?

Tiba-tiba Pacheco menghambur ke dalam ring, diikuti Felix, Victor dan Morgan. Kiai Durachim dan beberapa orang lagi yang tak sempat dikenalinya. Kid Salasa masih bingung tak tahu apa yang terjadi.

Pacheco, Victor dan Morgan mendukungnya ke atas pundak mereka. ”Kau menang, Kid! Kau menang, kau juara sejati. Kid, kau menang!”

“Benarkah aku menang?” Kid tersenyum pahit. Dia menang, tak begitu berarti baginya. Lebih berarti saat ini, berhenti memukul. Dia benar-benar ingin pulang dan istirahat. Cuma itu.

Kemenangan Kid Salasa di sambut sorak riuh penonton. Gedung seakan meledak oleh gempita penonton. Atmosfir pertarungan yang begitu tinggi dikembangkan dua petinju kini mencapai puncak, meledak menjadi kegembiraan yang bercampur histeria.

Pertarungan berdarah itu sudah selesai. Celana, dada, wajah dan sarung tinju Kid berlumur darah. Darahnya sendiri. Wajah Chris tak bisa dikenali lagi, dengan dua mata yang tertutup rapat. Pertarungan mengerikan itu telah berakhir.

Salina terduduk di kursi, terhempas ke dalam kegembiraan yang luar biasa. Seluruh tubuhnya terasa lemas, tak bertenaga. Ia hanya mampu menangis.

Pertarungan ini gila! Pertarungan ini telah menyita seluruh perhatian, konsentrasi dan emosinya. Dia merasa tak lagi punya tenaga.Tak tahu lagi apa yang harus ia ucapkan ke tape genggam, yang sejak tadi tak pernah berhenti merekam.

“Persetan dengan semua ini, yang penting kekasihku selamat. Ia menang atau tidak, itu tidak penting. Tetapi bahwa pertarungan telah berhenti, syukur kepada Allah.” Salina berkata dengan penuh perasaan dan tape itu setia merekamnya.

Wajah Halim Buntaran pucat. Menteri Olahraga mengucap selamat. ”Terima kasih anda telah mencetak juara sejati dari negeri kita.Tanpa anda sebagai promotor tidak mungkin Indonesia punya juara dunia.”

Halim tersenyum, ia tak mampu mengucap sepatah kata. Hampir limaratus milyar miliknya ludes. Halim berdiri namun kakinya seperti tak menginjak tanah. Mendadak saja ia ambruk, pingsan.

Putra Halim, Edward masih bingung, dan linglung. Ia tak percaya apa yang dilihatnya. Kid Salasa menang? Tetapi ia segera sadar dan membantu ayahnya. Semua orang yang berada di dekat tempat kejadian cepat bergerak menolong.

“Pak Halim pingsan. Pak Halim pingsan.

Dia terlalu gembira sampai pingsan.” Tukas Kolonel Supangat kepada bossnya.

Hari itu semua orang bersuka ria, muda-mudi berkendaraan mobil membunyikan klakson. Hingar bingar di seluruh Jakarta. Bahkan di penjuru nusantara khususnya wilayah Maluku Utara. Bendera Merah Putih diarak dimana-mana. Pesta rakyat semalam suntuk berlangsung sampai pagi.

Semua orang Indonesia merasa bangga seorang putra Indonesia  menjadi juara dunia sejati dan diakui tiga badan tinju terbesar di dunia, IBF, WBA dan WBC.

Di kamar eksklusif rumah sakit di kawasan kuningan, Richard alias Tokek berbaring dengan wajah pucat. Dari tadi ia tersiksa melihat penampilan Kid Salasa yang begitu perkasa. “Semua sistem berjalan lancar. Dia sudah menenggak obat bius  tetapi masih bisa berdiri dan tarung dengan gagah, dia bukan manusia!” Bisiknya.

Ketika Kid Salasa diusung sebagai pemenang, Tokek merasa dunia  sudah kiamat. Dia tahu persis tiga juri sudah diatur King Mambo, kemenangan angka sudah di depan mata. Tapi semua bisa berbalik, pukulan anak Morotai itu merusak mata Christopher memaksa wasit menghentikan tarung.  Mata Chris tertutup rapat oleh lebam.

Tokek sangat terpukul. Ini kekalahan terbesar dalam karir judi. Dia rugi materi sekitar tigaratus milyar rupiah, hampir sembilanpuluh persen kekayaannya. Kerugian lain dia dilaporkan mengalami kecelakaan berat dijalan tol. Kalau pun sembuh dia akan cacat, pincang yang tak mungkin sembuh.

Sesungguhnya bukan kecelakaan, dia diculik dan dipermak beberapa lelaki bertopeng. Kamu orang Indonesia. Negerimu ini sudah banyak memberi kepadamu, sekarang giliranmu membalas jasa. Jangan lagi mencoba merusak negeri ini dengan keserakahanmu mengumpulkan duit.” Ucapan lelaki itu, tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.

( Bersambung eps 40 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com