Wisang Geni part Two Bab 19 bag 1

Posted on 20 Agustus 2014 ( 0 comments )


Bab Sembilanbelas

Tarung Pamungkas

Bab 19 bag 1

      Berita pertarungan massal perguruan Lemah Tulis dan Brantas diceritakan dari mulut ke mulut di dunia kependekaran. Nama Wisang Geni disebut-sebut sebagai ketua Lemah Tulis yang memimpin balas dendam terhadap Brantas itu.  

      Perguruan Brantas hancur. Banyak perahunya terbakar, termasuk markas besarnya di perahu layar besar. Semua pimpinan Brantas tewas, hanya sebagian kecil, murid-murid rendahan yang sempat melarikan diri.

      Berita itu teruar sampai ke pelabuhan Jedung. Mengapa? Karena di Jedung sebagian murid Brantas memegang kendali keamanan. Satu per satu mereka menghilang, takut pembalasan dari Lemah Tulis. 

      Arjapura juga terkejut. Dia termenung. “Wisang Geni masih hidup, dia sembuh dari racun pukulan kalajengking biru. Kini dia pasti akan mencari aku. Dua isterinya mati kubunuh. Gayatri kuperkosa. Dia pasti sangat dendam dan akan mencari aku. Kali ini aku tak boleh gagal. Aku akan membunuhnya, melihat sendiri dan menikmati kematiannya. Urusanku dengan dia harus selesai di sini di Jedung. Nyawa putraku harus cepat ditebus.”

      Sejak hari itu Arjapura mempersiapkan diri, dari pagi sampai sore semedi dan berlatih di tempat sunyi. Isterinya, Minten membawakan makan siang dan sore. Menjelang malam dia pulang  memeluk isterinya dan bermain-main dengan Lastri putrinya.

      Pagi itu ketika dia bersiap-siap hendak menuju tempat latihannya, terdengar gema suara kidung jurus penakluk raja.

Ilmu dari seberang,

tak boleh tepuk dada,

di tanah Jawa ini

Dari gunung Lejar,

jurus penakluk raja,

ilmu dari segala ilmu

Dari lembah kera,

jurus Lalawa mengepak sayap

menembus awan

Melenggang ke barat,

Meluruk ke timur,

Merangsak ke utara,

Merantau ke selatan

Tak ada lawan,

tak ada tandingan,

ilmu dari segala ilmu

      Arjapura tahu itu suara Wisang Geni. Dia berkata kepada Minten isterinya. “Itu musuhku datang!” Lalu bersiap-siap berangkat.

      Minten memeluk suaminya. “Arja, kembalilah padaku! Ingat anakmu!”

      “Aku akan kembali!” Arjapura yakin akan memenangkan tarung. “Tidak ada pendekar yang mampu menahan gebrakan ilmu-silat warisan penguasa gunung putih.” Katanya sambil melangkah pergi menuju asal suara kidung.

       Dia tiba di lapangan terbuka di pinggiran hutan berbatasan pelabuhan Jedung.

      Tampak Wisang Geni berdiri sendirian di tengah lapangan, dadanya telanjang memperlihatkan tato kelelawar menyeringai.

      Di pinggiran hutan, tampak para murid Lemah Tulis. Disisi lain puluhan penonton termasuk ponggawa keamanan pelabuhan ikut nonton. Bahkan juga para pedagang yang sedang menanti keberangkatan kapal, ikut nonton. Itulah tarung antara dua pendekar yang sulit dicari tandingannya.

      “Kamu membawa banyak pengikut, seluruh murid Lemah Tulis siap membantumu.” Lalu matanya menemukan Gayatri yang berdiri di dekat Atis dan beberapa murid wanita. Dia menambahkan. “Oh kekasihku Gayatri juga datang, setelah kamu mati, aku akan menidurinya lagi. Limabelas hari bersamaku, setiap hari Gayatri kasmaran padaku, katanya aku lebih jantan dari suaminya.” Masih tertawa keras dia melanjutkan, ”Kekasihku Gayatri, menceritakan rahasiamu, katanya kamu banci.”

      Gayatri gemetar marah. “Penjahat cabul, akan kubunuh kamu!”

