Wisang Geni part Two Bab 19 bag 2

Posted on 20 Agustus 2014 ( 0 comments )


Bab 19 bag 2

      Arjapura tertawa. “Panggil ibumu, biar kuperkosa bersama-sama isterimu.” Sambil pendekar Himalaya ini menyerang gencar.

      Wisang Geni terdesak, tetapi Arjapura belum juga mampu memukulnya.

      Saat Prastawana dan teman lain hendak maju, Gayatri berbisik, lirih tapi jelas. “Tunggu, lihat mas Geni mengubah cara tarungnya.”

      Keadaan mulai berubah. Beberapa kali benturan tangan. “Dassss…. Dasss.. Dasss..”

      Kini Wisang Geni mendesak hebat, kidung penakluk raja terutama lirik ”dari gunung Lejar, jurus penakluk raja, dari lembah kera, jurus lalawa mengepak sayap menembus awan, tak ada lawan, tak ada tandingan, ilmu dari segala ilmu” diulang-ulang mulai menindih sihir musuhnya. Adu tenaga-dalam melalui suara, Wisang Geni dengan kidungnya dan Arjapura dengan kata-kata joroknya.

      Pancaran sihir dari mata Arjapura tak lagi berpengaruh, karena Wisang Geni melihat wajah ibunya yang tersenyum dan berbisik “Anakku Geni kamu harus menang, dalam tiap tarung kamu harus menang, untuk itu kamu harus membunuh”.

      Wisang Geni menyerang gencar mendesak Arjapura sehingga musuhnya itu bernafaspun sulit. “Inilah warisan dari Eyang Surayagad dan guru Lalawa, ilmu dari segala ilmu. Rasakan hebatnya.” Serunya. Lalu menambahkan. “Perintah ibu kepadaku, agar membunuh kamu! Tak ada ampun, kamu harus mati!”

      Suara Wisang Geni menggema kemana-mana.

      Arjapura mengempos segenap tenaga dalamnya, memainkan sihir dan jurusnya lebih gencar. Sesaat kekuatan imbang lagi. Tapi hanya sementara.

      Memasuki seratus jurus setelah hampir satu jam bertarung ketat, tenaga wiwaha menampak kekuatannya, makin panas, makin dingin dan makin bergelombang. Tenaga ini tak pernah habis, seakan tak ada ujung, seperti pesan pendekar lalawa enam jurus jadi satu gerak sinambungan, tak ada awal tak ada akhir. Jurus ini tak ada tandingan.

      “Jurus ini tak ada awal, tak ada akhir, tak ada ujung, tak ada tandingan, ilmu dari segala ilmu.” Teriaknya dengan suara menggelegar, tiap kata bagai gerungan raksasa marah.

      Beberapa kali Arjapura menghindar bentrokan tahu kekuatannya menurun sedangkan tenaga lawan makin dahsyat. Wisang Geni mengembang dua tangannya lalu menutup ke dalam, “tasssss….” Tepukan dua tangan itu memekak telinga, dia menggenjot kakinya dan melayang. Jurus pamungkas manarang manambayang majatha (menggantung ditempat tinggi melayang menggigit) meluruk ke Arjapura.

      Gayatri berseru. “Mampuslah kamu penjahat! Mas, bunuh penjahat itu!”

      Prastawana yang tak pernah berkedip sedetikpun, menyaksikan jurus pamungkas itu, spontan teriak, “lihat jurus pamungkas guru!”

      Para murid seakan mimpi mendengar teriakan Gayatri dan Prastawana. “Benarkah?”

      Arjapura terkesiap, semangatnya seakan terbang. Tapi dia juga menghantam dengan tenaga berlipat ganda sambil berteriak marah, “mati kamu!”

      Kejadian berlangsung cepat, belum juga suara-suara para murid mereda, terdengar benturan tenaga. Tiga kali. “Dassss… dassss….dassss….….”

      Arjapura goyah. Dia merapal tenaga dan sihirnya yang paling kuat dalam jurus mematikan yang merupakan jurus menang dan hidup! Atau kalah dan mati!

      Benturan keempat, ini klimaks dari tarung pamungkas itu. “Daaasssss….”

      Tenaga wiwaha bergelombang membanjir keluar bagai air bah menyapu daratan, menyapu-bersih apa saja di depan. Tenaga dahsyat itu, dari yang pertama, meningkat, dan meningkat sampai pada benturan ketiga. Sebaliknya tenaga Arjapura menurun dari pukulan pertama ke yang tiga, akhirnya melemah pada benturan keempat, benturan terakhir. Sihir dan pukulannya membal balik menghantam isi tubuhnya.

