Wisang Geni part Two Bab 18 bag 2

Posted on 18 Agustus 2014 ( 0 comments )


Bab 18 bag 2

      Saat itu juga Padeksa dan Wisang Geni melompat mundur.

      Padeksa berdiri dengan tegar, nafasnya normal. Tak ada tanda letih. Hanya keringat membasahi wajah dan sekujur tubuhnya. Begitu juga Wisang Geni.

      “Ha… ha…ha… aku puas. Paling tidak kalian para murid Lemah Tulis tahu bukti hebatnya garudamukha dan jurus-jurus turunannya.” Kata Padeksa sambil menatap tajam Wisang Geni yang pernah jadi muridnya meskipun memanggil kakek.

      Wisang Geni mengerti seketika maksud kakeknya. Dia pun berlutut. “Kakek, aku mengerti aku telah salah jalan. Ampuni aku. Mataku terbuka melihat kehebatan jurus garudamukha milik perguruan kita, lebih ampuh dibanding jurus lain yang kupelajari, tetapi kakek, aku tak mungkin memusnahkan jurus lain yang telah kupelajari.”

      Padeksa tertawa. “Memang tampaknya kamu bodoh tetapi sebenarnya kamu cerdas, bisa mengerti maksud tujuanku. Aku tidak memaksa kamu melupakan jurus lalawa, tetapi sekadar memberitahu para murid hebatnya garudamukha. Jurus Lemah Tulis ini begitu hebat dan agungnya sehingga pantas dan layak dipelajari seumur hidup kita.”

      Para murid semuanya duduk sila-sungkem dibelakang Wisang Geni. Mereka berjanji akan rajin dan seksama mempelajari warisan Lemah Tulis itu.

      Wisang Geni maju dan memeluk kaki kakeknya. “Ampuni aku Kek, selama ini aku lupa daratan, seringkali menyinggung perasaanmu.”

      Padeksa berkata lirih. “Bangun Geni. Ada saatnya kakek memberimu pelajaran agar kesombonganmu berkurang.”

      Pertemuan bubar. Para murid kembali ke tempat masing-masing untuk persiapkan diri berangkat esok hari mengikuti petualangan sang ketua. Didalam hati mereka takjub melihat kanuragan kakek Padeksa.

      Prastawana yang melangkah bersama teman-temannya berkata. “Kupikir aku makin bodoh. Melihat tarung tadi, aku bertanya-tanya berapa lama bisa mencapai tingkat itu. Selama ini aku salah duga batas kemampuan paman guru Padeksa. Tingkatnya tak terukur, jelas diatas kelas paman Gajah Watu.”

      “Ternyata garudamukha jurus pusaka Lemah Tulis yang selama ini kita pelajari, memiliki bobot yang sulit diukur, untuk mengembangkan menjadi jurus-jurus hebat tergantung pada kemampuan kita masing-masing.” Tukas Gajah Lengar.

      “Kita yang bodoh, karena tidak mengembangkan diri. Tampaknya kita harus lebih serius berlatih.” Potong Dipta.

      Sebagian para murid masih belum mau memejam mata. Dirumah masing-masing mereka membayang kembali jurus-jurus yang diperagakan Padeksa, merekam di ingatan agar tidak hilang begitu saja.

      Esok paginya mereka melakukan perjalanan menuju Welirang. Masih saja dengan diskusi perihal jurus-jurus garudamukha gubahan Padeksa. Wisang Geni juga melibat diri dalam diskusi dengan para murid. Tidak heran perjalanan amat lambat, beberapa hari kemudian mereka tiba di Welirang.

      Memasuki kawasan lereng dekat perumahan mereka dikejutkan suara seruling yang mengumandang kemana-mana, dipantul tebing-tebing lereng gunung Welirang, menggema sahut-sahutan bagai tak pernah habis. Alunan suara itu sambung menyambung, sehingga menggema tumpang-tindih yang malah menjadikan lagunya kian menarik, dan memukau.