      Ucapan Arjapura dan Gayatri tidak memengaruhi pikiran Wisang Geni yang sudah mulai terapkan strategi, tidak melihat mata dan mulut Arjapura. Dia tahu apa harus dia lakukan. Menggunakan kelebihan jurus lalawa mengepak sayap mempertajam indera untuk menangkap gerak paling kecil dan bunyi paling lemah sehingga tak perlu menatap mata musuhnya.

      Kali ini tarung pamungkas.

      Mati atau hidup. Bunuh atau dibunuh. Sebagaimana pesan guru Lalawa. “Tak boleh punya rasa kasihan, tarung adalah membunuh, pukul dia sungguh-sungguh, apakah dia terluka atau mati, itu resiko tarung. Jurusku tak bisa dilakukan setengah-setengah.”

      Tanpa ragu sedikitpun begitu masuk arena tarung Wisang Geni mengerahkan kekuatan wiwaha dan ringan-tubuh waringinsungsang dalam skala tinggi. Benar juga perkiraannya, ternyata Arjapura langsung menggebrak dengan dahsyat, bobot pukulan dan tendangannya jauh melebihi kapasitas tarung di desa Sajan.

      Seketika itu juga terjadi tarung dahsyat antara dua pendekar berilmu-silat tinggi yang hanya memikirkan membunuh. Dalam sepuluh jurus terjadi benturan tenaga beberapa kali.

      “Dessss…. Tassss…. Buuuukkk!”

      Debu mengepul saking hebatnya tekanan tenaga lawan sehingga kuda-kuda harus lebih kokoh memijak bumi. Meskipun bisa melayang sambil adu pukulan namun Wisang Geni ingin menjajal bobot pukulan musuh, begitu juga Arjapura. Jajal tenaga lawan. Tak terhindar adu pukulan mewarnai tarung hidup mati itu.

      Tarung berlanjut dengan menggunakan ringan-tubuh tingkat tinggi sehingga kaki tidak lama memijak bumi. Pijakan kaki ke bumi hanya untuk menggenjot tenaga melayang atau memindahkan serangan musuh ke bumi. Adu tenaga, adu siasat merupakan ujung dari kematangan dan penguasaan ilmu silat yang selama ini dihayati.

      Arjapura sejak awal telah merapal sihir pemuncaknya dalam jurus-jurus hum samundar ke andaarchale (menuju kedalaman laut samudera) yang terdiri tujuh jurus dan bahutzara hashtato tothodasa pagal chaknahai (tertawalah terus dan kamu akan seperti orang gila) yang terdiri lima jurus dengan banyak perubahan dan variasi serangan.

      Jurus-jurus yang diiringi sihir lewat mata dan ucapan ini pernah dimainkan putranya, Wasudeva, yang sempat membuat Wisang Geni kalang kabut bahkan nyaris mati empat tahun lalu. Kini dimainkan sang ayah yakni Arjapura maka bisa dimengerti besarnya tekanan terhadap Wisang Geni.

      Bentakan Arjapura terdengar bagai gelegar halilintar dan guruh di telinga Wisang Geni. “Pengecut hina! Tatap mataku, banci, jangan merunduk, tatap mataku, mana kejantananmu. Kamu membunuh putraku dengan tipu-daya memalukan. Kamu pengecut hina!”

      Arjapura mulai mengganggu konsentrasi Wisang Geni. Dia menceritakan hubungannya dengan Gayatri bermuatan kata-kata kotor, untuk memancing emosi Wisang Geni. Bagaimanapun juga berusaha tidak mendengar tetapi ucapan Arjapura itu telah memancing emosi Wisang Geni menjadi kemarahan seperti banteng yang luka.

      Ucapannya tidak begitu keras dan hanya sebagian terdengar penonton, itupun terpotong-potong karena bisingnya tawa Wisang Geni yang seperti puluhan kera meracau. Wisang Geni marah juga malu dan tak mau ucapan kotor musuhnya itu didengar para muridnya. Dia sengaja tertawa lebih keras.

      Arjapura melancarkan hinaan dan provokasi. “Aku akan membunuhmu, mayatmu kupotong-potong, lalu kutebar ke pelosok tanah Jawa, anak-anakmu kucincang, semua isterimu kutawan dan kuperkosa bergilir sampai aku bosan baru kubunuh. Dendamku sedalam lautan, akan kubuat kamu mati penasaran. Lihat aku, tatap mataku, pengecut!”

