Cinta 100 Juta Dollar Eps 40

Posted on 02 Februari 2018 ( 0 comments )


Episode 40

Kid Salasa nginap tiga hari di rumah sakit untuk perawatan mengembalikan kondisi fisik. Selama itu dia tidur lelap. Meskipun masih letih dan sakit-sakit di sekujur tubuhnya namun perlahan otot-otot tubuh dan pikirannya kembali normal. Keluarga Kid bergantian menjaga, melarang para tamu membicarakan pertarungan, bahkan melarang nama Christopher  disebut. Alasannya, Kid ingin melupakan pertarungan mengerikan itu.

Salina setiap hari meluangkan waktu menjenguk lelaki yang dia cintai. Selain berkunjung ke rumah sakit dia mengawal pencetakan buku biografi Kid Salasa. Dua hari pasca pertarungan bersejarah itu, naskah terakhir naik cetak bab kisah tarung berdarah yang bersejarah dan euforia kubu Daruba.  

Hari ketujuh pasca pertarungan buku siap dipasarkan, didahului launching dimana Kid tatapmuka dan menandatangani bukubuku yang dibeli penggemarnya. Diperkirakan buku karya Salina Puspakencana  itu akan mencapai best-seller.

Perawatan dan istirahat selama tiga hari telah mengembalikan kondisi Kid Salasa. Keluar dari rumah sakit. Pers memburunya. Karena Pacheco dan Marbella sudah selesai ikatan kontrak maka Kid menunjuk Salina sebagai manajer untuk menyelenggara wawancara di sasana Daruba.

Komentar Kid segera memperoleh tempat di halaman depan. “Aku baru saja keluar dari neraka dunia. Tak ada seujungpun dari tubuhku yang tidak sakit. Itu pertarungan paling berat bagiku, membayangkan itu saja menjadi ngeri. Bahwa aku bisa selamat dan bahkan menang, itu adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa kepadaku.”

Kid memuji Christopher adalah lawan yang paling berat selama karirnya. “Chris adalah petinju besar. Dia hebat, kupikir kalau matanya tidak cedera dia pasti tak akan menyerah. Dia memiliki nyali singa, tubuh tank leopard dan pukulan yang bisa merobohkan tembok, sayang salah satu dari kami harus menang.” Kata Kid.

“Kalau Chris the Truck begitu hebat seperti yang anda katakan, tentu anda lebih hebat lagi, itu maksud anda?” Tanya wartawan.

“Itu anda yang ngomong bukan aku.”

“Siapa lawan berikut apakah Joe Buffalo?”

Aku belum memikirkan itu,  aku masih mau istirahat. Aku terlalu letih dalam tiga bulan terakhir ini.”

 “Apa resep kemenangan anda?Tanya Kimberley yang hadir dalam konperensi pers itu.

Aku beruntung mendapat Jose Pacheco sebagai palatih. Aku disiplin, bekerja keras, ekstra keras, aku  berdoa meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kemudian aku pasrah serahkan keputusan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu saja!”

“Itu saja?” ulang Kimberley.

“Tak mungkin! Dia pasti menggunakan jasa dukun hebat, buktinya obat bius pun tak mempan ditubuhnya. Tenung dari gunung Slamet pun tak mempan. Konon ilmu dari Maluku itu hebat setanding dengan Banten. Kata Kimberley dalam hati.

Sukses Kid Salasa tak mungkin lepas dari kerja keras dan tangan dingin Pacheco  serta tiga orang Miami yang berjuang keras pada saat pertarungan. Perpisahan dengan orang-orang professional ini banyak menarik perhatian pers.

Jose Pacheco meninggalkan Kid Salasa, apa alasannya, apa ada ketidakcocokan? Apakah nilai kontrak tidak cocok?

“Aku bukan berpisah dengan Kid Salasa, aku tidak juga melupakan dunia tinju. Secara fisik secara mental aku tak akan pernah bisa melupakan tinju. Aku masih akan sering membaca tentang tinju dan mengingat selalu Indonesia yang telah memberi kontribusi dan arti yang besar dalam hidupku. Sekarang ini aku bahagia, menutup karir dengan kemenangan Kid Salasa dan membawa pulang kenangan indah hidup di Indonesia.

“Bagaimana peluang Kid menghadapi Joe Buffalo?”

“Aku tak tahu. Yang kutahu adalah Kid Salasa seorang juara sejati dan Indonesia pantas bangga memilikinya.”

“Apa pesan yang kau tinggalkan buat Kid Salasa?”

“Pesanku untuk Kid, kukatakan hanya pada dia seorang, dan tidak untuk didengar orang lain.”

Pers memang tidak pernah tahu apa yang diucapkan Pacheco kepada sang juara dunia dikamar pribadi Kid.

“Kau sudah mencapai puncak karir, popularitas dan kekayaan sudah ada dalam genggamanmu. Apalagi yang kau kejar? Pada usia seperti kau sekarang ini tigapuluh tahun tidaklah mudah untuk bersaing di tingkat dunia. Saatnya untuk kamu mundur, menikah dan hidup tenang. Kapan-kapan kamu bisa pesiar ke Guadalajara menengok aku dan keluargaku.” Kata Pacheco di malam perpisahan.