      Kidung asmaradana larabrangta yang terkenal di jaman itu, kisah Mahabrata episode cinta ketika Arjuna si penengah Pandawa kasmaran kepada Dewi Wara Sumbadra. Kidung syair pendekar Pandawa mengemis cinta Sumbadra bergetar sampai menembus kahyangan membuat dewi-dewi swargaloka menangis cemburu.

      “Itu guruku, dia mahir main seruling.” Seru Gayatri tanpa sadar.

      Semua anggota rombongan terpukau. Tidak hanya lagu yang mendayu-dayu juga peragaan tenaga-dalam yang sangat tinggi.

      “Pasti dia nenek jubah kuning,” cetus Prastawana. “Nenek itu yang mengusir Arjapura hanya dengan sentilan tujuh kerikil dari jarak jauh. Tenaga-dalamnya sangat tinggi.”

      “Tunggu. Aku ingat sekarang. Eyang Sepuh pernah menyebut seorang pendekar wanita yang sangat unggul tetapi yang tak pernah menampak dirinya di dunia kependekaran. Dia bersenjata seruling kencana. Kata Eyang Sepuh, aku tak bisa mengalahkan dia tapi dia juga tak bisa mengalahkan aku. Usianya lebih muda dari aku. Seruling kencana bisa jadi senjata, bisa jadi alat tiup.  Sejak bertemu dengannya aku menebak siapa dirinya. Sekarang aku yakin dialah pendekar Seruling Kencana.” Tukas Wisang Geni kepada Gayatri.

      Gayatri bingung, melongo. Gurunya sepadan ilmu-silatnya dengan Suyajagad? Itu berita yang tidak terduga, tak heran gurunya bisa mempermainkan buaya-buaya Porong seperti anak kecil bermain-main dengan  boneka buaya.

      Mereka berjalan terus sampai di rumah.

      Tak ada siapapun. Kosong. Gayatri bersama Wisang Geni dan beberapa murid lari ke gubuk di danau. “Angga? Angga mana?” Seru Gayatri panik.

      Suara seruling masih bergema. Tetapi tidak ketahuan dimana sumbernya. Sepertinya sumber suara berada dimana-mana. Mendadak angin kencang mendesir ke arah mereka. Tahu-tahu Nenek Jubah Kuning berdiri lima meter didepan.

      Nenek itu tersenyum, tangannya menggendong Anggreni yang pulas. Tak ada seruling ditangannya. Hebatnya lagi, gema seruling masih bergaung, sesaat kemudian suara gema itu makin lama makin lemah dan akhirnya lenyap.

      Suasana hening.

      Nenek itu berbisik, “jangan ribut cucuku sedang tidur, dia seharian menangis.”

      “Guru, mana serulingmu!” Seru Gayatri, suaranya lirih tapi mendesak.

      “Mengapa?”

      “Aku mau lihat, mau pinjam.”

      “Kamu ini aneh, ingin tahu siapa aku?” Dia membuka dua tangannya, kosong. Lalu dia menggerakkan tangannya begitu cepatnya sehingga tidak tertangkap mata biasa, mendadak seruling ada dalam genggamannya. Anehnya lagi, Anggreni melekat di dada si nenek.  Itu  pertunjukan tenaga-dalam yang sangat tinggi. Tenaga si nenek mengisap dan menahan tubuh Anggreni sehingga tetap nempel didadanya.

      Nenek itu tertawa melihat Gayatri dan semua orang terpahna.

      “Mau lihat ini, muridku?” Dia menyodorkan kepada Gayatri.

      Seruling itu kuning mengilat, bercahaya kemilau diterpa sinar matahari senja.

Anggreni membuka mata. Bangun. Pendekar tua itu menurunkan Angga di tanah, lalu  memegang pundaknya. “Itu ibu, itu bapak. Mau kemana kamu pergi?”

“Bukan bapak, dia Geni.” Potong Anggreni.

“Iya dia Geni, nah Angga mau pergi kemana?” Sekali lagi Seruling Kencana bertanya.

Anggreni tidak ragu sedikitpun, berseru, “Ibu!” kemudian lari menghambur ke Gayatri yang lalu memeluk dan menciumi sepuasnya.

“Angga. Angga. Kamu sudah makan?” Tanya Gayatri.