      Tetapi karena kuatnya fisik dan tenaga-dalamnya, dia tidak langsung mati.

      Arjapura sempoyongan mundur sambil muntah darah segar. Berulangkali.

      Tujuhkali muntah darah, lalu terduduk, lemas, mata mendelong tidak percaya bahwa dia kalah. Dia melotot menatap Wisang Geni dengan penuh kebencian. Sinar matanya meredup. Masih melotot tetapi tak ada lagi kehidupan. Dia belum mati tetapi sekarat.

      Semua penonton dan para murid merasa lega.

      Saat itu Gayatri berlari melayang menghampiri Arjapura yang terkapar di tanah.

      Gayatri berdiri terpisah satu meter dari tubuh lelaki yang telah merusak kehormatannya. Dia tertawa keras. Kemudian batuk-batuk mengumpul riak dalam mulutnya lalu meludah. Ludahnya yang kental menghantam mata kiri Arjapura yang bola matanya langsung pecah, mengeluarkan darah kental dan lendir putih.

      “Kamu mengambil banyak dari tubuhku, seharusnya aku sudah mati, tetapi karma masih memihak padaku sehingga bisa hidup dan sekarang berdiri di depanmu menyaksikan kematianmu.” Gayatri menendang tubuh laki-laki yang telah merusak hidupnya, tendangan menggunakan seluruh tenaga-dalamnya. “Mampus kamu!” Teriaknya keras.

      “Buuukkkkk!”

      Tubuh Arjapura melayang, teriakannya mengguntur. “Aaakhhhhhh!” Dia mati saat tubuhnya masih melayang di udara.

      Gayatri menangis sejadi-jadinya, lalu memeluk suaminya.

      “Dia sudah mati, kamu membunuhnya, kamu puas sekarang?” Kata Wisang Geni.

      Gayatri mengangguk, tetap memeluk suaminya. “Aku puas Mas. Tendanganku itu membawa semua deritaku. Semua sakit hatiku terlepas dari tubuhku. Aku puas. Terimakasih, suamiku, junjunganku, aku mencintaimu Mas.” Dia menangis.

      Diantara kelompok penonton tampak seorang berpakaian jubah panjang longgar warna hitam. Dia mengenakan kerudung yang menutupi wajah dan kepala hingga ke lehernya. Seluruh tubuhnya tertutup jubah dan kerudung, hanya tampak sepasang mata mengintai dari dua lubang di kerudungnya.

      Tidak terlihat kepada siapa orang bertopeng itu berpihak. Namun beberapa kali dia mengeluarkan suara keluhan pada saat Wisang Geni dalam keadaan terancam.

      Ketika tarung usai dan Wisang Geni memeluk Gayatri, orang bertopeng mendengus seperti kesal. Saat berikut dia bergerak, begitu pesatnya seakan menghilang dari tempatnya berdiri. Cepat dan bertenaga, membuat penonton sekitarnya terdorong mundur.

      Malam itu di rumah penginapan, Wisang Geni dipijit dua isterinya.

      “Kangmas, besok pagi kami berdua pergi menemui Sekar, tempatnya kamu tak perlu tahu. Perjalanan ke rumah Sekar, dua hari, kami tinggal di sana tiga malam, jadi hanya tujuh hari. Ijinkan kami, iya Mas.” Bujuk Gayatri.

      “Tujuh hari, setelah itu kalian kembali padaku.” Kata Wisang Geni. “Aku tunggu kalian di sini, sambil aku latihan dengan muridku.”

      Pagi keesokan harinya Gayatri berdua Atis berkuda mengarah Timur. Agak jauh dibelakangnya si jubah hitam bertopeng mengikuti. Kudanya melangkah perlahan, tak mau mendekati kuda putih Gayatri yang melangkah santai.

      Mungkin karena kudanya jalan perlahan, si jubah hitam mengantuk. Dia berbisik kepada kudanya. “Jalan terus ke Timur, jalan perlahan.” Tak lama kemudian dia tertidur sambil merangkul leher kuda. Tampaknya sudah beberapa hari tidak tidur.

      Matahari berada di puncak ketinggian, panas sangat terik. Si Jubah Hitam terjaga, dia memandang keliling. Hutan sepi. Gayatri dan Atis, yang dibuntutinya tidak ada lagi di depan. “Bodoh. Aku tidur macam orang bodoh. Akibatnya aku tertinggal si Gayatri. Mereka berdua ke Timur, tetapi kemana tujuannya?” Gumamnya sendirian.

