Wisang Geni part Two Bab 18 bag 3

Posted on 18 Agustus 2014 ( 0 comments )


Bab 18 bag 3

      Atis menjerit. Tamparan Sapu Lidi keras mengena pipinya.

      “Aduuhhh.”

      Nenek Sapu Lidi mendengar angin pukulan mengancam punggungnya, Tidak tanggung-tanggung Sapu Lidi bertindak trengginas. Tangannya menjambret rambut Atis, memutar tubuhnya sehingga menghadap pukulan Wisang Geni. Seketika Wisang Geni terkejut, jika meneruskan pukulan akan menimpa badan Atis. Dia cepat mengalihkan pukulannya ke tempat kosong.

      Saat itu kaki Sapu Lidi menendang bokong Atis yang terlempar ke arah Wisang Geni. Semua kejadian itu berlangsung cepat.

      Wisang Geni menangkap tubuh isterinya. Atis menggigil ketakutan, menangis lantaran sakit. Dia tak pernah menyangka mengalami kejadian seburuk itu. Pipinya bengkak. Sebagian rambutnya tercabut.

      Amarah Wisang Geni meluap. “Kamu keterlaluan, menyakiti isteriku depan mataku.”

      Sapu Lidi berdiri tegar. “Jangan pandang aku sebagai isteri Suryajagad, anggap aku musuh besarmu, akan kulayani kamu seratus jurus.”

      “Kamu kira aku takut?” Nada suara Wisang Geni tinggi. Apalagi dia melihat tangan Sapu Lidi menggenggam seuntai rambut yang tercabut dari kepala Atis.

      “Siapa pun orang menyakiti Sekar, dia menyakiti aku. Tidak perlu kamu mengingat budi Suryajagad, maju tarung. Kulayani kamu.” Sapu Lidi tertawa sinis.

      Wisang Geni serba salah. Menahan diri atau menerima tantangan dan tarung lawan Sapu Lidi, isteri dari Eyang Sepuh Suryajagad, guru yang paling berjasa padanya.  

      Terdengar suara Atis. “Mas, jangan tarung. Kumohon, jangan tarung. Semua salahku.” Atis berkata sambil mengelus pipinya yang merah bengkak. Dua giginya copot.

      Wisang Geni merasa keder. Melihat gerakan Sapu Lidi yang trengginas, dia sendiri tidak yakin bisa mengimbangi nenek tua itu. Sesaat amarahnya kumat, saat berikut dia sadar bahwa Sapu Lidi adalah isteri Eyang Sepuh.

      Pada saat itulah Wisang Geni melihat sosok wanita cantik jelita muncul dari balik pepohonan cemara. Dialah Sekar!

      Jantung Wisang Geni berdebar kencang memandang Sekar. Begitu cantik dan sempurna, hampir saja dia tak mengenali. Tak pernah disangkanya wanita jelita mirip dewi kahyangan itu adalah Sekar yang pernah menjadi isterinya.

      Dulu Sekar juga cantik tetapi dibungkus baju kusam dan lusuh, kini wanita itu tampil begitu penuh pesona, cantik berseri. Busananya bersih, kebaya dan celana ketat yang dilapis sewek di pinggulnya memperlihatkan potongan tubuh yang seksi proporsional.

      Ketika itu terdengar suara Angga yang nyaring. “Bibi Sekar, mana kangmas Seno?”

      Di samping Dewi Obat dan Sapu Lidi, berdiri Sekar berdampingan dengan Samba. “Oh Angga anak manis, mas Seno sedang main-main.” Kata Sekar.

      Anggreni menoleh kepada Seruling Kencana. “Aku mau main dengan mas Seno.”

      Saat itu seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berdiri diantara pepohonan cemara, berseru. “Angga, sini kita main di empang.”

      Anggreni melihat Antaseno, seketika dia berseru, agak menjerit. “Mas Seno.”

      Gayatri berkata. “Pergi main dengan kangmasmu.”

      Angga berlari cepat. Dua anak itu berpelukan, lalu Antaseno memegang tangan adiknya, berlari masuk kedalam rimba cemara.

      “Jangan lepas tanganku Angga, nanti kamu kesasar.” Terdengar suara Antaseno. Lalu tawa dua anak kecil berderai, makin lama makin perlahan dan menghilang.