“Sudah.” Dia melihat ke arah Wisang Geni. “Ibu, aku mau memeluk Geni.”

Gayatri menurunkan putrinya yang lari menuju Wisang Geni. Laki-laki ini menggendong dan menciumi putrinya dengan gembira.

Anggreni berteriak. “Geni, ampun Geni, aku geli, brewokmu tajam.”

      Para murid meninggalkan tempat, menuju rumah masing-masing. Mereka tidak tahu berapa hari sang ketua nginap di Welirang. “Kita tunggu saja, kupikir ketua juga tidak bergegas, apalagi masih kangen sama putrinya.” Kata Dyah Mekar.

      Wisang Geni menetap sembilan hari di Welirang. Selama itu dia menyepi diatas tebing di goa kediamannya. Dia mengingat-ingat kembali semua jurus dan tarung-tarung yang telah dilaluinya. Dia mengingat pengalaman berguru pada Eyang Suryajagad, juga dialog imajiner dengan guru Lalawa. Satu demi satu jurus-jurus dahsyat itu digelarnya diatas tebing, tidak pagi, tidak juga siang atau malam.

      Para murid Lemah Tulis melewati hari-hari itu bercengkerama dengan pasangannya dan melatih serta berdiskusi tentang ilmu-silat. Gayatri dan Atis selalu berdua, bagai pasangan kembar, memasak dan mengantar makanan untuk suaminya, juga bercengkerama bercinta di dalam goa tebing. Dua isteri ini melayani suaminya.

      Dia mengingat jurus garudamukha yang dimainkan sang kakek. “Ada saatnya nanti aku memperdalam jurus-jurus garudamukha yang aneh itu. Tak mungkin bisa keselami dalam waktu singkat apalagi tanpa bimbingan kakek.”

      Jika jurus menunggang angin sudah hampir sempurna sehingga tidak perlu banyak waktu  pendalaman, tidak demikian dengan jurus lalawa mengepak sayap menembus awan.

      Dia berpikir dan merenungi sihir musuh yang dilebur dalam jurus-jurus tarung  Sebelumnya dia pernah tarung lawan Wasudeva yang juga memeragakan sihir dalam jurus tarungnya. Kini pasti sihir musuh lebih sulit dilawan karena tenaga-dalam dan pengalaman tarung Arjapura lebih tinggi dibanding putranya.

      Pada akhirnya Wisang Geni menemukan cara menghadapi sihir lawan. “Jangan menatap mulut dan mata lawan!” Itulah strategi menangkal sihir musuh. Itu sebab, dia mendalami jurus warisan guru Lalawa.

      Tujuh hari tujuh malam dia mendalami jurus lalawa. Dia merasa telah mengalami kemajuan pesat, lebih menguasai jurus itu. Di malam kelam, terkadang menutup mata, dia mampu melompat diantara tebing dan jurang. 

      Malam itu, malam kedelapan dia melatih jurus lalawa. Jantung Gayatri dan Atis berdebar keras saking tegangnya menyaksikan peragaan suaminya dengan mata tertutup kain hitam memainkan jurus lalawa, melompat dan memukul di antara tebing dan jurang.

      Pagi hari, Wisang Geni bangun karena mendengar percakapan dua isterinya. Matahari sudah agak tinggi.

      “Kapan kita berangkat?” Gayatri bertanya.

      “Hari ini aku main-main dengan Angga. Besoknya kita berangkat ke Lembah Cemara,” katanya pada dua isterinya.

Wisang Geni tak lagi bicara. Dia duduk sila semedi menjalankan pernafasan, membiarkan tenaga wiwaha bermain-main disekujur tubuhnya. Dia merasa nyaman, bebas merdeka. Bebas seperti angin, tak ada yang bisa menghalangi. Tak ada hambatan. Lalu dia berkidung. Suaranya lantang, tidak keras namun jelas terdengar dimana-mana. Bergema ditebing-tebing.