      Dia melecut kudanya. Tak berapa lama dia tiba di warung pinggir jalan besar.

      Setelah memesan dan menenggak air kelapa muda, dia bertanya kepada pelayan yang juga pemilik warung. ‘Bapak melihat dua wanita menunggang kuda lewat?”

      “Kuda putih dan coklat? Sudah lama tadii. Mereka minum kelapa muda, membayar dengan uang lebih, katanya untuk minum air kelapa lagi dalam perjalanan pulang.”

      “Tidak mungkin terkejar, mungkin mereka mengubah arah, masuk hutan dan turun ke Selatan, sebaiknya aku tunggu di sini, mereka pasti akan lewat desa ini karena akan berkumpul dengan rombongan Lemah Tulis.” Berpikir demikian dan untuk menghilangkan kecurigaan pemilik warung dia berkata. “Aku pengawal mereka tapi secara diam-diam. Karena tidak tahu tujuan mereka, sebaiknya kutunggu disini.”

      Dia memesan kamar, membayar dengan uang untuk menginap tiga hari. “Pak beritahu aku jika dua majikanku mampir istirahat disini. Mungkin paling lama dua atau tiga hari lagi.” Dia memberi uang persenan. “Jangan sampai kelewatan, bangunkan aku secepatnya.”

      Dia masuk kamar. Istirahat di pembaringan. Udara panas terlebih dalam kamar yang tertutup rapat. Dia melangkah dan memasang palang pintu, balik ke pembaringan. Melepas jubah dan kerudungnya serta kebaya dan celana selutut. Tinggal hanya cawat dan kutang. Tampak tubuhnya yang kuning sawo, cantik dan seksi.

Sekar sedang berendam, pelayan memandikannya. Dia terlena kenikmatan sejuknya air, dipijit dan dielus-elus pelayannya. Dia hampir pulas ketika mbok Suti berbisik. “Ndoro, ada dua wanita cantik mau ketemu. Katanya sahabat, yang seorang namanya Gayatri.”

“Gayatri. Oh pasti berdua Atis.” Kata Sekar yang malas-malasan bangkit, keluar dari bak mandi. Pelayan sibuk mengeringkan tubuhnya yang basah. Sekar lalu melangkah ke ranjang besar yang kosong. Samba sedang berlatih silat di tepi pantai.

“Dandani aku, mbok.” Kata Sekar sambil merebah telentang di ranjang. “Aku mau tampil cantik, dandanan dan perhiasan yang terbaik, yah mbok.”

Gayatri dan Atis terpesona keindahan rumah. Ruang tamu itu luas, beberapa kursi besar terhampar diatas karpet Persia di ruang tengah. Delapan guci besar dan kecil ukiran dari Cina diatur rapi di pojokan. Di dinding kayu yang dipernis mengilat, tergantung beberapa karpet beludru yang bergambar. Antara lain, karpet Persia bergambar sepasang singa, karpet Kuangchou bergambar naga.

Pelayan separuh baya itu duduk bersimpuh dekat kursi yang besar dan empuk. Ada sofa besar seperti amben yang dialas karpet halus. Mereka ngobrol ketika Samba muncul di ambang pintu serambi belakang.

Gayatri dan Atis melihat seorang lelaki usia empatpuluh, tinggi langsing dengan tubuh berotot, kulitnya kuning sawo mengilat oleh keringat yang masih mengucur dari wajah dan lehernya. Rambutnya ikal sepanjang bahu diikat dibelakang leher. Dia mengenakan celana kuning sebatas lutut. Dada telanjangnya tampak bidang dihiasi rambut hitam memanjang selajur dari bawah leher sampai ke pusarnya.

Samba memberi hormat tetapi tidak mendekat. Terpisah sepuluh meteran.

“Dia Samba. Tampan dan jantan.” Begitu komentar bisik-bisik dua wanita itu ketika Samba menghilang di balik pintu besar.

“Dia Paduka Raden, suami Ndoro Putri,” Mbok Kuncup menjelaskan lalu berkata dengan sopan, “silahkan diminum tehnya. Tuaknya segera Mbok ambilkan.”

Tanpa segan mereka menyesap teh hangat yang wangi dan manis. “Enak,” Kata Atis.

Terdengar suara merdu. “Gayatri, sahabatku datang dari jauh.”