      Sekar memerhatikan wajah Atis yang pipinya merah lebam dan rambutnya acak-acakan, seketika dia tahu ulah neneknya. Dia hendak menegur neneknya, tapi batal. “Biarkan itu pelajaran buat si centil genit itu.” Katanya dalam hati.

      Tiba-tiba terdengar tawa Sapu Lidi. “Tidak disangka-sangka kita bertemu di sini, Tintin Seruling Kencana angin apa yang mengantarmu kemari?”

      “Tigapuluh tahun tak bertemu, ilmu-silatmu makin tak terukur.”

      “Jangan merendah, ilmu-silatmu juga pasti makin tak terukur. Apa maksud datangmu?”

      Seruling Kencana tertawa. “Tentu saja bersahabat. Anggreni cucu muridku, ibunya adalah  muridku. Lalu Antaseno itu cicitmu. Keduanya bersaudara, anak Wisang Geni, jadinya mau tidak mau kita pun harus bersahabat.”

      Sapu Lidi  tertawa. “Kita punya hitungan masa lalu, bagaimana urusan diselesaikan?”

      “Tidak ada yang perlu diselesaikan, tak ada apa-apa. Aku tak pernah merebut dia darimu, dia tetap suamimu, aku hanya bersahabat, tukar pikiran ilmu-silat, aku tidak mengambil sesuatu darimu. Apalagi dia kini sudah moksa, mengapa harus bertengkar?”

      “Kamu mengajak dia bercinta?”

      “Aku wanita yang tidak bahagia. Kamu isterinya, ibu dari anaknya. Aku hanya wanita singgahan. Jika bertemu, kami bercinta sehari dua hari, tak ada ikatan apapun. Suamimu itu tetap mencintaimu, dia tak pernah lupa padamu meskipun dia berada jauh di suatu tempat. Sesungguhnya yang memisahkan dia darimu hanya kegilaannya terhadap ilmu-silat, bukan karena aku atau wanita lain.”

      Tiba-tiba Sekar memotong pembicaraan dua pendekar tua itu. “Inikah nenek Tintin sahabat dan kekasih kakek? Sudahlah Nek kalian berdua sudah tua, saatnya kalian menjalin persahabatan dan menikmati hari tua.”

      Wisang Geni tak sedetikpun melepas pandangan dari Sekar. Dia bahkan tidak mengikuti apa yang terjadi sekitarnya, pandangannya menetap pada sosok bekas isterinya. Parasnya kini lebih cantik, berseri-seri, ceria.

      Tampak Sekar lebih bahagia. Tubuhnya segar semakin molek dan matang. Tak pernah dia bayangkan akan melihat sosok Sekar secantik ini, lebih cantik dari Atis dan Gayatri.

      ”Mataku buta tak melihat kecantikannya, bagaimana aku bisa mengatakan Atis lebih cantik, kenyataannya dia lebih cantik, sangat cantik jelita, tubuhnya indah. Betapa bodohnya aku melupakan dia?” Dia memaki dalam hati.

      Dan lelaki itu, tampak kekar, atletis dan tampan. Keduanya pasangan serasi. Pakaian tidak lagi kusut dan kumal, tetapi bersih. Wisang Geni mengenali Samba. Tiba-tiba dia diusik niat membunuh. “Bukankah Samba pimpinan pasukan rodra yang telah membunuh puluhan murid Lemah Tulis?” Mata Wisang Geni yang tadinya bersinar lembut mesra memandang Sekar, berubah tajam menyala melihat Samba.

      Hal ini tidak luput dari pengamatan Sekar. Tiba-tiba saja menyeruak keberanian Sekar yang selama ini terpendam karena ketergantungan berlindung pada Wisang Geni.

      Sekar menatap bekas suaminya dengan tangannya menggenggam tangan Samba. “Geni, sejak kamu ingkar janjimu dan melupakan aku, dan lebih mencintai Atis. Sejak itu, bagiku kamu sudah mati. Aku bertemu kangmas Samba yang mencintai aku selama empat tahun, dan  aku telah memilih dia sebagai suamiku. Ini permainan karma!”

      Bimbang. Wisang Geni ragu dan bimbang.

      “Pasukan rodra telah kamu tumpas. Semua anggota Rodra tewas di bukit Gunduk. Kalau masih belum cukup nafsu membunuhmu dan ingin membunuh suamiku, aku akan melawanmu, mati hidup. Kami sehidup semati, tidak gentar menghadapi kematian. Dan belum tentu kamu lebih unggul dari kami berdua.” Sekar lalu pasang kuda-kuda.