Selama itu  Kid Salasa menjadi bahan pembicaraan paling menarik. Di warung tegal, kaki lima, sampai ke pub dan pojok musik di hotel berbintang, dari gubuk-gubuk di kali Ciliwung sampai ke kapal-kapal pesiar di laut Jawa, orang membicarakan Kid Salasa seperti kebutuhan primer.

Koran-koran, media online, majalah melangsir berita apa saja yang berkaitan dengan Kid Salasa. Ia menjadi konsumsi utama yang paling diminati orang-orang. Pertarungan berdarah itu tidak pernah habis dibincangkan orang. Media asing pun tak kalah semarak memberitakan pertarungan Kid Salasa versus the Truck itu.

Dua orang yang paling dekat dengan dirinya yakni Kiyai Durachim, dan ibunda Maisaroh, mereka mendesaknya untuk mundur dari dunia tinju dan menikah dengan Salina. “Aku akan mundur, itu pasti tetapi belum sekarang. Dua pertarungan lagi.” Jawab Kid.

            Setelah melangkah begitu jauh dan menggapai tiga gelar dunia kelas welter, Kid merasa sayang harus melepas gelarnya. “Aku telah berjuang keras, latihan keras, bertarung keras untuk sampai di sini. Tidak akan kulepas gelar ini. Aku akan menikmatinya selama mungkin, apalagi kemarin King Mambo menelpon aku, menawarkan pertarungan lawan Joe Buffalo.” Ujar Kid kepada Salina.

            “Kamu janji padaku akan mundur setelah tarung dengan the Truck.” Kata Salina dengan nada merajuk. Mereka duduk berdua di ruang makan.

            “Sabar my dear, satu atau dua pertarungan lagi, setelah itu aku mundur.”

            “Apa yang kamu kejar?” Salina mendesak.

            “Tantangan Joe Buffalo, dia menantang aku.”

            “Kemarin King Mambo nelpon kamu, berapa juta dolar yang dia tawarkan?”

            “Sali kekasihku, kamu memang cerdas, bisa menebak jitu. Mau tahu? Mambo menawarkan seratus juta dolar. Aku ingin seratus limapuluh juta, dia janji akan memberi kabar tawaran terakhirnya.”

            Paras Salina memucat, jantungnya berdebar kencang, membayang pertarungan berdarah lawan Joe Buffalo. “Kali ini akan lebih sengit dibanding the Truck." Katanya dalam hati.

            “Kenapa diam? Aku yakin bisa mengalahkan Buffalo. Tak usah khawatir.” Kid Salasa menjawab santai.

            “Kamu mengejar uang itu? Jadi uang alasanmu?” Salina mulai sengit. Kecewa dan marah karena Kid Salasa sudah berjanji padanya bahwa the Truck adalah lawan terakhir. Kini kekasihnya ingkar janji.

            “Seratus juta dolar, menang atau kalah tetap seratus juta dolar tidak kurang sepeser pun, kalau menang ada tambahan sekian juta, kita bisa honey-moon ke Eropa, keliling dunia. Kubelikan kamu rumah mewah, kalung, cincin berlian. Kita juga naik haji berdua, ajak keluargaku dan keluargamu. Kita rame-rame naik haji. Pulang mampir ke Istanbul menengok keluarga ibumu. Kita beli villa di resot wisata di Puncak. Sali, apa saja maumu akan tersedia.”

            Salina tersentak. ”Inikah wajah Yalas Salasa yang sesungguhnya? Aku harus unjuk sikap, tak boleh aku berdiam diri dan membiarkan dia masuk pusaran tarung yang mengerikan.”

            “Kamu tahu apa mauku?” Suara Salina tajam, dingin dan tajam.

            Kid melihat mata kekasihnya bersinar. “Mengapa kamu marah?”

            “Kamu membeli aku dengan uang jutaan dolar? Menumpuk uang di atas tempat tidurku? Melingkarkan kalung emas berlian di leherku, cincin zamrud di jariku?”

Kini Salina benar-benar marah. “Lihat blus kaosku, harganya tidak mahal, bukan merek puluhan juta rupiah. Aku biasa hidup sederhana, aku tak ingin kemewahan dan membiarkan suamiku, lelaki yang kucinta bertarung di atas ring. Aku tak mau itu. Aku heran selama ini kamu tak bisa mengenalku. Aku anak kampung. tetap anak kampung, aku tak mau dolar mengubah diriku.”

 “Joe Buffalo adalah lawan terakhir. Lalu aku mundur dan kita menikah.”

Beberapa saat Salina diam. Lalu dia bangkit dari kursi. “Sudah malam. Aku pulang.” Katanya singkat.

“Jadi kamu setuju.” Kid mendesak.

“Lain kali kita sambung.” Kata Salina sambil melangkah ke pintu.

Keesokan hari setelah launching buku Kid Salasa. Salina berkunjung ke sasana Daruba. Dia sudah janjian dengan Kid. Saat itu Kid sedang menikmati siaran TV Minggu siang, Salina datang berkunjung.

Tak ada orang lain di situ. Tampak Salina punya kepentingan, kelihatan dari wajahnya yang agak tegang. Pembicaraan basa-basi yang tak ada juntrungan, membuatnya makin gelisah. Ia hendak memulai tetapi selalu gagal. Mulutnya tak kuasa mengatakan itu.

“Sal ada apa, kelihatannya ada sesuatu yang mengganggumu?”

( Bersambung 41 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com