      Gayatri dan Atis serta para murid menyaksikan tarung dengan berdebar-debar. “Dia menggunakan sihirnya, ucapan dan makian kotornya untuk memecah konsentrasi mas Geni.” Teriak Gayatri dengan suara parau saking marah dan tegangnya. Dia tidak bisa mendengar ucapan kotor Arjapura karena tertutup tawa kera suaminya namun dia bisa membayangkan makian kotor itu pasti menyangkut dirinya ketika dia ditawan. Darahnya bergolak, Gayatri marah besar.

      “Aku tak perduli kehormatan dan tatakrama kependekaran, jika mas Geni terancam, aku akan masuk tarung, kubunuh penjahat cabul itu!” Suaranya tegang penuh kebencian. Para murid Lemah Tulis yang mendengar, merasa merinding.

      Wisang Geni telah memainkan enam jurus prabanarawata manarawang hanggempung (sinar memancar menembus pandang gelap), tambung hanging humawah (tidak melihat tapi merasa), wulangun humadhemmi carumuka (jatuh cinta membunuh musuh), rumaras sapudhendha rumuwek martana (merasa marah mencakar kehidupan), mangrawis guthaka lawa (cakar goa kelelawar), manarang manambayang majatha (menggantung ditempat tinggi melayang menggigit). Enam jurus yang telah menjadi satu.

      Sampai duapuluhan jurus konsentrasi Wisang Geni tidak terganggu, dia berhasil meredam sihir lawan. Tidak sekalipun menatap mata musuhnya, pandangan berkisar pada dada dan kaki musuh, ucapan dan makian kotor musuh dihadapinya dengan tawa kera. Serangannya juga mulai mendesak musuh.

      Namun memasuki jurus empatpuluh Arjapura mulai melancarkan serangan dari kumpulan warisan sang guru siluman gunung putih. Jurus dingin membeku menuju nirvana, pijar api neraka membakar bumi, bunga-bunga mengharumi bidadari dan bunga salju tak mampu padamkan birahi. Semuanya mengutamakan bobot sihir.

      Perubahan ini seketika mengubah perimbangan, sedikit demi sedikit Wisang Geni mulai terdesak, konsentrasinya mulai pecah, makian kotor terhadap Gayatri mulai merusak irama tawa kera. Dua kali pukulan racun kalajengking biru nyaris menerpanya. Makian kotor Arjapura terhadap Manohara dan Prawesti yang mati terbunuh memengaruhi konsentrasi Wisang Geni membuat gerakannya menurun.

      Keadaan Wisang Geni kritis bagaikan di tepi jurang, pukulan lawan telah mengurung dan mengunci gerakannya. Tahu dirinya kritis dia mengerahkan seluruh tenaga menyerang dengan tambung hanging humawah (tidak melihat tapi merasa) jurus andalan lalawa sambil memejam mata.

      “Tasss…” Bunyi tepukan dua tangannya dari kepak lalawa berlanjut dengan gempuran dua tangan bergantian saling susul menyusul kedepan, terjadi benturan pukulan dengan sodokan Arjapura menimbulkan suara keras macam dentuman beduk raksasa. Wisang Geni lolos dari situasi kritis. Tetapi beberapa saat kemudian terdesak lagi, semakin kritis.

      Gayatri gelisah di pinggiran. “Kurasa musuh mulai menyerang dengan jurus-jurus dari iblis gunung putih, sihirnya keras. Kita harus berbuat sesuatu.” Kebenciannya kepada Arjapura berlipat ganda, ingat akan perlakuan penjahat itu kepadanya.

      Gayatri sedang berpikir untuk menolong suaminya tetapi dia belum menemukan cara yang paling tepat dan jitu. Para murid tak tahu harus berbuat apa, hanya menyaksikan dengan tegang dan jantung yang berdebar keras.

      Makian kotor dan jorok Arjapura semakin menguasai tarung, tawa kera tak sanggup lagi membendung maki-makian yang tidak saja menista Gayatri, Manohara, Prawesti juga Eyang Sepuh Surayajagad. Banyak makian kotor dialamatkan pada Eyang Sepuh Suryajagad membuat konsentrasi Wisang Geni terbelah, tawa kera semakin melemah.