      Dewi Obat yang berdiri di sisi Sapu Lidi tiba-tiba tertawa. “Ini cerita baru. Cucuku Sekar makin cantik dan montok, lalu Wisang Geni ingin membunuh Samba dan merebut kembali Sekar. Dia mau bertindak semena-mena, membunuh Samba dan Sekar dengan jurus ajaran kakeknya Sekar, sungguh perbuatan tidak bermoral. Inikah pendekar nomor satu tanah Jawa, bagiku dia seekor ular berbisa yang tega menggigit cucu majikannya.”

      Paras Wisang Geni berubah-ubah, merah padam, pucat, kembali merah. Dia sangat marah, ingin menerjang melabrak Dewi Obat.

      “Sekar telah memilih suami yang sesuai kata hatinya. Aku sudah merestuinya.” Kata Sapu Lidi sambil melangkah ke sisi Sekar. “Sehelai rambut Sekar kamu usik, kamu akan hadapi aku sebagai lawan dalam tarung mati hidup. Ketahuilah hai pendekar nomor satu tanah Jawa, aku isteri pendekar yang telah mengajari kamu ilmu-silat kelas atas. Jika bukan jasa Suryajagad kamu bukan apa-apa dalam dunia persilatan, tetap seekor kecoak buduk.”

      Nenek Sapu Lidi siap dengan kuda-kuda. Menarik keluar senjata sapu lidi dari balik punggungnya. Namanya sapu lidi, tetapi hanya tongkat sepanjang setengah meter dihiasi sekumpulan lidi yang terbuat dari baja halus yang lentur tapi tajam.

      Saat itulah Atis dan Gayatri yang berdiri mengapit Wisang Geni, menggenggam masing-masing tangan suaminya.

      Lalu Gayatri berkata lirih. “Mas Geni ingatlah, mereka semua keluargamu, ingat anak-anakmu. Apakah kamu lupa mas Geni? Bukankah damai itu indah?”

      Wisang Geni sadar. “Yah damai itu indah.” Memandang Sekar dia berkata lirih. “Kamu telah memilih, aku menghormati pilihanmu, seperti katamu, ini semua permainan karma.”

      Sekar menyahut dingin dan tegas. “Aku tak ada urusan lagi denganmu Geni. Ingat, jika kamu usik keluargaku, akan kuhadapi kamu, mati atau hidup. Darah kakekku Suryajagad si pendekar Matahari mengalir ditubuhku, tak ada rasa takut dalam diriku.”

      Lalu dia menoleh menghampiri dan merangkul dua neneknya bergantian. “Kami berdua  nginap di sini beberapa hari, aku puas ngobrol dengan Nenek dan main-main dengan Seno. Sekarang kami pamitan.” Tukas Sekar. “Nek, jangan lupa janjimu mengunjungi kami.”

      Tanpa memandang Wisang Geni, Sekar menarik tangan Samba, melangkah pergi.

      Atis berseru. “Mbakyu Sekar, tunggu!” Dia menghampiri suami isteri itu.

      Atis menghampiri Sekar, matanya berkaca-kaca. “Maafkan aku mbakyu, kalau gara-gara aku kamu pisah dengan mas Geni. Aku mohon ampunanmu.”

      “Aku tak punya urusan dengan kamu lagi. Aku telah melupakan masa lalu.” Kata Sekar yang memeluk lengan suaminya. “Lagipula kalau aku mau bercinta dengan suamiku Samba, aku tak perlu tunggu giliran atau antri, hi… hi… hi…” Sekar tertawa mengejek Wisang Geni yang parasnya pucat. “Suamiku ini lelaki yang sempurna … ha… ha… ha..”

      Gayatri menghampiri Sekar, berbisik. “Kapan-kapan aku menjengukmu, boleh?”

      “Boleh, silahkan datang, aku menunggumu.” Sekar memeluk Gayatri, berbisik. “Desa Panton Tanjung Gerinting di tepi laut. Jangan bawa si Geni.”

      Pasangan suami isteri bergandengan mesra, melangkah pergi. Bersiul memanggil kuda tunggangannya.  

(Bersambung Bab 19 bag 1)

 

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com