Ilmu dari seberang,

Tak boleh tepuk dada,

 Di tanah Jawa ini

Dari gunung Lejar,

Jurus penakluk raja,

Ilmu dari segala ilmu

Dari lembah kera,

Jurus Lalawa mengepak sayap

Menembus awan

Melenggang ke barat,

Meluruk ke timur,

Merangsak ke utara,

Merantau ke selatan

Tak ada lawan,

Tak ada Tandingan,

 Ilmu dari segala ilmu

      Pagi itu Wisang Geni memanggil Prastawana, Dipta, Daraka, Gajah Nila, Gajah Lengar kumpul di rumahnya. “Aku akan ke Jedung tarung dengan Arjapura.”

“Kami mendengar banyak murid yang ingin menyaksikan tarung itu, katanya untuk dapat pelajaran langsung dari guru.” Tutur Daraka.

 “Pilih murid yang berbakat yang bisa memetik pelajaran dari tarung ini.”

Rombongan dipecah dua. Wisang Geni dan dua isterinya singgah di lembah cemara, di batas hutan cemara mereka bertemu Nenek Seruling Kencana yang menuntun Anggreni. Para murid Lemah Tulis menuju Jedung menunggu kedatangan sang ketua.

      Wisang Geni bersama Gayatri, Atis, Nenek Jubah Kuning dan Anggreni tiba di batas pepohonan cemara. Wisang Geni mengerahkan tenaga-dalam mengirim suara. “Nenek Dewi Obat, aku Wisang Geni mohon bertemu.”

      Selang beberapa saat dua pendekar wanita separuh abad berlarian keluar dari pepohonan. Keduanya berdiri dalam jarak dua tombak. “Wisang Geni apa yang kamu perbuat terhadap cucuku Sekar?” Tegur si Sapu Lidi. Suaranya bernada marah.

      “Aku tidak berbuat sesuatu. Mendadak dia menceraikan aku.” Wisang Geni menyahut datar, menganggapnya bukan masalah penting.

      “Kamu ingkar janji, kamu menyakiti cucu Surayagad, apakah karena sekarang jurusmu kelewat hebat sehingga kamu begitu temberang?” Tegas Sapu Lidi. “Kamu semena-mena, membuang cucuku begitu saja.”

      Wisang Geni tersudut. Dia memang merasa bersalah terhadap Sekar. Teguran Nenek Sapu Lidi bagaikan pisau menikam jantungnya. 

      Melihat suaminya diperlakukan dengan kasar, Atis tak lagi bisa menahan diri. “Kamu  tidak tahu diri, tingkahmu kasar.” Suara Atis terdengar ketus dan tajam.

      Mata Sapu Lidi mendelik. Meneliti Atis. “Namamu Atis?”

      Wisang Geni hendak mencegah, tapi terlambat. Atis menyahut ketus. “Aku Atis, mau apa kamu?”

      Tiba-tiba Sapu Lidi menjerit. “Kamu biang keladinya, Sekar menolongmu, tapi kamu membalasnya dengan fitnah dan pengkhianatan.”

      Tidak hanya memaki, saat yang sama Sapu Lidi menerjang.

      Wisang Geni terkejut. Dua tangannya menangkis serangan pendekar tua itu.

      Gerakan Sapu Lidi sangat gesit. Ringan-tubuh wimanasara dan jurus sapwatanggwa yang biasa dimainkan Sekar, kali ini digelar Sapu Lidi sangat jauh berbeda, dua atau tiga kali lipat di atas Sekar.

      Pukulan Sapu Lidi menggunakan tenaga segoro membuat tangan Wisang Geni bergetar. Tenaga wiwaha tidak lebih tangguh dari segoro. Namun ringan-tubuh Sapu Lidi sangat trengginas, dia meminjam tenaga benturan tanpa kakinya memijak bumi dia melayang bagai anak panah melesat ke Atis yang saking kagetnya tak mampu bergerak.

      Gayatri yang berdiri disisinya ingin menolong tetapi tak sanggup menghadapi kecepatan gerak Sapu Lidi.

      Wisang Geni mengejar hendak menolong Atis. Memukul dengan tenaga dingin.

      “Plaaakkk…”

      Atis menjerit. Tamparan Sapu Lidi keras mengena pipinya.

      “Aduuhhh.”

(Bersambung Bab 18 bag 3)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com