      Namun disebutnya Eyang Sepuh dengan makian kotor itu melecut pikiran Wisang Geni yang spontan menyanyikan kidung jurus penakluk raja. Perlahan-lahan suara dan syair mulai mengimbangi desakan sihir Arjapura.

 “Ilmu dari seberang, tak boleh tepuk dada, di tanah Jawa ini. Dari gunung Lejar, jurus penakluk raja, ilmu dari segala ilmu. Dari lembah kera, jurus Lalawa mengepak sayap menembus awan. Melenggang ke barat, meluruk ke timur, merangsak ke utara, merantau ke selatan. Tak ada lawan, tak ada tandingan, ilmu dari segala ilmu.”

      Dalam keadaan terdesak ingatan kepada Eyang Sepuh membuat gerak menunggang angin makin lancar, ingatan kepada guru lalawa menggerakkan lalawa mengepak sayap menembus awan, semakin lancar dan berbobot.

      Sambil mengerahkan tenaga wiwaha Wisang Geni berkidung sambil memainkan “jurus penakluk raja” menyerang menangkis, memukul menghindar, melompat melayang.

      Memasuki lirik ”dari gunung Lejar jurus lalawa mengepak sayap menembus awan” seakan guru Lalawa muncul dan berbisik padanya, ”muridku kamu tidak boleh lari dari masalah, hadapi dan atasi masalahmu!”

      Seakan mendengar bisikan Eyang Sepuh, “rasakan angin, rasakan sihir lawan, pikiranmu lebih cepat dari angin, harus lebih cepat, maka kamu akan lebih cepat dari sihir musuhmu. Fokus, fokus pada musuhmu, matamu menatap matanya tetapi pikiranmu lebih cepat dari pikirannya, bunuh dia dengan pikiranmu.”

      Pada saat itu Gayatri bersiap menerjang masuk tarung, dia sedang membangun semangat dan tenaga dalamnya. Tetapi dia batal bergerak karena mendengar Wisang Geni tertawa terbahak-bahak, bukan tawa kera, melainkan tawa biasa namun dilepas dengan tenaga-dalam.

      Arjapura girang memastikan sihirnya telah menguasai pikiran musuhnya dan musuhnya itu memasuki taraf kegilaan. Dia menambah bobot sihir dan serangan, makin mematikan. Dipinggir arena, penonton mengira Wisang Geni mulai gila terpengaruh sihir musuhnya.

      Gayatri teringat kehebatan sang suami yang selalu menemukan cara memenangkan tarung di tengah desakan musuh. Perubahan tawa itu sesuatu yang baru. “Hebat! Mas Geni ganti mendesak. Lihat dan perhatikan!” Ujar Gayatri bersemangat.

      Masih tertawa seperti orang gila, Wisang Geni telah mengubah strategi, dia berseru lantang, “baik guru, aku tantang matanya, kudengar kata-kata kotornya, aku tidak takut.”

      Wisang Geni tahu ini fase hidup atau mati, menang atau kalah. Dia nekat menatap mata musuh yang bagaikan dua bola matahari panas yang membakar dirinya. Tubuhnya terasa panas, terbakar. Kolam air panas di lembah kera sangat  panas, tetapi sinar mata musuhnya tak kalah panasnya. Tak mau lari dari mata lawan, Wisang Geni membiarkan tubuhnya terbakar, kini memainkan jurus lalawa lebih leluasa dan mulus.

      Telinganya kini tidak mendengar ucapan dan makian kotor Arjapura, justru dia seakan mendengar bisikan ibunya semasa kecil. “Ibu sayang kamu, ibu tak akan mau menukar kamu dengan seisi dunia dan kekayaan berlimpah, kamu sangat berarti bagi ibu.”

      Ingatan pada ibunya, bisikan dan elusan ibunya bagaikan gunung es yang memadamkan panas membara akibat sihir Arjapura. Tanpa sadar Wisang Geni berbisik lirih yang hanya bisa didengar telinganya sendiri. “ibu aku juga sayang kamu, ibu tolong putramu ini.” Lalu dia berteriak-teriak memanggil “ibu… ibu…”

      Arjapura tertawa. “Panggil ibumu, biar kuperkosa bersama-sama isterimu.” Sambil pendekar Himalaya ini menyerang gencar.

( Bersambung Bab 19 bag 2)

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com