Cinta 100 Juta Dollar Eps 41 Tamat

Posted on 02 Februari 2018 ( 0 comments )


Episode 41

Saking tegangnya, Salina langsung saja ke persoalannya.”Aku mau pulang besok lusa ke London, tiket sudah siap. Yalas aku harus melakukan ini, tak bisa tidak…aku harus…”

Kid tadinya mau tertawa tapi batal. Dilihatnya Salina terlalu tegang.”Tunggu. tunggu dulu, pelan-pelan Sal. Maksudmu kau sudah membeli dua tiket dan lusa kita berangkat, begitu? Kelihatannya terburu-buru, kita kan harus siapkan segalanya….”

Salina memotong, bukan begitu maksudku. Aku tidak mengatakan kita, tapi aku mengatakan aku, berarti aku sendiri. Dan aku sudah siap-siap…”

“Loh, lantas bagaimana dengan rencana kita?”

Yalas, maafkan aku, tetapi ini sudah kupikirkan. Keputusan ini sangat berat, tetapi cuma itu jalan keluarnya.”

“Apa maksudmu, aku nggak ngerti, sungguh-sungguh tidak mengerti.”

“Maafkan, Yalas. Kukira aku tak mampu hidup bersamamu, a….aku…. minta maaf dan minta pengertianmu. Daripada hidup dalam ketakutan dan dicengkeram rasa takut, emosi yang berlebihan dan tegang yang kelewat tegang, lebih baik aku mundur.”

Yalas terkejut. ”Maksudmu semua rencana, melamarmu ke London dan hidup bersama itu hanya karanganmu saja, begitu ?”

“Bukan, bukan begitu Yalas.”

“Bukan begitu bagaimana, kau bilang tak mungkin hidup bersamaku, itu kan sama saja dengan kau mempermainkan…”

Salina memotong. “Please Yalas, dengar dulu. Aku tak mau main-main denganmu. Cintaku tak berubah sampai kapanpun. Aku hanya tak mampu hidup bersamamu, menyaksikan kau mempertaruhkan hidup di atas ring, sementara aku yang menonton di rumah atau di gedung merasakan gejolak emosi yang paling primitif. Itu maksudku.”

“Oke teruskan sampai aku mengerti.

Salina memandang mata lelaki itu. ”Hari-hari paling berat dalam hidupku adalah kemarin ketika menyaksikan pertarungan brutal itu. Aku seperti orang gila. Seperti orang primitif. Berteriak dan mengucapkan kata-kata yang sangat asing bagi telingaku. Menyuruhmu membunuh Chris, itu gila! Menyuruhmu bangun dan berkelahi lagi... Itu semua gila. Emosiku berlebihan, tak terkontrol lagi. Aku menangis, aku menjerit, aku berteriak. Bajuku basah dengan keringat. Begitu pertarungan selesai aku terhenyak di kursi. Kalau tak ada kursi mungkin aku jatuh terduduk di lantai. Aku merasa tulang-tulangku  berantakan. Lemas dan tak bertenaga. Aku menangis, aku merasa seperti habis melakukan pekerjaan teramat berat. Aku bisa gila memikirkan itu, aku yakin aku tak akan sanggup mengulang kejadian seperti itu lagi…”

“Sebelum itu kau sudah pernah melihat pertarunganku. Dalam sparring.

“Itu lain Yalas. Aku sudah pikirkan itu. Dulu aku belum terlibat secara spiritual, emosi dan pikiran. Waktu itu aku hanya menjalankan tugas jurnalis dan itu cuma menyangkut soal data. Keselamatanmu tak ada hubungan dengan emosiku. Tetapi kemarin lain, kemarin itu aku sudah punya hubungan emosi denganmu. Keselamatanmu menjadi amat berarti bagiku, kemenanganmu menjadi urusan penting bagiku.”

Kid Salasa terpesona mendengar cerita itu. “Hebat pengalamanmu itu, sayang aku tak bisa menyaksikan….”

Salina memotong dengan emosi. “Yalas! Kau kira aku main-main, aku serius. aku sungguh-sungguh...! “

Kid memotong. “Aku tahu kau tidak main-main. Hanya aku benar-benar ingin melihat Salina yang begitu anggun, kalem, penuh percaya diri berubah menjadi begitu liar, panik, emosional…”

“Kau bisa dengar rekamannya. Tape ini kuhidupkan terus, dan tanpa sengaja ia merekam semua emosiku. Dan aku telah mentransfer ke disk, kamu boleh memilikinya.”

Ketika semua penjelasan dan diskusi selesai. Salina pamit. Mata gadis itu berkaca-kaca. Ia tampak cantik luar biasa. Lalu dengan segala kekuatan batin dan pikiran  ia berbalik dan melangkah ke pintu.

Saat itu Yalas Salasa tahu, begitu gadis itu keluar dari pintu, maka ia takkan memperolehnya kembali.

“Sal, kemari dulu. Kau lupa sesuatu.

Salina berbalik dan mendekat. Kid menggenggam tangan gadis itu.

“Sal batalkan tiketmu! Pesan dua tiket first-class, kita berdua berangkat empat atau lima hari lagi. Kita punya waktu untuk mempersiapkan segalanya.

“Maksudmu…”

Yah, kenapa tidak? Aku mundur dari tinju, itu kan maumu?

Salina memejam mata dan menggeleng pelan kepalanya.Tidak, aku tidak mau cara begini, Yalas aku tak pernah meminta syarat apapun padamu untuk cintaku.”

“Oke, aku salah omong. Aku mau menjadikan kamu istriku, kita menikah.

“Yalas, jangan dengan cara begini, aku tak mau. Pikirkan lebih dulu masak-masak, apapun keputusanmu kabari aku di London. Apapun keputusanmu aku tetap akan mengingatmu. Cintaku kepadamu abadi.

“Kau salah Salina. Urusan menikah aku tidak boleh bimbang dan bercabang. Aku sudah pikirkan itu berhari-hari sejak Pacheco menasihatiku untuk gantung sarung tinju. Ini saat yang tepat bagimu untuk mundur, begitu kata Pacheco.”

“Sepertinya kau berkorban untukku.”

“Kau juga berkorban untukku. Untuk memperoleh sesuatu yang paling berharga dan yang paling dimaui, adalah wajar bagi seseorang untuk berkorban. Aku ingin kau menjadi istriku, apa salahnya aku gantung sarung tinju. Lagi pula sekarang atau dua tahun lagi, sama saja, aku tetap harus mundur.

“Kamu serius, sungguh-sungguh, tidak ingin tarung lagi.”

Kid memegang tangan Salina, mengecup tangan lembut itu. “Serius. Aku mundur dari tinju, tidak akan bertarung lagi. Katakan rencanamu, kita menikah di mana?”

            Paras Salina berubah ceria, dia tersenyum. “Sudah kurencanakan beberapa hari kemarin. Kamu, Ibu Mai dan keluargamu datang ke London untuk lamaran dan langsung menikah. Lalu kita berdua honeymoon di Skotlan, aku sudah lama ingin pesiar di Skotlan. Kemudian kita kembali ke Jakarta bersama ayah ibuku untuk resepsi perkawinan. Bagaimana? Kamu setuju?” 

            “Setuju. Kamu atur semuanya. Kamu CEO, kamu penguasa.” Kata Kid Salasa.

 

Tamat

 


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com