Sekar dengan pakaian seronok, sewek sebatas lutut yang diikat bawah pusar, ketat membungkus paha dan pinggulnya yang berisi. Kebaya tanpa lengan. Paras berseri, mulut dengan bibir tebal yang dicat merah, tampak seksi tersenyum. Hiasan anting emas panjang bergelayut di dua telinganya dan kalung emas melingkar di lehernya yang jenjang, dengan leontin bermata berlian yang terjepit dibelahan dada.

Dua wanita itu terdiam bagai patung saking terpesona kecantikan liar sahabatnya. Dari seorang pendekar yang biasa berbaju lusuh terkadang dihiasi tambalan dan paras yang selalu berdebu. Kini menjelma bagai putri-putri bangsawan, cantik seksi dan kemayu.

Sekar mendekat sambil tersenyum.

“Benarkah kamu Sekar,” teriak Gayatri.

Pertemuan itu langsung meriah. Kedua wanita itu bergantian memeluk Sekar yang tubuhnya menguar wewangian bunga.

“Tubuhmu wangi mbakyu?” Seru Atis.

“Wangi-wangian dari Persia.” Sahut Sekar yang kemudian menoleh memandang sahabatnya. “Gayatri oh kamu dari Jedung, bagaimana tarungnya, Arjapura mati?”

Gayatri tertawa, masih merasakan kepuasan. “Mas Geni melumpuhkan dia, terkapar di tanah. Kuhampiri, kuludahi matanya, memakinya dan kutendang sekuat tenaga-dalam yang kupunya. Aku yang membunuh penjahat itu, ohhh Sekar, betapa puasnya aku.”

Sekar memeluk lagi Gayatri, mengelus-elus kepalanya. “Sudah beres, sakit hatimu sudah terusir dari hatimu, adikku kini jalani hidupmu dengan tenang dan damai.”

Gayatri menangis. “Banyak kebaikanmu padaku, mbakyu Sekar. Aku tak pernah lupa kebaikanmu dan kasih sayangmu.”

Sekar menuntun Gayatri ke amben besar yang dialas karpet beludru. Dia baru saja duduk, ketika Atis menubruk kakinya dan mencium kakinya.

“Jangan! Atis jangan! Apa yang kamu lakukan?” Sekar terkejut dan tak bisa menggerak dua kakinya karena terhalang kepala Atis. Wanita muda itu menciumi punggung kaki Sekar dengan tangis memilukan.

“Mbakyu ampuni aku. Aku mohon ampun, aku jahat, aku membuat kamu pergi dari suamimu, kelakuanku buruk. Aku menyesal, ampuni aku.”

 Sekar terharu. Dia memegang pundak Atis. “Berdirilah Tis, kamu tidak bersalah, itu urusan aku dan Wisang Geni. Aku justru bahagia sekarang.”

Atis masih mencium kaki Sekar. “Katakan, kamu mengampuni aku, katakan kamu akan perlakukan aku seperti dulu, menyayangi aku seperti dulu.”

Sekar menarik tubuh Atis. Tetapi perempuan muda itu tak mau berdiri, dia menelungkup di paha Sekar. “Katakan mbakyu, katakan mbakyu.”

“Aku mengampuni kamu Atis.” Suara Sekar mengandung rasa haru.

Sesaat Sekar sadar, semuanya permainan karma. Kesalahan ada pada Wisang Geni, tetapi perbuatan buruk suaminya itu telah melempar dirinya ke pelukan Samba. “Aku telah mendapatkan Samba sebagai suami yang sangat cocok dengan idamanku. Aku bahagia. Atis tidak bersalah, mengapa aku menghukumnya?”

Pelayan datang membawa nampan, berisi teko besar dan tiga gelas.

“Kalian musti coba minuman khas ini, susu kambing campur tuak, pasti kalian doyan dan ketagihan.” Sekar menuang minuman putih agak kental itu ke gelas.

Dua wanita ini mencicipi dan memuji.

Mereka ngobrol lama. Gayatri dan Sekar banyak bercerita masa-masa lalu.

“Kamu berubah mbakyu, menjadi lincah, gembira, parasmu berseri-seri. Kamu lebih cantik, kulitmu putih bersih. Kamu hidup bagai dewi-dewi, pelayan melayanimu. Apakah kehidupan ini yang kamu cari selama ini?” Atis bertanya ingin tahu.

Sesaat Sekar ragu kemudian berkata. “Terus terang saja, empat tahun lalu aku pernah bimbang ketika Mahamenteri Kediri niat memboyongku ke istana dikawinkan dengan Samba adiknya. Samba juga membujuk aku.”

( Bersambung Bab 19 bag 3 )

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com